
“Ada tujuan apa kamu datang ke sini, Nak?” tanya seorang nenek-nenek yang tengah mengunyah sirih dimulutnya.
“Saya butuh bantuan Nenek untuk memisahkan sepasang kekasih. Apa Nenek bisa membantu saya?” Nenek tua itu terkekeh.
“Kamu tahu dari mana rumah saya?”
“Dari orang. Bagaimana, apa Nenek bisa membantu saya?”
“Apa kamu menyukai kekasih dari wanita itu?”
“Betul sekali.”
“Nenek hanya ingin mengingatkan, sebelum kamu melanjutkan rencanamu makaa kamu juga harus tahu tentang resiko yang mungkin kamu hadapi dikemudian hari.”
“Saya tidak peduli! Yang penting mereka pisah dan kekasihnya jadi milik saya. Apa Nenek bisa membantu saya?”
“Tentu! Kamu punya foto mereka?” Iklima mengangguk lalu mengeluarkan selembar foto yang dia ambil dari album Jelita secara diam-diam di kamar kos mereka. Mulut nenek tua tersebut berkomat-kamit dengan mata terpejam di depan foto Leman dan Jelita. Nenek tersebut mengambil sebilah pisau yang terletak di dalam guci kecil berisi kelopak bunga yang mengapung di atas air lalu menamcapkan di atas foto Jelita.
Setelah lebih dari lima menit mulutnya berkomat-kamit, Nenek tersebut membuka mata lalu menatap lekat mata Iklima. “Kamu sudah tidak bisa mundur lagi!” ucapnya tegas.
“Saya tahu!” jawab Iklima tak kalah tegas.
“Ini berikan kepada mereka, caranya terserah padamu tapi jangan sampai mereka curiga.” Iklima mengangguk patuh lalu mengambil botol air mineral dari tangan nenek tua tersebut. Gadis itu menyalipkan sebuah amplok ke bawah tikar lalu pergi meninggalkan rumah tua itu.
Iklima tidak lagi menemui Jelita, ia sudah mendapatkan jalan lain dan sekarang hanya menunggu eksekusi dari rencana-rencananya. Masa liburan telah usai dan Iklima sudah bersiap dari semalam untuk kembali ke kota.
“Kamu semangat sekali, Kak? Biasanya kamu bakal mengeluh tiap liburan berakhir?” tanya Ibu dari Iklima.
“Kuliah tidak lama lagi, Buk. Mesti semangat supaya cepat lulus dan bisa bekerja di rumah sakit.” Orang tua Iklima mengangguk seraya tersenyum lalu minibus yang menjemput Iklima akhirnya tiba.
__ADS_1
“Bus, cepatlah sampai karena aku sudah tidak sabar ingin menjalankan misi ini.” Batin Iklima di dalam bus. Tahun ajaran baru, suasana baru tapi teman sekamar tetap tidak berubah. Jelita masih sekamar dengan Iklima.
“Ma, aku senang sekali dan tidak sabar ingin cepat-cepat kembali ke sini.” Iklima mengernyit melihat rasa antusias Jelita kembali ke rumah kos. Saat ini mereka sedang membereskan barang masing-masing ke dalam lemari.
“Ada angin apa?” tanya Iklima seolah acuh.
“Bang Leman ikut sertijab di sini. Dia sudah diangkat jadi PNS dan bulan ini Bang Leman harus ikut sertijab. Kami sangat senang karena berada di kota yang sama dan bisa bertemu lebih sering. Dan yang penting tidak perlu berkirim surat lagi.” Jelita terus saja bercerita tentang hubungannya dengan Leman bahkan sampai perlakuan manis yang diterimanya. Tanpa ia sadari, semua ceritanya justru menjadi bomerang untuk kehidupannya setelah itu dan membuat Iklima semakin ingin menggeser Jelita sebagai tunangan Leman.
“Ma, kamu kenapa? Kok diam saja?” Suara Jelita membuyarkan lamunan Iklima.
Seraya tersenyum manis, “Aku turut senang kalau kamu senang.”
“Terima kasih, Ma. kamu memang sahabatku yang terbaik. Nanti kapan-kapan, kita masak lalu undang Bang Leman ke sini ya, Ma?”
