BROMANCE

BROMANCE
Bab 26


__ADS_3

Kai duduk di kursi roda menatap ujung lorong rumah sakit, lalu ia memutar panel. Kursi roda bergerak sendiri menyusuri lorong rumah sakit.


Di ujung lorong Kai menghentikan laju kursi rodanya. Tatapannya lurus ke arah Jeni yang memegang beberapa dokumen dengan langkah tergesa gesa tanpa melihat ke arah Kai. Tiba tiba dokumen yang di pegang Jeni terjatuh tanpa Jeni sadari.


Kai memperhatikan punggung Jeni hingga hilang dari pandangan. Kemudian ia menggerakkan kembali kursi roda mendekati tempat jatuhnya dokumen milik Jeni, kemudian Kai mengambilnya dan meletakkan dokumen itu di pangkuannya.


Tak lama seorang suster menyapa Kai dari belakang dan bertanya hendak pergi kemana. Kai meminta suster mengantarkannya ke taman rumah sakit.


Suster tersebut mengangguk lalu ia mendorong kursi roda menuju sebuah taman. Sesampainya di taman, suster tersebut kembali bekerja.


Sementara Kai menatap dokumen di pangkuannya lalu menarik napas panjang. Perlahan ia membuka dokumen di pangkuannya dan membukanya. Mata Kai melebar saat tertera satu nama 'Reinz'. Kai mencoba membaca isi dokumen itu namun ia tidak mengerti sama sekali.


"Reinz? Apakah dia sakit? Atau apa?" Tanyanya bingung harus bertanya pada siapa.


"Tapi, kalau aku bertanya pada suster lain rasanya tidak baik. Dokumen ini milik Jeni, aku harus mengembalikan dan bertanya padanya." Gumam Kai.


Kai menggerakkan kembali kursi rodanya. Tak lama ada suster lain yang membantunya ke ruangan. Namun Kai meminta suster tersebut untuk mengantarkannya menemui Jeni di ruangannya.


Sesampainya di dalam ruangan, Jeni sedang sibuk mencari dokumennya yang hilang.


"Apakah ini yang kau cari?"


Jeni menoleh ke arah Kai yang sudah berada di belakangnya seraya menyodorkan dokumen.


"A, apa?"


Jeni mengambil dokumen di tangan Kai, lalu membukanya dan ia menarik napas lega karena dokumennya tidak hilang. Jeni mengalihkan pandangannya ke arah Kai, menatap tajam.


"Kau dapatkan dokumenku di mana?" Tanya Jeni.


"Reinz, ada apa dengan Reinz?" Kai balik bertanya.


"Tidak, dokumen ini bisa ada di tanganmu?" Jeni bertanya untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"Jawab dulu pertanyaanku, ada apa dengan Reinz?" Kai memegang tangan Jeni erat.


"Ah itu.." Jeni mengalihkan pandangannya lalu berjalan dua langkah ke depan menghindari tatapan Kai.


"Jawab," pinta Kai.


"Ini bukan Reinz, sahabatmu. Bukankah ada banyak nama Reinz?" tanya Jeni mengalihkan pembicaraan.


Kai terdiam sejenak, menundukkan kepalanya.


"Ya, tapi tidak ada nama Reinz selain Reinz ku," jawab Kai.


"Reinz, mu?" Jeni tersenyum miring.


"Ya..." sahut Kai.


"Ada apa?"


"Kakak?" Ucap Jeni dan Kai bersamaan.


"Kai, kakaknya Reinz kecelakaan." Kata Jimi.


"Apa?" Kai terkejut mendengar kabar buruk tentang Arkanza.


Jimi menganggukkan kepalanya.


"Antarkan aku ke sana kak, aku ingin melihat kak Arkanza." Pinta Kai.


"Baiklah!" Sahut Jimi lalu berjalan menghampiri kursi roda dan mendorongnya keluar dari ruangan Jeni.


"Ada apa?" Tanya Sojin menatap ke arah Jeni.


Jeni menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa ini?" Sojin menatap dokumen di tangan Jeni lalu merebutnya.


"Kak!" Jeni hendak mengambil lagi dokumen di tangan Sojin.


"Bukankah dokumen ini yang barusan kalian bicarakan?" Sojin menepis tangan Jeni lalu membuka dokumen tersebut.


"Hasil tes DNA?" Sojin mengalihkan pandangannya, menatap tajam Jeni sekilas lalu melanjutkan membaca isi dokumen itu.


"Reinz??" Mata Sojin melebar, melirik ke arah Jeni.


Jeni menganggukkan kepalanya, lalu duduk di kursi.


"Apakah itu artinya?" Sojin berjalan mendekati Jeni, menyentuh pundaknya.


"Hasil tes itu menunjukkan kalau Reinz...?" Jeni tidak melanjutkan ucapannya.


"Adikmu?" Tanya Sojin.


Jeni tengadahkan wajah menatap ke arah Sojin cukup lama. Bayangan masa kecilnya terlintas di benak Jeni.


"Bagaimana caramu menjelaskannya?" Tanya Sojin.


Jeni menundukkan kepalanya, menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau kau butuh bantuanku, katakan saja." Kata Sojin seraya meletakkan dokumen di atas meja. "Apakah Kai tahu?"


Jeni menggeleng cepat.


"Hampir, tapi aku yakin. Kai akan terus mempertanyakan soal isi dokumen ini lagi." Kata Jeni.


"Kau akan menemukan adikmu yang lain, segera..." ucap Sojin membesarkan hati Jeni, lagi lagi Jeni hanya menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, kak."

__ADS_1


__ADS_2