BROMANCE

BROMANCE
Bab 22


__ADS_3

Arkanza duduk di kursi berhadapan dengan Reinz. Di sampingnya berdiri pengacara yang akan membantu membebaskan Reinz dari hukuman.


"Aku di sini..tatap aku.." ucap Arkanza menatap Reinz yang menundukkan kepalanya.


"Kau hancurkan hidupmu hanya karena Kai.." Arkanza menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti jalan pikiran adiknya.


"Apa aku bersalah padamu?" tanyanya.


Reinz menggelengkan kepalanya tanpa melihat sedikitpun ke arah Arkanza.


"Tidak mengapa kalau kau tidak mau bicara padaku. Tapi kumohon kembalilah, jangan hancurkan masa depanmu lagi." Kata Arkanza, lalu menoleh sekilas ke arah Pengacara.


"Tuan Haidar akan membantumu, kau tidak perlu khawatir." Arkanza berdiri, menatap tajam adiknya yang masih menundukkan kepala. "Aku pulang, jaga dirimu baik baik."


Arkanza dan Pengacara berlalu dari hadapan Reinz setelah di rasa tidak ada lagi yang harus di katakan.


"Aku menyayangimu, kak.." batin Reinz, matanya terpejam menguatkan hatinya bahwa keputusannya tidak lah salah.


Sementara di lain pihak.


Kai menolak makan dan minum obat setelah tahu kalau Reinz berada di penjara. Ia sangat sedih tidak bisa membantu Reinz malah sebaliknya, ia merasa apa yang terjadi pada Reinz adalah kesalahannya.


"Kau harus minum obat, Kai."


Kai melirik sekilas ke arah Jeni yang berdiri di dekat tepi ranjang, memegang nampan yang berisi makanan dan obat.


"Kalau kau sakit, bukankah Reinz akan semakin sedih?" Kata Jeni seraya meletakkan nampan di samping Kai.


"Bukankah pertunangan kita sudah menghancurkan hidup Reinz?" Tanya kai, menatap makanan di atas nampan.

__ADS_1


"Aku tahu.." jawab Jeni lalu ia duduk di kursi, mengambil sendok bermaksud menyuapi Kai. "Makanlah dulu, setelah ini aku akan menemui Reinz."


"Aku tidak mau." Tegas Kai.


"Sekali saja.." Jeni mendekatkan sendok ke mulut Kai.


Namun Kai menepis tangan Jeni hingga sendok di tangannya terpental ke lantai. Kemudian Kai merebut mangkuk sup di tangan Jeni dan melemparkannya ke lantai di susul dengan nampan di lemparkannya juga.


"Prankk!!!


Sup dan mangkuk berserakan di lantai. Hingga terdengar oleh Jimi dan Agatha yang berada di ruang tamu.


Jeni berdiri, matanya berkaca kaca menatap wajah Kai.


"Apa kau tuli? Sudah kubilang tidak mau makan!!" Seru Kai marah, dengan tatapan tajam ke arah Jeni.


"A, aku tahu salah..ta, tapi-?"


"Apa apaan ini?!!"


Kai dan Jeni menoleh ke arah Agatha dan Jimi yang menghampiri mereka.


"Apa kau sudah gila?" ucap Agatha menatap makanan dan obat yang berserakan di lantai, lalu mengalihkan pandangannya pada Kai.


"Plakkkk!" Agatha kembali menampar wajah Kai cukup keras.


"Kalau kau seperti ini terus, jangan harap kau dapat kebebasan. Lebih baik aku mengurungmu dari pada harga diri dan martabat keluarga harus menanggung malu!" Ancam Agatha panjang lebar. Setelah bicara seperti itu, ia beranjak pergi meninggalkan kamar pribadi Kai.


"Aku tidak perduli.." ucap Kai pelan.

__ADS_1


Jimi dan Jeni saling pandang sesaat. Mereka saat ini tidak tahu apa yang harus di lakukan.


Jeni melangkahkan kakinya keluar dari kamar Kai, di ikuti Jimi.


***


Setelah pemeriksaan beserta bukti bukti yang ada. Akhirnya Reinz tetap mendapatkan hukumannya.


"Tidak terlalu besar keinginanku, tapi ternyata itu sulit.." gumam Reinz dalam hati. "Kegelapan adalah satu-satunya temanku, aku tidak mempercayai apapun di kehidupanku saat ini."


"Apa aku salah? aku berharap pada Kai, satu satunya bahu tempatku bersandar saat aku lemah untuk diselamatkan. Tapi kini, itu semua hanyalah mimpi."


"Reinz.."


Reinz mengangkat wajahnya, menatap sosok perempuan yang ia benci.


"Beby?"


Beby berjalan mendekati Reinz dan meminta izin pada kedua anggota Polusi untuk bicara dengan Reinz empat mata. Polisi pun mengizinkan Beby berbicara dengan Reinz.


"Jangan harap aku bersimpati padamu." Ucap Reinz seraya memalingkan wajahnya.


"Tidak, aku tidak butuh simpatimu. Yang perlu kau tahu, aku ada untukmu." Jawab Beby.


"Pergilah!" Reinz mendorong bahu Beby hingga mundur beberapa langkah ke belakang.


"Terserah!" Beby kembali mendekati Reinz lalu memeluknya dengan erat.


Namun Reinz tidak menyukai itu, ia kembali mendorong tubuh Beby hingga jatuh ke lantai. Tanpa menoleh lagi, Reinz balik badan menghampiri kedua anggota Polisi dan memintanya untuk segera pergi.

__ADS_1


Beby hanya diam duduk di lantai memperhatikan punggung Reinz menjauh darinya bersama kedua anggota Polisi.


"Suatu hari nanti aku bisa mengambil hatimu tanpa harus aku paksa." Gumam Beby.


__ADS_2