
"Hahahahaha!"
Seorang pria tertawa terbahak bahak memperhatikan seorang wanita paruh baya tengah berguling guling di lantai menahan rasa sakit di tubuhnya. Wanita itu memohon kepada pria tersebut untuk di berikan obat obatan terlarang yang selama ini di konsumsinya.
"Aku mohon...berikan aku pil itu.." ucap wanita yang bernama Linhua.
Namun pria itu semakin menikmati dan menganggap kesakitan wanita itu sebagai pertunjukkan.
"Albert..berikan aku satu butir lagi..kumohon." Linhua terus memohon dan merangkak mendekati Albert.
"Aku akan memberikanmu obat lagi, tapj jangan coba coba kau melarikan diri." Kata Albert.
Linhua mengangguk cepat, "baiklah, aku berjanji tidak akan kabur lagi."
"Bagus, setelah itu kau layani semua tamu tamuku, kau paham?!" Albert menarik rambut Linhua dengan kasar.
Linhua mengangguk cepat. Albert pun tersenyum puas, menghempaskan kepala Linhua lalu berdiri tegap dan memerintahkan anak buahnya untuk memberikan Linhua obat.
__ADS_1
Albert melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, memperhatikan Linhua dari balik kaca jendela. Dua puluh tahun sudah, Albert menyiksa, mengurung, memperlakukan Linhua seperti binatang. Namun kebenciannya tidak pernah terpuaskan. Tiap kali bayangan putri satu satunya terlintas di benaknya. Albert akan menyiksa Linhua tanpa ada rasa belas kasih. Albert mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia melihat anak buahnya menghampirinya.
"Tuan, ada kabar buruk."
"Kabar buruk?" Tanya Albert.
"Mari tuan.."
Albert berjalan mendahului anak buahnya. Mereka berdua meninggalkan ruangan tempat penyekapan Linhua.
Selama ini Linhua sudah menanggung banyak penderitaan. Berkali kali ia melakukan percobaan bunuh diri, namun usahanya selalu berhasil di gagalkan karena ia sendiri di kelilingi anak buah Albert untuk menjaganya supaya tidak melarikan diri.
Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Selain penderitaan fisik, Linhua menyimpan kenangan tentang keluarga kecilnya. Ia di pisahkan dengan anak dan suaminya. Sejak saat itu, ia tidak pernah melihat dunia luar ataupun keluarganya lagi. Hanya penderitaan yang ia dapatkan. Andai Linhua tahu, cinta yang ia punya akan membawa petaka. Mungkin ia memilih untuk tidak mencintai.
Air mata mengalur deras di pipinya, saat mengenang semua masa lalunya. Namun anak buah Albert tidak membiarkannya sedikitpun tenang. Ia kembali di paksa melayani napsu teman temannya Albert.
Sementara Albert yang mendapatkan kabar buruk tentang Beby. Ia sangat marah dan semakin dalam kebenciannya terhadap Reinz.
__ADS_1
Albert menatap sedih cucunya yang terbaring lemah diatas tempat tidur. Cucu satu satunya yang ia sayangi, ia rawat sejak bayi. Bahkan Beby tidak tahu kalau Albert bukanlah papa nya, melainkan kakeknya.
"Lenyapkan anak muda itu, jangan biarkan cucuku menemuinya lagi!" Perintah Albert kepada anak buahnya.
"Siap tuan!" Sahut mereka.
"Soal Reinz, serahkan padaku." Seorang pria muda maju ke depan, menghadap Albert.
"Niko, aku percaya padamu." Kata Albert menatap pria muda yang bernama Niko, pria yang selama ini menyukai Beby tapi selalu mendapatkan penolakan.
Niko mengangguk cepat, sambil menepuk dadanya.
"Dalam waktu 24 jam, anda akan mendapatkan kabar kematian Reinz." Ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.
Albert menepuk bahu Niko, lalu ia beranjak pergi dari hadapan mereka.
"Bersiap siaplah Reinz, aku akan mempermudah jalanmu menuju kematian." Gumam Niko.
__ADS_1