BROMANCE

BROMANCE
Bab 36


__ADS_3

"Seharusnya kau berpikir dua kali untuk membangkang!" Seru Agatha lalu memerintahkan anak buahnya untuk menenggelamkan Kai ke dalam bak mandi yang berukuran besar yang sudah di penuhi air.


Jimi yang melihat perlakuan kasar sang kakek, tidak terima. Ia protes dan berusaha mencegah, namun usahanya sia sia.


"Jangan ikut campur!" Ucap Agatha marah, menunjuk wajah Jimi. "Seharusnya anak itu mati, tapi kau biarkan dia hidup!"


"Tapi kek, itu namanya pembunuhan," jawab Jimi.


Agatha tersenyum sinis lalu menoleh ke arah Kai yang sudah mulai kedinginann di dalam bak mandi.


"Anak itu pantas mati!"


Jimi menggelengkan kepalanya lalu ia beranjak pergi meninggalkan Agatha. Ia tidak tahan melihat Kai menderita.


"Tinggalkan anak itu!" Perintah Agatha pada anak buahnya. Kemudian ia beranjak pergi di ikuti ketiga anak buahnya dari belakang.


Kai hampir saja mati kedinginan. Ia beruasaha bangun dan keluar dari bak mandi. Ia meringkuk di lantai, bibir dan tubuhnya menggigil. Air terus mengalir dari dalam bak, tak di hiraukan Kai lagi.


"Apa yang salah..mengapa kakek begitu membenci Reinz.." ucapnya pelan. "Aku hanya ingin dekat dengan sahabatku, tidak lebih."


Sementara Jimi, sedang dalam perjalanan untuk menemui Reinz di rumahnya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu siapa yang harus kubela..." gumam Jimi mulai ragu setelah melihat tanda lahir di tubuh Reinz.


Tak lama kemudian ia telah sampai. Jimi keluar dari dalam mobil dan bergegas mendekati pintu rumah Reinz. Baru saja Jimi hendak mengetuk pintu, Reinz sudah lebih dulu membuka pintu rumahnya. Ia terkejut melihat Jimi kembali lagi ke rumahnya.


Jimi terdiam cukup lama memperhatikan wajah Reinz lebam akibat perbuatan anak buah kakeknya.


"Kau lagi.." ucap Reinz.


"Aku datang kesini untuk memperingatkanmu. Jauhi Kai, jangan temui adikku lagi," ucap Jimi tega.


"Apa salahku?" Tanya Reinz, menatap tajam Jimi.


"Gara gara kau, adikku menderita. Gara gara kau juga, adikku di hukum kakekku. Demi kebaikan adikku, juga kau...sebaiknya jauhi Kai!" Tegas Jimi sekali lagi.


"Semua itu karena kau.." ucap Jimi. "Sekali lagi jauhi Kai, jika kau tidak ingin terjadi apa apa padanya."


Reinz terdiam mendengarkan semua tuduhan Jimi. Namun pada akhirnya ia menyerah.


"Baiklah, aku tidak akan menemui Kai lagi."


Setelah memberikan peringatan pada Reinz. Jimi berlalu dari hadapan Reinz. Di sela sela langkahnya, ia menoleh ke arah Reinz berkali kali.

__ADS_1


"Maaf, aku terpaksa melakukan ini. Tapi aku juga tidak ada jalan lain..." gumam Jimi.


Reinz masih berdiri di ambang pintu, lalu ia masuk kembali ke dalam rumah seraya menutup pintu rumah cukup keras.


"Brakkk!"


Reinz berlari keruangan lain di mana terdapat samsak. Ia melampiaskan semua kemarahannya dengan meninju dan menendang samsak tersebut.


"Bagaimana mungkin aku bisa sesayang ini padanya!" Serunya kesal.


"Kenapa aku harus mencintainya, kenapa?!!"


Reinz menjatuhkan tubuhnya ke lantai, lalu berbaring.


"Aku mencintaimu.." ucapnya lirih.


Semua bayangan Kai, saat saat bersamanya. Tertawa bersama, menghabiskan waktu bersama. Semua momen itu bermain main di benaknya.


Beby yang sedari tadi memperhatikan dari balik pintu kamar. Hanya bisa menghela napas dalam dalam.


"Andai kau mencintaiku, semuanya tidak akan serumit ini." Gumamnya, sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Andai kau menerimaku, dan memberikanku ruang untuk mendekatimu..." batinnya, namun tatapannya terus memperhatikan Reinz. Beby khawatir kalau Reinz berbuat hal gila.


__ADS_2