BROMANCE

BROMANCE
Bab 35


__ADS_3

Kepergian Kai dan Reinz dari rumah sakit di ketahui bodyguard Agatha, lalu mereka melaporkannya. Agatha pun memerintahkan anak buahnya untuk menyusul Kai dan Reinz. Tidak hanya itu, ia memerintahkan mereka untuk melenyapkan Reinz.


Sementara Jimi yang baru saja sampai di rumah sakit setelah menemui Sojin. Mendengar kabar kepergian Kai dan Reinz semakin membuatnya khawatir, diam diam ia menyusul anak buah kakeknya di belakang.


Selang beberapa menit setelah Reinz dan Kai sampai ke rumah persembunyian. Anak buah Agatha berhasil menyusul Kai dan Reinz, kemudian mereka bergegas menghampiri rumah tersebut dan mendobrak pintu rumah dengan paksa.


"Brakkk!!"


Kai dan Reinz yang baru saja duduk di kursi, mereka berdua terkejut melihat kedatangan anak buah Agatha.


"Kalian mau apa?! Tanya Kai, berdiri dan menggenggam erat tangan Reinz, menatap waspada ke arah lima anak buah Agatha.


"Kami di perintahkan untuk membawamu pulang, tuan." Kata salah satu pria yang berkepala plontos.


"Tidak!" Sahut Kai.


Namun kelima pria tersebut tidak perduli, mereka mendekati Kai.


"Jangan dekati dia!"


Reinz berdiri di hadapan Kai dan mencoba melindunginya. Namun mereka tidak perduli, dua pria maju mencengkram kerah baju Reinz dan satu lainnya memukul wajahnya tanpa ampun. Sementara dua pria lainnya menarik paksa tangan Kai lalu menariknya menjauh dari Reinz.


Kai berusaha memberontak namun tenaganya tidak cukup menandingi kedua pria yang menahan tubuhnya. Kai terus berteriak memanggil Reinz yang tengah di pukuli habis habisan oleh ketiga anak buah Agatha.

__ADS_1


"REINZ!!!"


Di saat bersamaan, Jimi sampai di rumah itu. Ia terkejut melihat Reinz sudah tidak berdaya berusaha untuk terus membela diri.


"Hentikan!!" Seru Jimi lantang.


"Kakak!" Kai berlari ke arah Jimi dan memintanya untuk menghentikan anak buah kakeknya untuk tidak memukuli Reinz lagi. "Tolong hentikan mereka kak."


Jimi terdiam menatap ke arah Reinz. Rupanya kakeknya tidak main main dengan ancamannya. Dia tidak segan segan untuk melenyapkan Reinz, tapi mengapa? Tanya Jimi di dalam pikirannya saat ini.


"Kak!" Seru Kai seraya mengguncang lengan Jimi.


Jimi menoleh ke arah Kai.


"Pilihan ada di tanganmu, kalau kau menyayangi Reinz. Sebaiknya kau ikut aku pulang dan jangan temui Reinz lagi."


"Baiklah kak, aku ikut denganmu. Tapi hentikan mereka dulu."


Jimi mengangguk, lalu menerintahkan anak buah Agatha untuk meninggalkan Reinz dan jangan mengganggunya lagi. Kemudian Jimi dan Kai pergi begitu saja meninggalkan Rein di ikuti anak buahnya.


"Aku tidak percaya kau meninggalkanku, Kai.." ucap Reinz pelan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke lantai, darah segar mengalir dari mulutnya. Perlahan Reinz kehilangan kesadarannya.


***

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Reinz tak sadarkan diri, saat ia membuka mata. Reinz sudah ada di atas tempat tidur, ia melirik ke samping nampak Beby tengah duduk di kursi memperhatikannya.


"Kau?"


Beby menganggukkan kepalanya.


"Kau jangan bergerak dulu, istirahat saja."


"Bagaimana kau tahu, aku ada di sini?" Tanya Reinz lalu bangun dan duduk di atas tempat tidur.


"Itu tidak penting," jawab Beby.


"Aku tidak suka kau ada di sini, pergi sekarang juga.." ucap Reinz menatap tidak suka ke arah Beby.


"Kau tidak perlu mengusirku, aku akan pergi setelah kau sehat," jawab Beby lalu berdiri menatap sedih.


"Aku tidak butuh bantuanmu." Reinz tetap bersikeras mengusir Beby dari rumahnya, lalu ia berusaha turun dari atas tempat tidur seraya meringis kesakitan menahan rasa sakit di perutnya.


"Kau jangan sombong, aku tahu kau membenciku. Tapi izinkan aku membantumu sekali ini saja." Beby mencegah Reinz turun dari atas tempat tidur.


"Lepaskan aku!" Reinz menepis tangan Beby dengan kasar.


Beby pun menarik tangannya kembali, menghela napas panjang.

__ADS_1


"Terserah, kau mau memakiku. Tapi aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." Selesai bicara seperti itu, Beby berlalu dari hadapan Reinz.


"Andai kau tahu, aku sedang mengandung anakmu..." gumam Beby sedih.


__ADS_2