
"Apakah kau memikirkan Kai?" Tanya Arkanza mengejutkan Reinz yang sedang melamun duduk di sofa ruang tamu.
Reinz menoleh lalu berdiri berhadapan dengan Arkanza.
"Tidak kak, aku sudah berjanji untuk melupakannya," jawab Reinz sambil menggaruk ujung hidungnya yang mancung.
Arkanza tersenyum dan menundukkan kepala sesaat, ia tahu kalau Reinz berbohong.
"Aku tidak melarang kau bersahabat dengan Kai.." ucap Arkanza.
"Terima kasih..tapi, keputusanku sudah bulat," jawab Reinz.
Arkanza membujuk Reinz lagi, ia tidak mau kalau adiknya menjadi sedih dan murung.
"Temui Kai.."
Reinz kembali menggelengkan kepalanya.
"Tidak kak.." jawabnya pelan.
Arkanza menarik kepala Reinz lalu mencium keningnya dengan segenap perasaan yang ia miliki.
"Aku mencintaimu!" Ucap Arkanza seraya mengedipkan mata kirinya pada Reinz.
"Ahh kakak!" Reinz tersenyum lebar seraya memalingkan wajahnya tersipu malu.
"Pergilah.." sekali lagi Arkanza meminta Reinz untuk kembali menemui Kai.
Reinz menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi meninggalkan Arkanza. Namun baru saja sampai halaman rumah hendak masuk ke dalam mobil, Reinz melihat kedatangan Beby, raut wajahnya terlihat pucat.
"Reinz!" Sapa Beby berlari kecil menghampiri Reinz.
Reinz membuang muka sambil menutup pintu mobilnya lagi.
"Ada apa kau datang kesini?" Tanyanya. "Apa kau mau meminta tanggung jawabku?"
Beby terdiam sejenak.
"Tidak, ada hal lain yang ingin aku sampaikan." Jawab Beby.
Reinz mengalihkan pandangannya menatap wajah Beby.
"Aku tidak punya waktu bicara denganmu, pergilah!" Reinz mendorong bahu Beby, lalu ia membuka pintu mobilnya.
"Dengarkan aku dulu!" Beby menarik tangan Reinz.
"Pergi!!" Bentak Reinz menepis tangan Beby dengan kasar, hingga gadis itu terjatuh dan mengerang kesakitan.
Reinz tidak perduli, bahkan tidak ingin membantu gadis itu. Namun saat Reinz hendak masuk ke dalam mobil, ia melihat Beby muntah dan tubuhnya lemas hingga jatuh pingsan.
Reinz mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil, ia menghampiri tubuh Beby lalu mengangkat kepalanya.
"Ada apa denganmu? Bangunlah!" Reinz berusaha membangunkan Beby namun hasilnya sia sia, kemudian ia meletakkan tangannya di kening Beby.
"Panas.." ucapnya, lalu Reinz mengangkat tubuh Beby dan menggendongnya. Ia masuk ke dalam mobil dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah sakit.
Reinz memastikan kalau Beby sudah di tangani Dr. Setelah itu ia bergegas pergi meninggalkan rumah sakit untuk menemui Kai.
Sementara Jeni yang melihat Reinz membawa Beby ke rumah sakit lalu pergi begitu saja, membuatnya bertanya tanya. Sedingin dan seangkuh itukah sosok Reinz terhadap wanita? Tapi tidak terhadap Kai. Sikap Reinz berubah hangat, lembut dan penyayang.
Jeni pun menemui Dr Amrina untuk menanyakan kondisi Beby di ruangannya.
"Bagaimana Dok?" Tanya Jeni.
__ADS_1
Dr Amrina meminta Jeni ke ruangannya, lalu mereka berdua berjalan bersama menuju ruangan lain untuk membicarakan kondisi Beby.
"Apakah temanku baik baik saja?" Tanya Jeni.
"Teman Dr, hamil." Ungkap Dr Amrina.
"Ha, hamil?!" Ucap Jeni gugup dan bingung. Setau Jeni, Beby belum menikah.
"Benar, usia kandungannya baru dua minggu." Jelas Dr Amrina.
Jeni terdiam, bertanya tanya dalam hati.
"Dr melamun?" Tanya Dr Amrina menatap wajah Jeni.
"Oh tidak, terima kasih Dok. Aku akan menghubungi keluarga temanku." Kata Jeni lalu berdiri.
"Baik!" Sahut Dr Amrina.
Jeni tersenyum tipis, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Dr Amrina menuju ruangan di mana Beby di rawat.
Jeni berdiri di tepi ranjang menatap wajah Beby terlihat sangat sedih.
"Beby.." sapa Jeni lalu menarik kursi. "Apa kau baik baik saja?" Tanyanya seraya duduk di kursi.
Beby mengalihkan pandangannya menatap wajah Jeni, dengan mata berkaca kaca.
"Aku hamil..."
Jeni menganggukkan kepalanya, "aku tahu."
"Aku..." Beby tidak melanjutkan ucapannya. Bulir air mata mengalir dari sudut matanya.
"Reinz?" Tanya Jeni, tangannya menggenggam erat tangan Beby.
