BROMANCE

BROMANCE
Bab 23


__ADS_3

Selama Reinz menjalani hukumannya, Kai sama sekali tidak bahagia. Ia sering mengurung diri dan sengaja tidak makan ataupun minum obat, meskipun Jeni sudah berusaha untuk membujuknya. Hingga akhirnya Kai harus dilarikan ke rumah sakit.


"Tolong tetap hidup buatku, Reinz. Selama ini kau salah paham, kumohon kembalilah..." ucap Kai dalam hati.


Di mana kesalahan Kai dan Reinz? Hubungan yang begitu dekat, saling menyayangi satu sama lain. Kai sama sekali tidak ingat dan di mana letak kesalahannya. Namun pandangan orang lain tetaplah buruk, dan sangat menalukan.


"Apakah kita di tuntut untuk sempurna di mata orang lain? Bukankah kita hidup bukan untuk sempurna tapi untuk menjadi nyata?" Pergulatan batin terus berkecamuk di dalam dada Kai.


"Kai..jangan kau menyiksa dirimu sendiri.." kata Jeni berusaha menenangkan Kai.


"Kau tidak mengerti meskipun setiap saat kau coba untuk memahami perasaanku," jawab Kai.


Jeni tersenyum samar.


"Aku memang tidak memahamimu, tapi setidaknya aku ada di situasi apapaun. Apakah perasaanmu lebih baik untuk dijelaskan, apakah harus?" Jeni balik bertanya.


Kai menggeleng pelan.


"Satu kata yang akan membuatku hidup. Adik adikku yang hilang, apa kau tahu itu?" Jeni menundukkan kepala, mengusap air matanya diam diam.


Kai menoleh ke arah Jeni.


"Adik?"

__ADS_1


Jeni menganggukkan kepalanya.


"Lupakan, sebaiknya kau istirahat."


Jeni beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan ruangan tempat Kai di rawat.


Sepeninggal Jeni, Kai berusaha memejamkan mata. Seperti hari hari sebelumnya. Sampai di penghujung fajar, Kai tidak dapat tertidur barang sekejap. Pikirannya mengembara, memikirkan Reinz yang ada di dalam penjara.


"Ini seperti aku mengembara melalui mimpi buruk dengan mata terbuka." Gumam Kai. "Aku bisa merasakan apa yang Reinz rasakan saat ini."


Sementara itu di penjara di malam yang sama. Reinz meringkuk menyembunyikan dirinya di sebuah ruangan kecil dan pengap. Di ruangan yang menjadi saksi bisu hari hari sulit dan malam malam yang panjang harus Reinz lewati. Hati yang kecewa, memendam banyak kebencian.


Hari berganti minggu, bulan terlewati. Tidak ada keajaiban bagi Reinz sesuai keinginannya. Yang ada hanya kebencian dan kekecewaan yang bersembunyi di balik wajahnya yang sangat rupawan.


"Bahkan jika banyak hari berlalu, aku akan berada di kegelapan."


****


Satu tahun berlalu, akhirnya Reinz dapat di bebaskan berkat sikapnya yang baik selama di penjara dan bantuan dari Pengacara.


Di hari pembebasan, Beby dan Arkanza menjemput Reinz di pintu gerbang penjara. Namun yang di lakukan Beby dan Arkanza tidak Reinz inginkan. Ia mau yang datang menjemputnya adalah Kai. Namun Kai tidak datang bahkan selama ia di penjara, Kai sama sekali tidak datang menjenguknya.


Kekecewaan Reinz semakin dalam. Ia memilih diam saat Beby dan Arkanza menghampiri dan menyapanya.

__ADS_1


"Kita pulang.." ucap Arkanza lalu memeluk Reinz dengan erat.


"Kau terlihat kurus." Kata Beby memberanikan diri mengajak bicara Reinz.


Reinz melepaskan pelukan Arkanza lalu melangkahkan kakinya mendekati mobil milik Arkanza tanpa bicara sepatah katapun.


Arkanza mengusap punggung Beby lalu menganggukkan kepalanya.


"Baiklah.." Beby mengerti.


"Ayo.." Arkanza melangkahkan kakinya bersama Beby. Mereka masuk ke dalam mobil setelah Reinz lebih dulu masuk ke dalam mobil tersebut.


"Apakah kita perlu mampir ke restoran dulu?" Tanya Arkanza pada Reinz.


Namun Reinz masih enggan menjawab apapun. Arkanza mengerti, kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.


Di lain tempat, di hari yang sama.


Agatha meminta bantuan papanya Beby untuk menyingkirkan Reinz. Ia merasa kalau Reinz akan merusak reputasinya. Agatha tahu, Reinz tidak akan menyerah seperti sosok Juan. Hal yang selama ini Agatha takutkan.


Keinginan Agatha di sambut baik oleh papanya Beby. Tanpa di mintapun ia akan melakukannya, karena ia sendiri tidak menginginkan putrinya terus mengejar cinta Reinz.


"Tunggu tanggal mainnya. Aku yang mati atau bocah itu yang pergi duluan menyusul ibunya." Kata Agatha percaya diri.

__ADS_1


__ADS_2