BROMANCE

BROMANCE
Bab 38


__ADS_3

Reinz duduk di ruang tunggu selama Beby di periksa oleh Dokter. Ada rasa ingin meninggalkan Beby sendirian di rumah sakit, tapi hati kecilnya meminta Reinz untuk bersabar menunggu.


Dua jam berlalu, Reinz menunggu dengan gelisah. Pikirannya terbagi dua antara menunggu Beby atau menemui Kai.


Berkali kali ia mendesah, mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa sengaja ia melihat Jimi dan Sojin sedang berjalan di ujung lorong. Reinz berdiri hendak menyusul mereka, namun suara pintu ruangan terbuka. Nampak Dokter Li keluar dari ruangan dan menghampiri Reinz.


"Bagaiamana Dok?" Tanya Reinz.


"Istri tuan baik baik saja, begitu juga dengan janin dalam kandungannya. Beruntung tuan cepat tanggap membawa istri tuan ke rumah sakit. Telat sedikit saja, janin dalam kandungan istri tuan bisa saja tidak terselamatkan." Jelas Dokter Li.


"A, apa?" Ucap Reinz terkejut.


"Benar tuan, tapi istri tuan harus banyak istirahat dan jangan bergerak dulu. Untuk sementara di rawat di sini." Dr Li menjelaskan panjang lebar.


Reinz termangu mendengar penjelasan sang Dokter. Pikirannya semakin kacau, ia baru mengetahui kalau selama ini Beby hamil.


"Kalau begitu, saya permisi dulu." Kata Dr Li.


"Ba, baik Dok!" Sahut Reinz gagap.


Dr Li mengangguk pelan, lalu beranjak pergi dari hadapan Reinz.


"Hamil..?" Ucap Reinz pelan. "Apakah aku?"


Reinz semakin bingung, ia kembali mengingat kejadian saat merenggut kehormatan gadis itu. Detik berikutnya ia bergegas masuk ke dalam ruangan menemui Beby.


"Reinz.." sapa Beby lemah.


Reinz masih diam menatap dalam dalam wajah Beby, kemudian ia membungkukkan badan. Tangannya terulur mencengkram dagu Beby.


"Anak siapa dalam kandunganmu?" Tanya Reinz.


"Sa, sakit Reinz.." erang Beby mencoba melepaskan tangan Reinz.


"Katakan!" Seru Reinz, menatap tajam kedua bola mata Beby.


"Lepas!" Beby menarik kerah baju Reinz.


"Katakan! Reinz tetap tidak mau melepaskan cengkraman tangannya.


"Seharusnya kau tidak perlu bertanya, kau pasti tahu jawabannya." Tegas Beby.


Reinz menarik tangannya lalu berdiri tegap, menatap marah ke arah Beby.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" Sanggah Reinz.


"Terserah.." balas Beby dengan mata berkaca kaca.


Reinz tersenyum sinis.


"Tidak ibuku, kau, semua perempuan sama! Aku muak melihatmu!" Hina Reinz, lalu beranjak pergi setelah menghina Beby.


"Terserah..aku tidak perduli kau mau mengakui atau tidak.." gumam Beby sudah merasa putus asa.


Sementara itu, di lain ruangan.


Nampak Jimi, Sojin dan Jeni tengah berbicara serius di depan pintu ruangan di mana Kai sedang di rawat.


"Jeni bukan adik kandungku, maaf kalau selama ini aku merahasiakannya." Ucap Sojin meminta maaf pada Jimi.


"Bagaimana kau tahu, Jeni dan Reinz, adikku?" Tanya Jimi.


"Aku sudah melakukan tes DNA dengan Reinz, kak Jimi, Kai, ternyata yang memiliki kecocokkan." Ungkap Jeni.


"Tidak mungkin.." ucap Jimi masih tidak percaya.


Jeni menyodorkan dokumen hasil tes DNA.


Jimi mengambil dokumen di tangan Jeni lalu membuka dan membacanya.


"Aku dan Reinz, adikmu." Kata Jeni menjelaskan, selama beberapa hari ia menghilang karena mencari data data yang lebih akurat lagi mengenai latar belakang Reinz.


"Reinz..." gumam Jimi.


Ia menutup kembali dokumen di tangannya, menatap wajah Jeni lalu memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku..maafkan aku.." ucap Jimi. "Aku sudah meninggalkan kalian waktu itu."


"Tidak kak, aku yang salah. Seharusnya aku tetap menunggu kakak. Tapi aku meninggalkan Reinz dan memilih mencarimu." Jelas Jeni, di sertai derai air mata.


"Apakah kau sudah memberitahu, Reinz?" Tanya Jimi seraya melepas pelukannya.


Jeni menggelengkan kepala.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahu Reinz."


Jimi dan Sojin terdiam, tiba tiba dari arah belakang seseorang bertepuk tangan. Jimi dan yang lain menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Reinz?" Ucap mereka bersamaan.


"Hebat, drama apalagi yang kalian ciptakan untuk memisahkan aku dan Kai?" Tuduh Reinz.


"Kau mendengarkan semuanya?" Tanya Jeni.


"Tentu saja, aku tidak tuli!" Jawab Reinz ketus.


"Reinz.." Jimi berjalan perlahan mendekati Reinz hendak memeluknya.


Namun Reinz berjalan mundur, lalu tertawa sinis.


"Kalian sama saja seperti ibuku, sama sama brengsek!" Ucapnya dengan kasar, lalu ia berlari meninggalkan mereka semua.


"Reinz!" Seru Jeni hendak menyusulnya. Namun Sojin dan Jimi mencegahnya.


"Percuma, dia terlalu keras kepala. Biarkan dia tenang." Ucap Sojin.


"Kau benar, tapi aku khawatir.." timpal Jimi.


"Ada hal yang lebih penting." Kata Sojin.


"Hal apa?" Tanya Jimi penasaran.


"Ibu kalian masih hidup." Ungkap Sojin.


"Apa? Kau tidak sedang bercanda bukan?" Tanya Jimi menarik kerah baju Sojin.


Sojin menggelengkan kepalanya.


"Tidak, tapi aku belum tahu keberadaannya di mana. Menurut pencarian yang aku dapat, ibu kalian belum meninggal bersama kekasih gelapnya, seperti yang di beritakan selama ini."


Jeni dan Jimi saling pandang lalu mereka berpelukan. Antara bahagia dan sedih, namun air mata yang mereka keluarkan adalah air mata kebahagiaan.


"Kita butuh bantuan Arkanza." Kata Sojin.


Jimi melepaskan pelukannya, menoleh ke arah Sojin.


"Aku harus meminta maaf pada Arkanza."


Sojin mengangguk cepat, mengusap punggung Jimi untuk menenangkannya.


"Tenanglah, keluarga kalian pasti baik baik saja."

__ADS_1


__ADS_2