
“Bagaimana, Nek? Apa pernikahan mereka bisa dihancurkan?” tanya Iklima pada seorang nenek-nenek yang sedang menatap selembar foto ditangannya. Lama nenek itu terdiam lalu menatap Iklima seraya bertanya, “Kamu mau menghancurkan hubungan mereka dengan cara apa?”
“Aku tidak rela Bang Leman menikah dengan dia. Kalau aku tidak bisa memilikinya maka wanita itu juga tidak.”
“Baiklah kalau begitu.” Lalu si nenek tua itu berkomat-kamit tanpa suara kemudian meniup ke dalam botol air mineral yang Iklima bawa.
“Berikan air ini untuk suamimu lalu setelah itu tunggu saja hasilnya.” Iklima mengangguk lalu menyematkan sebuah amplop ke dalam tangan si nenek.
“Apa anak-anak bisa meminumnya?”
“Bisa. Ini tidak beracun. Efeknya hanya untuk orang yang dituju yaitu suamimu.” Iklima menganggup paham lalu keluar dari rumah tersebut.
Dua minggu setelah kedatangannya ke rumah Rosita, Iklima langsung membuat laporan ke kantor Leman ditemani Agus, anak sulungnya. Kondisi di dalam rumah mereka juga telah kembali seperti semula. Tiada hari tanpa bertengkar dan semua itu selalu dimulai oleh Iklima terlebih dahulu apalagi dia kerap kali mengancam Leman untuk melaporkan Rosita dan membuat istri siri suaminya itu masuk penjara serta dipecat dari kepegawaian. Agus selaku anak sulung juga ikut bersuara menentang ayahnya. Dia juga dengan lantang mendukug ibunya untuk melaporkan ayahnya ke kantor polisi.
Dalam minggu itu juga Leman tidak pulang ke rumah Rosita walaupun dia sangat merindukan istri keduanya itu. Mereka sering berkomunikasi saat Leman sedang berada di sekolah atau jika Leman di rumah orang tuanya.
Iklima yang sudah kepalang emosi tidak sabar menunggu pergerakan polisi hingga ia menempuh jalur hitam untuk menghancurkan pernikahan Leman dan Rosita. Iklima mendatangi seorang nenek-nenek di sebuah kampung di pinggir hutan. Nek Yem begitu orang-orang memanggilnya adalah seorang dukun yang sangat terkenal karena ilmu-ilmunya yang mampu melakukan semua hal demi uang dan kepuasan.
Iklima sampai di rumahnya lebih cepat untuk melakukan aksinya yaitu mencampurkan air mineral dari Nek Yem tadi ke dalam galon.
“Mamak ngapain angkat galon yang masih ada isi?” tanya Arif. Hanya dia yang selalu melihat apa saja yang dilakukan ibunya karena dia belum masuk sekolah.
“Sepertinya ada yang bocor makanya Mamak periksa. Kamu main di depan dulu biar Mamak keringkan lantainya dulu.” Arif mengangguk patuh lalu pergi meninggalkan ibunya. Air mineral tadi langsung dibuka oleh Iklima kemudian dimasukkan ke dalam galon yang masih terisi.
__ADS_1
“Masih ada waktu.” Gumamnya melihat ke arah jam dinding.
Iklima meminta izin dari rumah sakit setengah hari karena ingin mengurus laporan di kantor polisi. Beberapa atasannya sudah tahu tentang konflik rumah tangga Iklima hingga ia dengan mudah mendapatkan izin. Sementara di kantornya, Rosita sedang bercerita tentang masalah pernikahannya pada rekan-rekan kantornya yang selama ini selalu mendukungnya.
“Susah juga ya, Ta. Di satu sisi, seharusnya mereka bercerai saja dari pada tiap hari ribut. Kebahagiaan itu kan kita sendiri yang tentukan? Suaminya saja bisa mencari yang lebih baik masa istrinya tidak. Harusnya dia sadar diri ketika suami tidak lagi mau tidur sama dia itu berarti suaminya sudah tidak cinta lagi dan sudah bisa cari yang lain.”
