
Jimi tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Tanda di pundak Reinz mengingatkannya pada masa lalu yang mengusik pikirannya tiap hari, dan dia pendam selama bertahun tahun lamanya.
"Tidak mungkin..."
Jimi duduk di kursi, tubuhnya terasa lemas dan pikirannya semakin kacau. Ia menyandarkan kepalanya di kursi dengan mata terpejam.
Terbayang dalam benaknya kejadian dua puluh tahun yang lalu. Ia berteriak histeris memanggil adik adiknya yang menghilang.
Perlahan matanya terbuka, rasa sesak di dalam dada. Penyesalan telah meninggalkan adik adiknya di jalan.
"Andai aku tidak pergi mencari makanan, aku tidak akan kehilangan mereka. Sekarang aku tidak tahu mereka di mana." Gumam Jimi lirih.
Tiba tiba pintu kamar terbuka lebar. Ia melihat Kai berdiri di ambang pintu dengan tatapan marah.
"Kai?"
Kai berjalan mendekati Jimi, menarik kerah bajunya supaya berdiri.
"Mengapa kau selalu ikut campur urusanku?!!" Pekik Kai marah menatap wajah Jimi.
"A, aku..?"
__ADS_1
"Ahhh!!" Kai mendorong tubuh Jimi hingga menabrak dinding di belakangnya.
Jimi memegang bahunya seraya menatap sedih ke arah Kai yang berdiri tegap di hadapannya.
"Kau hanya memikirkan perasaanmu dan Kakek! Kau tak perduli dengan perasaanku!!" Teriak Kai, tangannya menunjuk wajah Jimi.
Jimi menggelengkan kepalanya, lalu berjalan mendekati Kai. Menyentuh dada Kai dengan lembut, namun dengan cepat Kai menepisnya.
"Tenanglah, kau sedang sakit." Jimi berusaha menenangkan Kai.
"Kau hanya perduli dengan dirimu sendiri," ucap Kai. "Aku akan pergi dari rumah dan menemui Reinz. Jangan halangi aku lagi, kak."
Kai balik badan lalu melangkahkan kakinya. Namun baru saja beberapa langkah, Kai tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.
"Kai bangun!" Jimi berusaha menyadarkan Kai. Namun Kai tak kunjung sadarkan diri. Akhirnya Jimi mengangkat tubuh Kai lalu menggendongnya.
"Kau pingsan lagi.." ucapnya lirih.
Jimi bergegas membawa Kai keluar dari kanarnya.
Di luar kamar, Jimi berpas pasan dengan Jeni yang baru saja datang.
__ADS_1
"Ada apa dengan Kai?" Tanyanya.
Namun Jimi tidak menjawab, ia bergegas menuju kamar pribadi Kai di ikuti Jeni dari belakang. Sesampainya di kamar, Jimi membaringkan tubuh Kai di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuhnya dengan sekimut.
"Mengapa Kai, akhir akhir ini sering pingsan?" Tanya Jimi kepada Jeni.
Jeni terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Jimi.
"Kai harus segera mendapatkan donor jantung." Kata Jeni.
Jimi menghela napas berat, menatap wajah Jeni sesaat.
"Aku tidak percaya ini.." gumam Jimi.
Sementara di tempat lain.
Beby masih enggan untuk bicara dan keluar dari kamarnya setelah satu satunya miliknya yang berharga di renggut paksa oleh Reinz.
Namun sedikitpun ia tidak marah ataupun membenci Reinz. Justru sebaliknya, Beby membenci Albert, sang kakek yang sudah dianggap papa nya sejak kecil.
Beby tidak mengerti mengapa Albert begitu membenci Reinz dan tidak pernah terima kalau dirinya sangat mencintai Reinz. Albert memilih menjodohkan Beby dengan Niko, pria yang sudah jelas seorang penjahat.
__ADS_1
Sementara Albert sendiri semakin membenci Reinz dan bersumpah untuk melenyapkan Reinz, karena telah merusak cucu satu satunya. Di balik kebencian Albert terhadap Reinz, ada luka yang Albert pendam. Ada dendam yang belum terbalaskan. Ada cerita duka yang membuatnya semakin beringas.
"Linhua.." gumam Albert.