BROMANCE

BROMANCE
Bab 34


__ADS_3

Di kafe.


Jimi sudah menunggu Sojin sejak 15 menit yang lalu. Melihat kedatangan Sojin, Jimi berdiri lalu mempersilahkan Sojin duduk di kursi.


"Ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan?" Tanya Sojin menatap raut wajah Jimi terlihat tegang.


"Ya, kau benar!" Sahut Jimi lalu merubah posisi duduknya dengan kedua tangan di letakkan di atas meja.


"Ada apa?" Tanya Sojin lagi.


"Kau dan aku tahu, kalau Arkanza anak tunggal." Ungkap Jimi.


"Ya, itu benar," jawab Sojin, kedua alisnya bertaut mencoba mencerna arah pertanyaan Jimi.


"Lalu, Reinz?" Tanya Jimi lagi, melirik sesaat ke arah Sojin.


"Maksudmu?" Sojin belum memahami pertanyaan Jimi.


"Reinz bukan adik kandung Arkanza, bukan begitu?"


Sojin mengangguk, membenarkan.


"Ya, kau benar." Kata Sojin.


"Apakah kau tahu? Asal usul Reinz?" Tanya Jimi.


"Sebenarnya aku mencurigaimu, mengapa kau tertarik dengan Reinz?" Sojin balik bertanya dan mencurigai Jimi.


"Kau jangan salah paham, Reinz mengingatkan seseorang yang sangat penting dalam hidupku." Jelas Jimi.

__ADS_1


"Adikmu?" Tanya Sojin.


"Entahlah..."


Sojin terdiam cukup lama menelisik wajah Jimi. Ia baru menyadari kalau kelopak mata Jimi memiliki kesamaan dengan Jeni. Namun Sojin tidak ingin mengambil kesimpulan secepat itu.


"Ada apa?" Tanya Jimi, merasa Sojin memperhatikannya.


"Tidak ada, apa kau butuh bantuanku?" Tanyanya lagi.


Jimi berdecak kemudian menganggukkan kepalanya.


"Mungkin aku terima tawaranmu, kau bisa membantu?"


Sojin mengangguk.


"Terima kasih."


****


Sementara itu Reinz yang berhasil menemui Kai di rumah sakit dengan diam diam. Membawa Kai ke taman tak jauh dari rumah sakit tersebut.


"Aku senang kau kembali." Kata Kai, mengusap rambut Reinz dengan lembut.


"Aku minta maaf..." ucap Reinz seraya menurunkan tangan Kai.


"Reinz.." Kai menarik tangan Reinz dan memintanya duduk di sampingnya.


"Ya?" Sahut Reinz.

__ADS_1


"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?" Tanya Kai, menatap wajah Reinz.


"Katakan.." ucap Reinz.


"Maukah kau mengajakku pergi dari sini?" Tanya Kai.


Reinz terdiam, ia senang mendengar permintaan kai. Di lubuk hatinya yang paling dalam, Reinz menginginkan hal yang sama. Hidup bersama Kai, pria yang selalu mengerti dan menghangatkan hatinya yang hampir beku. Membangun kembali rasa percaya dirinya. Namun satu hal yang Reinz tidak ketahui, tentang penyakit yang di derita Kai.


"Kau mau?" Tanya Kai lagi.


Reinz mengangguk dengan ragu.


"Bagaimana dengan keluargamu?"


Kai menceritakan kalau keluarganya terutama sang kakek, tidak pernah mengerti perasaannya. Mereka lebih mementingkan pekerjaan dari pada dirinya. Kai merasa keberadaannya tidak dibutuhkan. Apalagi ia merasa hidupnya tidak akan lama lagi. Kai menginginkan menghabiskan sisa hidupnya bersama Reinz.


"Apapun yang terjadi aku tidak takut, bagaimana denganmu?" Tanya Reinz untuk memastikan bahwa keputusan Kai tidak akan di sesali pada akhirnya.


Kai mengangguk cepat.


"Aku tidak takut." Tegasnya. "Jadi? Bagaimana?"


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu." Jawab Reinz.


Reinz membantu Kai untuk berdiri, lalu mereka melangkah bersama meninggalkan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Reinz tetap fokus memperhatikan jalan raya. Namun di sela sela menyetirnya, Reinz memperhatikan Kai. Ia terlihat bahagia tidak seperti waktu di temui di rumah sakit, Kai terlihat pucat dan murung.


Kai tersenyum, membalas tatapan Reinz. Kemudian ia memutar sebuah lagu 'Baby Angel'. Kai mengikuti lirik lagu tersebut di ikuti Reinz. Sesekali Kai mengusap rambut Reinz penuh dengan rasa sayang.

__ADS_1


__ADS_2