
Sudah lebih dari dua minggu, Arkanza di rawat. Kini kondisinya sudah membaik, tapi ia terpaksa harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.
"Aku minta maaf, gara gara ulahku. Kakak harus mengalami kecelakaan," ucap Reinz merasa bersalah melihat kondisi Arkanza yang tidak bisa berjalan dengan normal.
"Bukan salahmu, aku yang tidak hati hati." Jawab Arkanza.
Reinz menundukkan kepalanya, memainkan jari jemarinya.
"Ada apa?" Tanya Arkanza menatap raut wajah Reinz terlihat gelisah.
Reinz mengangkat wajahnya memperhatikan kakaknya.
"Aku akan menjauhi Kai.." ucap Reinz.
Arkanza hanya diam mendengar pernyataan Reinz. Ia tahu, adiknya tidaj benar benar ingin menjauhi Kai, sahabat yang di sayanginya.
"Kau yakin?" Tanya Arkanza.
Reinz menganggukkan kepalanya, lalu berdiri menatap Arkanza cukup lama.
"Kau mau kemana?" Tanya Arkanza.
"Menemui Kai untuk yang terakhir kalinya."
Selesai bicara seperti itu, Reinz beranjak pergi dari hadapan sang kakak.
"Reinz!" Panggil Arkanza.
Reinz berhenti melangkah, tanpa menoleh ke arah Arkanza di ambang pintu.
"Kau tidak perlu melakukannya jika terpaksa!" Seru Arkanza.
Namun Reinz hanya diam, lalu ia melanjutkan lagi langkahnya keluar dari ruangan untuk menemui Kai di rumahnya.
***
__ADS_1
Di rumah Agatha.
Kai senang sekali melihat kedatangan Reinz. Ia berjalan mendekati Reinz yang berdiri tak jauh dari tempatnya dan Jimi berdiri.
Namun belum sampai Kai memeluk Reinz. Sang kakek tiba tiba datang dan menarik paksa tangan Kai supaya menjauh dari Reinz.
Kai berusaha menepis tangan Agatha namun Jimi menarik tangan Kai lalu meneluknya erat supaya tidak mendekati Reinz.
"Lepaskan aku, kak!" Pekik Kai berusaha memberontak membuat Jimi semakin mengeratkan pelukannya.
"Diam kau!" Seru Agatha menatap marah Kai, lalu mengakihkan pandangannya ke arah Reinz.
"Berani sekali kau datang ke rumahku lagi!"
Reinz hanya tersenyum sinis menanggapi perkataan Agatha. Matanya tertuju pada Kai dengan tatapan sendu.
"Kai, maafkan aku..aku datang menemuimu untuk yang terakhir kalinya." Reinz mengungkapkan malsud kedatangannya menemui Kai.
Kai menggelengkan kepala, matanya berkaca kaca menatap ke arah Reinz.
"Reinz! Kau tidak boleh meninggalkanku!!" Pekik Kai berusaha lepas dari pelukan Jimi.
"Bukankah kau berjanji tidak akan meninggalkanku dan akan terus bersama? Reinz!!!"
Namun Reinz mengabaikannya, ia terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah milik Agatha.
"Reinz!!" Panggil Kai lagi, bulir air mata mengalir dari sudut matanya.
"Memalukan!!" Pekik Agatha.
"Plakk!!" Satu tamparan keras mendarat di wajah Kai.
Jimi melepaskan pelukannya, lalu memeriksa wajah Kai. Namun Kai menepisnya dan mendorong tubub Jimi hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kau hanya memikirkan harga diri dan egomu!!" Seru Kai marah menatap wajah Agatha.
__ADS_1
"Aku sangat menyayangi dia, kakek! Sangat menyayanginya!!" Teriak Kai marah di sertai air mata.
"Dia yang membuatku kembali memiliki semangat hidup!!"
"Dia yang selalu mengerti dan membuatku tersenyum, selalu ada waktu untukku, tidak seperti kalian!!" Tunjuknya ke arah Agatha dan Jimi.
Mendengar pengakuan cucunya, Agatha menatap jijik ke arah Kai. Sementara Jimi semakin berjalan mundur ke belakang menjauh dari Kai.
"Jangan pisahkan aku dengan Reinz, kakek! Aku tidak bisa hidup tanpa dia!!"
"Plakkk!!"
Agatha semakin muak mendengar pengakuan Kai. Ia menampar keras lagi wajah Kai hingga ambruk ke lantai dan tak sadarkan diri.
"Anak tidak tahu diri!" Umpat Agatha memperhatikan tubuh Kai tak bergerak lagi.
"Pengawal! Bawa dia ke kamarnya dan panggil Dr! Perintah Agatha pada anak buahnya yang selalu menjaga Kai.
Sementara Jimi pergi diam diam mengusul Reinz. Beruntung Reinz masih ada di halaman rumah mendengarkan teriakan Kai meski terdengar kurang jelas di telinganya.
Melihat Reinz masih ada di halaman rumahnya, Jimi menarik bahu Reinz lalu memukul wajahnya.
"Bukkk!!!
Tubuh Reinz oleng ke samping, belum sempat Reinz berdiri dengan tegap. Jimi kembali menarik kerah baju Reinz dan memukul wajahnya kembali hingga darah segar mengalir di sudut bibirnya.
"Bukkk!!"
"Pergi dan jangan pernah temui Kai lagi!!" Pekiknya lalu mendorong tubuh Reinz hingga terjungkal.
Reinz menyeka darah di sudut bibirnya dengan tatapan tajam ke arah Jimi. Tiba tiba saja Jimi mundur kebelakang saat melihat kancing baju Reinz terbuka. Ia melihat tanda hitam di pundaknya.
"Tidak mungkin..." ucapnya pelan.
Reinz mencoba bangkit dan berdiri tegap di hadapan Jimi. Detik berikutnya ia balik badan lalu berlari meninggalkan Jimi yang masih terpaku memandanginya.
__ADS_1