BROMANCE

BROMANCE
Bab 25


__ADS_3

Sementara itu Arkanza pergi mencari Reinz. Ia sangat khawatir, kepergian Reinz dalam keadaan kacau, ia takut terjadi apa apa pada adik kesayangannya.


"Aku harap kau tidak melakukan hal yang tidak aku inginkan." Gumam Arkanza terus fokus memperhatikan setiap pejalan kaki di tepi jalan raya.


"Ah Reinz, kau di mana?" Arkanza semakin khawatir, hari sudah mulai gelap namun keberadaan Reinz bum di temukan.


Arkanza yang mulai tidak fokus karena pikirannya terus memikirkan Reiz. Hingga ia tak melihat di depannya ada seorang wanita hendak menyebrang jalan. Arkanza membanting stir ke kanan namun dari arah yang bersamaan sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menghantam mobil milik Arkanza.


"BRAKKKK!!"


Mobil milik Arkanza terpental melewati mobil di depannya, berputar lalu terjatuh ke jalan aspal dengan bunyi dentuman yang sangat keras. Mobil Arkanza terseret jauh lalu berhenti di pembatas jalan. Asap mengepul dari dalam mobil, seketika orang yang peduli berlari menghampiri dan mencoba membantu mengeluarkan tubuh Arkanza yang terluka parah. Kemacetanpun terjadi, tak lama suara sirine ambulance dari kejauhan mendekati lokasi.


Tak lama pihak berwajib datang, di bantu pejalan kaki. Arkanza segera di larikan kerumah sakit terdekat.


Di rumah sakit.


Jimi dan Sojin melangkahkan kaki dengan tergesa gesa menyusuri lorong rumah sakit. Langkah mereka terhenti tepat di depan pintu ruangan di mana Arkanza di rawat.


Sojin membuka pintu lebar lebar lalu ia masuk ke dalam di ikuti Jimi. Mereka berdua terpaku menatap tubuh Arkanza di penuhi alat alat medis.


"Katakan padaku, bagaimana bisa seperti ini?" Tanya Jimi menoleh ke arah Jeni.


Jeni menghela napas panjang.

__ADS_1


"Seperti yang kau lihat kak.." jawab Jeni lalu ia menceritakan kronologi kecelakaan sesuai informasi yang di dapatkan dari pihak berwajib.


"Dimana Reinz?" Tanya Sojin, tatapan mata lurus ke arah Arkanza yang terbaring koma.


Jeni hanya menggelengkan kepala.


"Dia harus segera di operasi, aku butuh Reinz." Jelas Jeni.


"Biar aku yang bertanggung jawab. Arkanza harus segera di operasi." Tegas Jimi.


Awalnya Sojin tidak setuju, ia khawatir terjadi sesuatu. Namun di saat mereka tengah kebingungan siapa yang akan bertanggung jawab hidup matinya Arkanza. Nyonya Elenor datang ke rumah sakit dan bertanggung jawab atas diri Arkanza. Jeni langsung membawa ibunya Arkanza untuk menandatangani berkas berkas yang di butuhkan.


***


Reinz sudah berkumpul bersama geng nya dan membentuk sebuah geng yang lebih besar lagi dari sebelumnya.


Namun tak ketinggalan Beby yang terus mengikutinya kemanapun Reinz pergi dan hal itu membuat Reinz semakin membenci Beby.


Meski Reinz berkali kali menyakiti fisik dan hatinya. Namun Beby tetap bertahan dan bersikeras akan terus berada di samping Reinz sampai kapanpun.


"Kenapa kau mengikutiku terus?!" Reinz membentak Beby untuk kesekian kalinya, tapi jawaban Beby tetap sama.


"Aku tidak punya alasan, aku melakukannya atas keinginanku sendiri."

__ADS_1


Reinz menatap benci wajah Beby. Lalu ia menyeret paksa tangan Beby menuju ruangan bawah tanah di mansion miliknya.


"Ikut aku!"


"Reinz, sakit." Keluh Beby.


Namun Reinz semakin mengeratkan pegangan tangannya hingga membuat Beby kesakitan semakin ia memberontak semakin kuat pegangan tangan Reinz.


"Aku mau di bawa kemana?" Tanya Beby, ia tidak menduga kalau Reinz akan bersikap lebih kasar dari sebelumnya hingga ia tega membawanya kesebuah ruangan bawah tanah yang pengap dan lembab.


Sesampainya di sebuah ruangan yang gelap. Tubuh Beby di dorong ke dinding.


"Bukankah kau ingin selalu bersamaku?" Tanya Reinz.


Beby mengangguk.


"Iya, tapi bukan begini caranya kau memperlakukanku."


Reinz menunjuk wajah Beby dengan kedua jarinya dan hampir menyentuh kedua bola mata Beby. Hingga gadis itu mundur ketakutan.


"Sampai mati kau akan berada di dekatku, jadi kau diam saja di sini."


Setelah berucap seperti itu, Reinz meninggalkan ruangan tersebut dan mengunci pintu ruangan dari luar. Ia melangkahkan kakinya dan tak memperdulilan teriakan Beby dari dalam ruangan.

__ADS_1


"Mati saja kau di dalam." Gumam Reinz.


__ADS_2