
Sesampainya di rumah, Reinz mendapatkan hinaan dan pukulan dari Elenor. Ia menuduh Reinz sebagai penyebab Arkanza kecelakaan.
"Anak tidak tahu diri, kakakmu sudah berjuang keras supaya kau hidup layak. Tapi kau, memang anak yang tidak tahu diuntung!" Tunjuk Elenor ke wajah Reinz dengan tatapan penuh dengan kebencian.
"Sejak aku kecil, sampai aku dewasa. Kau selalu menyalahkanku atas kesalahan yang tidak pernah kuperbuat." Balas Reinz membela diri.
"Kau mau tahu kenapa?" Tanya Elenor sinis.
Reinz menatap tajam wajah Elenor.
"Karena kau bukan putra kandungku, kau pembawa sial. Andai putraku, Arkanza tidak merawatmu. Entah seperti apa kau jadinya, seharusnya kau berterima kasih bukan malah sebaliknya hanya masalah yang kau berikan buat Arkanza!"
"Aku tahu kau membenciku, tapi perlu kau tahu..kakak, alasanku satu satunya bertahan di rumah ini." Ungkap Reinz, setelah bicara seperti itu, Reinz memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dari pada harus berdebat dengan Elenor.
"Kau mau kemana?!" Tanya Elenor.
Namun Reinz tidak menjawab pertanyaan Elenor. Ia terus melangkahkan kakinya keluar dari rumah.
"Aku belum selesai bicara denganmu!!" Pekik Elenor marah, menatap punggung Reinz hingga hilang dari pandangan mata.
"Kau tahu...keberadaanmu sudah membahayakan nyawa putraku dan dirimu sendiri, Reinz." Gumam Elenor.
***
Reinz baru saja sampai di rumah sakit. Langkahnya terhenti di ujung lorong rumah sakit. Ia melihat Jeni sedang mendorong kursi roda yang di duduki Kai.
"Kai..." ucap Reinz pelan.
Hatinya terasa di cabik cabik saat melihat Kai bersama wanita. Reinz memutuskan untuk tidak menemui Kai, tapi rasa ingin tahunya sakit apa yang di derita Kai, mendorong Reinz untuk menemui sahabatnya.
Reinz memutar arah langkahnya, mengikuti Jeni dari belakang. Saat ia hendak masuk ke dalam ruangan. Seseorang menarik kerah baju Reinz dan memukul wajahnya.
"Bukkk!"
Tubuh Reinz terhuyung ke samping namun tidak sampai jatuh. Ia menoleh ke arah seseorang yang sudah memukulnya, yaitu Agatha.
"Masih berani kau menampakkan batang hidungmu di depanku," ucap Agatha geram.
__ADS_1
Reinz hanya diam, memandang Agatha dengan tatapan marah.
"Sudah kuperingatkan, jangan dekati Kai lagi!!" Ucap Agatha dengan nada tinggi.
"Bukk!!"
Agatha memukul perut Reinz lagi, lalu menarik kerah bajunya dan menghempaskan tubuhnya ke dinding.
"Pergi dari hadapanku dan jangan kembali lagi!"
Reinz berdiri tegap, mengusap noda darah di sudut bibirnya. Perlahan ia berjalan mundur, lalu beranjak pergi menuju lorong rumah sakit.
"Kai..kau sakit apa sebenarnya?" Tanya Reinz dalam hati. Matanya berkaca kaca, ia sedih karena tidak dapat menemui Kai lagi.
Langkah Reinz terhenti, ia menatap kedua pria di hadapannya.
"Kak Jimi?" Sapanya.
Jimi dan Sokjin saling pandang sesaat, lalu Jimi berjalan mendekati Reinz, tanpa memberikan kesempatan lagi. Jimi menghajar wajah Reinz lalu menarik kerah bajunya.
"Jangan ganggu adikku lagi, pergi jaub jauh dari kehidupan Kai." Ancam Jimi, menatap tajam kedua bola mata Reinz.
Jimi tersenyum sinis, tangannya mengepal hendak memukul wajah Reinz lagi. Namun Sojin mencegahnya, ia menarik tangan Jimi dengan paksa hingga mundur ke belakang.
"Jangan sakiti Reinz!"
Jimi menatap wajah Sojin bingung, untuk pertama kalinya Sojin membela Reinz.
"Ada apa denganmu?" Tanya Jimi.
Sojin memalingkan wajahnya, menatap ke arah Reinz.
"Pergilah, temui Arkanza. Dia sangat merindukanmu."
Reinz mengangguk pelan, lalu ia berlari meninggalkan Jimi dan Sojin.
"Katakan padaku, kau menyembunyikan sesuatu?" Tanya Jimi.
__ADS_1
"Tidak perlu berlebihan, ini rumah sakit." Jawab Sojin, lalu melangkahkan kakinya di ikuti Jimi dari belakang.
Sementara Arkanza yang berada di ruangannya. Kondisinya belum pulih, ia masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Matanya melirik ke arah pintu yang terbuka, ia tersenyum melihat Reinz sudah berdiri di hadapannya.
"Reinz.." ucap Arkanza pelan.
"Kakak"!
Reinz berlari lalu menghampiri Arkanza lalu memeluknya.
"Maafkan aku..."
Arkanza tersenyum, mengusap lembut rambut Reinz.
"Akhirnya kau pulang, jangan pergi..jangan tinggalkan aku lagi.." ucap Arkanza pelan.
Reinz menganggukkan kepalanya seraya terus memeluk Arkanza.
"Kau berkelahi?" Tanya Arkanza.
Reinz mengangkat wajahnya menatap Arkanza lalu menganggukkan cepat.
"Tadi ada preman, terpaksa aku berkelahi." Kata Reinz berbohong.
"Anak nakal." Kata Arkanza, ia tahu kalau Reinz berbohong.
"Bagaimana keadaanmu sekarang kak?" Tanya Reinz lalu ia berdiri.
"Jauh lebih baik..." jawab Arkanza.
"Sukurlah." Kata Reinz, lalu terdiam.
Arkanza memperhatikan raut wajah Reinz.
"Ada apa?" Tanya Arkanza.
Reinz menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tidak ada apa apa kak.."
Reinz menyembunyikan rasa sedih dan sakit hatinya. Ia tidak mengerti, mengapa semua orang membencinya.