“Oke!”
“Minum dulu!” Iklima menyodorkan satu gelas air putih ke hadapan Jelita.
“Terima kasih, Ma. Aku memang sangat haus tapi malas mengambilnya ke dapur. Kamu memang sahabat super pegertian.”
“Aku tahu itu!” sahut Iklima pendek lalu kembali merebahkan diri di atas ranjang mereka.
“Jadi kapan kalian menikah?”
“Bang Leman bilang setelah aku wisuda, Ma.” Jelita terus bercerita sampai ia kembali menuangkan air dari teko yang sahabatnya bawa ke kamar. Iklima tersenyum dalam hati ketika melihat Jelita meminum air yang ia bawa tanpa perlu diminta. Siang itu, Jelita bercerita panjang lebar pada Iklima tentang apa yang calon suaminya suka dan tidak termasuk makanan, pakaian dan sifat-sifat yang Leman tidak sukai dari seorang wanita. Iklima menyimak dengan saksama bahkan kadang ia juga bertanya lebih dan Jelita dengan lancarnya dia mengatakan semua tentang Leman tanpa curiga sedikit pun.
Tepat di hari minggu yang ditunggu, Iklima dan Jelita bersama rekan-rekan satu rumah kos menggelar acara bakar-bakar ikan siang itu. Leman datang ke sana membawa satu kantung plastik berisi kue dan camilan. Di sana juga ada pacar dari tiga teman satu rumah kos Iklima. Dari delapan mahasiswi keperawatan yang tinggal di rumah kos tersebut hanya tiga orang yang tidak punya pacar termasuk Iklima. Suasana hari itu cukup meriah karena para lelaki berbaur dengan hangat satu sama lain walaupun mereka memiliki latar belakang yang berbeda. Dua di antaranya ada yang polisi dan tentara tapi mereka bisa berbaur dengan para pria lain yang turut hadir di sana.
“Sayang, ambilkan piring! Ini sudah matang.” Ucap Leman pada kekasihnya.
__ADS_1
“Sebentar, Bang.” Jelita beranjak mengambil piring di dapur lalu melihat Iklima yang sedang menuang air dari botol mineral ke dalam teko.
“Ma, ngapain?” Iklima gelagapan saat Jelita mengangkap basah dirinya.
“Air di botol ini masih banyak sayang kalau tidak dihabiskan.”
“Oh…ayo makan, Bang Leman bilang kalau ikannya sudah matang.”
“Oke, aku akan menyusul setelah mengisi air minum untuk kita.” Jelita mengangguk lalu berjalan keluar menemui Leman seraya membawa piringnya.
Iklima memberikan Leman dan Jelita gelas yang sudah ia isi air putih. Tanpa curiga keduanya meneguk air tersebut karena suasana yang panas di siang itu.
Hari-hari berikutnya mereka masih bertemu jika hari libur tanpa ada perubahan yang terlihat. Iklima merasa apa yang diberikan oleh nenek tua itu tidak berpengaruh akhirnya memilih mengambil jalan sendiri. Akal licik gadis itu mulai memikirkan cara untuk memisahkan Jelita dan Leman. Gadis itu langsung mendatangi kos-kosan milik temannya yang tidak jauh dari sana. Di sana ia berbicara panjang lebar dengan teman laki-lakinya hingga membuat kesepakatan sampai akhirnya keinginan Iklima terwujud.
Hari berganti hari, sosok pemuda yang sedang kuliah itu pun melakukan pendekatan dengan Jelita. Entah trik apa yang digunakan oleh pemuda bernama Heri tersebut hingga ia bisa mendekati Jelita dengan mudah bahkan mengantar jemput hingga mengajak jalan Jelita di hari-hari tertentu.
“Apa yang kau lakukan sampai Jelita mau jalan denganmu?” tanya Iklima ketika ia mengunjungi rumah kos Heri.
Pemuda itu tersenyum, “Jelita itu polos dan lugu tidak seperti seseorang yang licik dan jahat.” Sindirnya yang langsung mendapat cibiran dari Iklima.
“Tapi kamu menikmatinya, bukan?”
“Tentu dan sepertinya aku juga jatuh cinta padanya.”
***
???
__ADS_1