BROMANCE

BROMANCE
Bab 32


__ADS_3

"Seret Linhua!!" Perintah Albert kepada anak buahnya.


"Baik tuan!" Jawab dua anak buahnya serempak, kemudian mereka bergegas keluar ruangan untuk menyeret Linhua di ruang bawah tanah.


Beberapa menit Albert menunggu, akhirnya dua anak buahnya datang membawa Linhua, lalu mereka mendorong tubuh Linhua yang ringkih hingga tersungkur tepat di bawah kaki Albert.


"Kenapa tidak kau bunuh aku saja?" Tanya Linhua, wajahnya tengadah menatap benci Albert.


Albert tersenyum sinis, membungkukkan badan lalu menjambak rambut Linhua.


"Apa kau sudah putus asa?" Tanya Albert menatap tajam wajah Linhua.


"Bukankah jika aku mati, kau puas?" Balas Linhua.


"Tak semudah itu, wanita ******!" Pekik Albert lalu ia tarik tangannya kembali dan berdiri tegap menatap Linhua.


"Bukankah kita sudah impas?" Tanya Linhua. "Kau sudah membunuh suami dan anak anakku."


"Impas kau bilang?"


Albert menarik tangan Linhua supaya berdiri, lalu ia melayangkan tinju ke wajah Linhua.


"Bukk!!"


Tubuh Linhua yang ringkih langsung ambruk ke lantai, darah segar keluar dari sudut bibirnya.

__ADS_1


"Kau rebut Juan dari tangan putriku. Akibat perbuatanmu, putriku bunuh diri!!" Seru Albert mengingatkan kembali masa lalu yang kelam.


"Itu bukan salahku!" Bantah Linhua. "Semua orang tahu, Juan suamiku. Tapi kau memaksa Juan menikahi putrimu!!"


Albert membungkukkan badannya, menarik rambut Linhua supaya berdiri lalu menampar wajahnya berkali kali hingga kembali tersungkur ke lantai.


"Kau perempuan tidak tahu diri, bermimpi menjadi seorang ratu. Bukankah Agatha tidak merestui hubungan kalian!!"


Linhua mengangkat wajahnya, meludah darah ke lantai lalu tersenyum lebar menampakkan giginya yang berwarna merah darah.


"Impas, kau kehilangan putrimu. Tapi aku telah kehilangan segalanya. Semuanya gara gara kau!!" Pekik Linhua lalu berusaha bangun dan berdiri tegap meski kedua kakinya tak mampu menopang lagi tubuhnya yang sudah tidak berdaya. Linhua berjalan mendekati salah satu anak buah Albert dengan langkah tertatih. Tidak ada yang menduga kalau Linhua akan merebut senjata api di tangan salah satu bodyguard Albert.


"Kau tidak perlu repot repot mencari cara untuk membunuhku," ucap Linhua seraya menempelkan ujung senjata api di keningnya.


Mata Albert melebar, ia tidak ingin Linhua mati begitu saja. Apalagi setelah apa yang di lakukan Reinz pada Beby.


"Kenapa?" Tanya Linhua sudah bersiap siap menarik pelatuknya.


"Aku tidak akan membiarkan kau mati dengan mudah, setelah apa yang di lakukan putramu pada cucuku!!" Pekik Albert matanya melotot seakan akan ingin menelan Linhua hidup hidup.


"Putraku?" Ucap Linhua antara percaya dan tidak.


"Kau sudah membuat putriku mati, sekarang putramu sudah menghancurkan masa depan cucuku." Ungkap Albert.


Linhua terdiam menatap tajam Albert, ia turunkan senjata apinya.

__ADS_1


"Kau berbohong!"


Albert tersenyum sinis.


"Aku memang membunuh anak anakmu, tapi orang lain telah menyelamatkan anak anakmu." Jelas Albert.


"Benarkah anak anakku masih hidup?" Ucapnya pelan.


Diam diam Albert merebut paksa senjata api di tangan Linhua, lalu mengarahkan senjata itu di kepalanya.


"Dimana anakku sekarang?" Tanya Linhua, menjadi lebih berani dan memiliki kekuatan setelah mendengar anak anaknya masih hidup.


"Aku akan mempertemukanmu dengan jasad putramu nanti." Ancam Albert.


"Kurang ajar!!" Linhua hendak menghajar Albert namun terdengar bunyi klik. Linhua menurunkan tangannya, menatap tajam wajah Albert.


"Hahahahaha!" Albert tertawa terbahak bahak. "Kau akan menyaksikan anak anakmu mati satu persatu."


Linhua menggeram marah, namun ia tidak dapat berbuat apa apa. Beberapa menit yang lalu ia tidak takut mati. Namun setelah mendengar putranya masih hidup, Linhua menginginkan keselamatan nyawanya supaya bisa bertemu dengan putra putranya.


"Kurung dia!! Perintah Albert pada anak buahnya.


Sementara tanpa mereka sadari, Beby sedang memperhatikan di balik pintu ruangan rahasia. Ia mendengar, melihat semuanya dengan jelas.


"Reinz...apa maksud semua ini ada hubungannya dengan kebencian papa Albert?" Gumam Beby.

__ADS_1


Setelah ia mencerna alur cerita yang di dengarnya. Beby memutuskan untuk menemui Reinz dan memberitahu semuanya.


__ADS_2