BROMANCE

BROMANCE
Bab 24


__ADS_3

"Kai.."


Kai yang tengah berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit menoleh ke arah Jeni yang baru saja datang menghampirinya lalu duduk di kursi


"Reinz sudah keluar dari penjara tadi siang." Jelas Jeni pelan pelan.


"Oya?" Seketika mata Kai berbinar mendengar kabar gembira yang di bawa Jeni.


Jeni mengangguk dan tersenyum mengembang.


"Antarkan aku kepadanya.." ucap Kai berusaha untuk bangun namun Jeni mencegahnya.


"Tidak, kau harus istirahat."


Kai menggelengkan kepalanya dan tetap bersikeras untuk bangun dan turun dari atas tempat tidur.


"Aku satu satunya sahabat Reinz. Selama ini dia selalu ada buatku, tapi saat dia kesulitan aku tidak ada di dekatnya." Ungkap Kai.


"Aku tahu..tapi pikirkan baik buruknya buat Reinz. Bagaimana kalau kakekmu tahu?" Jeni kembali mengingatkan.


Kai terdiam cukup lama. Apa yang di katakan Jeni benar. Tetapi kalau ia tidak menemui Reinz itu akan membuag kesalahpahaman semakin berlanjut.


"Aku harus menemui Reinz, sekali ini saja. Bantu aku..." pinta Kai memohon.

__ADS_1


Melihat tatapan Kai sendu, Jeni tidak dapat menolak permintaannya. Akhirnya Jeni menyetujui.


"Beri aku waktu beberapa menit." Kata Jeni lalu berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan untuk memastikan situasinya aman untuk membawa Kai pergi menemui Reinz.


Jeni kembali masuk ke dalam ruangan sambil mendorong kursi roda.


"Kau duduk di kursi roda." kata Jeni lalu membantu Kai duduk di kursi roda tersebut. setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan untuk menemui Reinz.


****


Di tengah perjalanan, Kai melihat sosok Reinz tengah berjalan cepat, di ikuti Beby dari belakang. Kai memukul kaca jendela mobil saat melewati Reinz dan berteriak.


"Reinz!!" pekik Kai lalu meminta sang sopir untuk menghentikan laju mobilnya.


Jeni mencoba menenangkan Kai lalu ia keluar dari dalam mobil lalu mengeluarkan kursi roda. setelah itu membantu Kai keluar dari dalam mobil dan duduk di kursi roda.


"Reinz!"


"Reinz!"


"Kai!" Jeni berlari menyusul Kai, ia mengkhawatirkan kodisi Kai saat ini.


"Kai.." sapa Beby menghampiri Kai dan Jeni.

__ADS_1


"Reinz...maafkan aku.." ucap Kai berjalan tertatih mendekati Reinz.


Reinz tersenyum, tangannya memegang bahu Reinz hendak memeluknya namun tubuh Kai di dorong oleh Reinz hingga jatuh dan duduk di jalan.


"Kai!" seru Jeni berlari mendekati Kai lalu jongkok di sampingnya. "Kau tidak apa apa?"


Jeni tengadahkan wajahnya menatap Reinz marah lalu ia berdiri dan mendekatinya seraya menunjuk wajah Reinz.


"Kau keterlaluan!!" rutuk Jeni. "Apa kau-?" ucapan Jeni terputus saat melihat Reinz balik badan lalu berlari cepat meninggalkan mereka.


"Reinnn!!" pekik Kai lalu ia berusaha berdiri dan berlari mengejar Reinz hingga kakinya tersandung dan tubuhnya tersungkur ke jalan.


"Reinz!!" tangan kanan Kai terulur memanggil Reinz. Namun sahabatnya tidak perduli, ia terus berlari.


"Reinz..." kepala Kai tertunduk, tangannya memukul jalan aspal.


"Kai cukup!" seru Jeni lalu ia membantunya untuk berdiri.


"Reinz..." mata Kai berkaca kaca melihat punggung Reinz hingga hilang dari pandangan.


"Sudahlah Kai, Reinz sudah tidak perduli lagi." Timpal Beby.


"Tidak!" seru Kai. "Reinz marah padaku," ucapnya lirih.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pulang, biar aku yang bicara dengan Reinz." Jeni memapah tubuh Kai masuk ke dalam mobil.


Sementara Beby hanya berdiri terpaku memperhatikan mereka. Setelah mobil milik Jeni melaju meninggalkan tempat, Beby berjalan dengan gontai menyusul Reinz.


__ADS_2