“Kejam banget, Kak.” Sahut salah satu dari mereka.
“Eh, zaman sekarang kita jadi wanita harus realistis dan terima kenyataan jika kita juga bisa mencari pria lain bukan suami kita saja yang bisa. Sudah tidak zaman istri diam ditindas! Lagian, mereka sama-sama PNS, apa yang harus dipikir?” Rosita diam saja mendengar penuturan rekan-rekan kantornya. Perasaannya sedang tidak baik-baik saja saat ini.
“Kak, maaf ini ya kalau aku menyinggung hati Kakak. Tapi kalau boleh tahu, kenapa Kakak sampai nekat menerima Abang itu? Apa jangan-jangan Kakak sudah dipelet makanya Kakak langsung mau?” salah satu dari kolega Rosita yang paling muda di sana ikut bersuara.
“Nah, ini juga salah satu kemungkinan. Kamu pasti tidak akan mau karena sudah tahu latar belakangnya tapi kenapa justru sebaliknya? Pasti ada yang tidak beres di sini.” Sahut yang lain.
“Kalau begitu kita tidak tahu harus bilang apa, Ros. Yang namanya istri kedua itu selalu buruk di mata masyarakat. Tebal-tebalkan saja muka dan mentalmu karena jalan yang sudah kamu pilih ini tidak mudah. Kami selaku kolegamu hanya bisa menyemangatimu. Selebihnya kami juga tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Aku tahu, Kak. Terima kasih karena kalian masih mau mendengar curahan hatiku. Jujur saja, aku belum siap walaupun mulutku selalu berkata siap.”
“Kami tahu!”
Hari-hari berlalu dan rumah tangga Rosita dan Leman masih berjalan seperti biasa. Walaupun Iklima marah-marah tapi Leman tetap pulang ke kediaman Rosita setiap akhir pekan. Bahkan saat salah satu kerabat Leman membuat acara pesta atau syukuran, Rosita selalu diundang tanpa sepengetahuan Iklima. keluarga besar Leman sudah lama menaruh ketidak sukaan pada Iklima karena perangainya bahkan jauh sebelum Leman menikahi Rosita. Maka tidak heran jika setiap ada acara di keluarga besar Leman, Iklima tidak pernah ada karena mereka tidak sudi melihat wajah Iklima apalagi kata-katanya yang pedas dan tidak tahu adab seperti yang sudah-sudah.
Seperti saat ini, Leman membawa ke tiga anaknya untuk datang ke pesta salah satu kerabatnya. Di sana, Rosita juga sudah sampai bahkan dia diminta menginap oleh keluarganya di rumah pesta karena Rosita tidak bisa pulang ke rumah mertuanya takut Iklima mengamuk.
__ADS_1
“Bundaaaa.” Arif langsung berlari ke tempat Rosita duduk bersama mertua dan kerabat yang lain.
“Itu istri kedua Ayah?” tanya Andi dengan raut wajah sinis.
“Ayo!” Leman memaksa anak-anaknya untuk menemui Rosita.
“Salim dulu, Nak sama yang lebih tua!” ucap Nenek mereka yang juga ada di sana.
Ayu dan Andi menatap tidak suka pada wanita yang sedang menjulurkan tangannya dan hasilnya nihil. Baik Andi ataupun Ayu memilih pergi dari sana tanpa menerima uluran tangan Rosita.
“Maaf ya!” ucap Leman sendu.
“Tidak apa, Bang.”
Hanya Arif yang masih betah duduk di pangkuan Rosita. Anak itu dengan pikiran dan hatinya yang masih bersih dan polos tidak tahu perkara apa yang sedang dialami oleh orang-orang dewasa di sekitarnya.
“Jadi dia yang sudah merebut Ayah dari Mamak?” sinis Ayu pada abangnya. Saat ini mereka duduk sedikit jauh dari sana.
“Ibu Tiri kalian Friendly banget ya?”
***
Mau bilang apa ya???
__ADS_1