Beby menganggukkan kepalanya.
Jeni tertegun, benarkah Reinz yang melakukannya. Tapi kenapa? Bukankah Reinz sangat membenci wanita? Pikir Jeni.
"Papa mu tau? Reinz juga apakah tahu tentang kehamilanmu?" Tanya Jeni lagi.
Beby menggelengkan kepalanya.
"Tidak!" Sahut Beby.
"Apakah kau akan memberitahu Reinz? Papamu?" Tanya Jeni lagi.
Beby menggelengkan kepalanya lagi.
"Aku mohon padamu, jangan katakan apapun pada Reinz."
"Tapi Beb, Reinz harus tahu.." kata Jeni.
Beby bangun lalu duduk di atas ranjang, menggenggam erat tangan Jeni.
"Aku mohon..rahasiakan ini. Aku tahu Reinz tidak akan suka."
"Tapi?"
"Aku mohon," potong Beby. "Aku akan pergi untuk sementara waktu, sampai bayi ini lahir."
"Bukankah itu akan menjadi semakin rumit?" Tanya Jeni lagi.
Beby menundukkan kepalanya.
"Kalau sampai papa tahu, akibatnya bisa lebih rumit dari yang kau kira." Jelas Beby.
"Apa maksudmu?" Tanya Jeni tidak mengerti.
__ADS_1
"Aku akan menceritakannya tapi tidak sekarang." Kata Beby.
Jeni terdiam sesaat.
"Bagaimana kalau kau tinggal di rumahku? Setidaknya ada yang merawat selama kau hamil." Usul Jeni.
"Boleh?" Tanya Beby.
Jeni menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih!" Sahut Beby.
"Kau tenang saja, aku yang akan mengurus semuanya."
Beby mengangguk pelan, kemudian Jeni beranjak dari kursi dan bergegas keluar dari ruangan.
"Aku tahu kau membenciku, tidak mengapa.." gumam Beby. "Aku tahu tidak akan pernah bisa bersamamu, Reinz."
Beby tidak menduga hidupnya akan seperti ini. Namun rasa cintanya yang besar, dan bayi dalam kandungannya, Beby berjanji akan tetap bertahan dan membesarkan anaknya sendirian.
Tiga puluh menit lamanya Beby menunggu, akhirnya Jeni kembali ke ruangannya.
"Kau bisa pulang hari ini juga, aku akan merawatmu di rumahku." Kata Jeni.
"Terima kasih!"
Jeni menganggukkan kepalanya, lalu ia membantu Beby turun dari atas tempat tidur, kemudian mereka melangkah bersama meninggalkan rumah sakit.
Hanya butuh waktu tiga puluh menit, mereka telah sampai di rumah. Kebetulan, Sojin sedang tidak ada kesibukan. Ia tengah bersantai di ruang tamu membaca koran.
Melihat kedatangan Jeni dan Beby, Sojin terkejut melihat raut wajah Beby terlihat pucat.
"Apakah kau sedang ada masalah dengab papa mu?" Tanya Sojin menatap tajam ke arah Beby.
Beby hanya diam menundukkan kepala. Sementara Jeni menganggukkan kepala dan mengedipkan matanya ke arah Sojin.
Sojin terdiam menatap Jeni cukup lama, ia mengerti lalu mempersilahkan Beby untuk beristirahat.
"Aku lihat kau sangat lelah, sebaiknya istirahat."
"Kalau begitu aku mengantarkan Beby ke kamarnya." Kata Jeni.
Sojin mengangguk, lalu melipat korannya di letakkan di atas meja.
Sementara Jeni mengantarkan Beby ke kamar yang akan ia tinggali.
"Ini kamarmu.." kata Jeni.
"Kamar ini terlalu luas," jawab Beby memperhatikan setiap sudut kamar.
"Tidak masalah, sekarang kau istirahat. Aku akan membawakanmu makan dan obat untukmu." Kata Jeni lalu membantu Beby berbaring di atas ranjang, menyelimuti tubuhnya supaya hangat. Setelah itu ia meninggalkan kamar, menemui Sojin di ruang tamu sebelum memberikan makan dan obat untuk Beby.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sojin.
"Untuk sementara Beby akan tinggal di rumah kita," jawab Jeni.
"Apa kau bercanda?" Tanya Sojin menatap ke arah Jeni yang berdiri di sampingnya.
"Tidak!" Sahut Jeni.
"Apa kau menginginkan pertengkaran antara aku dan Albert?" Tanya Sojin lagi.
"Kelihatannya itu seru," jawab jeni lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Sojin.
Sojin tersenyum samar, menggelengkan kepalanya. Tiba tiba ponselnya berbunyi, Sojin mengambil ponsel di atas meja lalu membuka layar ponsel.
Ia membaca pesan singkat dari Jimi untuk segera menemuinya di tempat biasa mereka bertemu.
__ADS_1
"Ada apa? tumben.." gumam Sojin, kemudian ia memasukkan kembali ponselnya. Tanpa berpamitan pada Jeni, Sojin bergegas meninggalkan rumah untuk menemui Jimi di tempat yang sudah di janjikan.