
Untuk pertama kalinya Rosita datang ke rumah mertuanya dan saat itu adalah sekarang. Saat di mana ia datang untuk mengantar jenasah sang suami ke rumah orang tuanya. Rosita terduduk lemah tapi hatinya puas karena selama Leman sakit, dia selalu berada di sisi sang suami. Untuk menghindari kejadian yang tidak terduga, Rosita didampingi oleh keluarganya ke kabupaten sebelah.
Di saat jenasah Leman disalatkan di sebuah masjid, Rosita memilih duduk diam di dalam mobil. “Bunda,” seru Arief.
Anak bungsu Leman sangat dekat dengannya, “Kenapa ke sini? Nanti Mamakmu marah.” Arief tidak peduli. Anak kecil itu masih bergelayut manja di tubuh Rosita seperti sebelumnya.
“Arief, jangan di sini nanti Mamak marah.” Ucap sang nenek lalu membawa Arief keluar dari mobil.
“Kamu harus kuat, Ta. Kita semua pasti akan merasakan yang namanya meninggal.” Ujar salah satu kerabat yang mendampingi Rosita.
“Tidak, Bibi. Aku tidak sedih kerana Bang Leman meninggal. Aku hanya sedih karena di akhir hidupnya dia merasa gagal menjadi seorang ayah. Bahkan anaknya sangat tega melaporkan dirinya ke polisi. Di balik itu semua, aku bahagia karena aku sudah menunaikan tugasku dengan baik. Aku bahagia bisa merawatnya sampai akhir.”
Pemakaman dilansungkan di hari yang sama. Dan saat malam menjelang, Rosita dan keluarganya langsung kembali ke kediaman mereka di kabupaten sebelah. “Nak, bawa saja mobilnya.” Ucap ibu dari Leman.
“Iya, bawa pulang saja mobilnya. Mobil itu Leman beli pakai uang Mamak dan Bapak. Jadi bawa saja mobilnya.” Ibu War menyerahkan kunci mobil yang biasa digunakan oleh Leman saat mengunjungi rumah Rosita.
Keluarga Rosita mengangguk setuju karena sudah malam dan sulit untuk menemukan angkutan umum.
Selepas kepulangan Rosita, rumah orang tua Leman kembali sepi karena para tetangga sudah kembali ke rumah masing-masing. Hanya tinggal kakak dan abang dari Leman yang memilih menginap di sana. Arief sendiri memilih tidur di rumah neneknya bersama para sepupu yang sebaya dengannya.
Sementara di rumah Iklima, wanita itu diam-diam menangis di dalam kamarnya. Entah rasa apa yang hadir dalam hatinya setelah melihat wajah sang suami untuk terakhir kalinya. Iklima menangis dalam diam sementara mimpinya semalam sungguh membuatnya kembali terngiang dengan masa lalu.
Semalam, Jelita datang dan tersenyum seolah sedang mengejeknya lalu mantan temannya itu berbalik dan pergi begitu saja tanpa mengucap sepatah katapun.
“Mak, ayo makan dulu!” Agus berdiri di depan pintu kamar ibunya. Malam sudah semakin larut dan ibunya belum makan sedikitpun.
“Mak, ayo!”
“Pergi, Gus! Mamak tidak lapar.”
“Tapi-“
__ADS_1
“Pergi, Gus! Mamak tidak mau mendengar apa pun.”
Agus menghela nafasnya lalu berjalan gontai ke kamarnya. Tapi langkahnya terhenti saat berpapasan dengan sang adik perempuannya. “Kenapa kamu melihat Abang begitu?” tanya Agus penasaran.
“Kenapa tanya aku? Tanya sama diri Abang sendiri apakah Abang sudah layak menjadi seorang anak atau belum.” Balas Ayu.
“Apa maksudmu?”
“Aku baru tahu kalau Abang melaporkan Ayah ke polisi. Kenapa? Abang mau Ayah dipenjara? Baik sekali budi Abang sampai membuat aku terkagum-kagum. Baru kali ini aku tahu ada anak kandung yang ingin menjebloskan ayahnya ke penjara hanya karena ayahnya menikah lagi.”
“Diam kamu! Kamu itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa.”
“Oh ya? Lalu kalau sudah dewasa seperti Abang, begitu? Jadi orang sok tahu atas hubungan Ayah dan Mamak lalu ikut-ikutan melaporkan Ayah ke polisi. Kalau begitu yang disebut dewasa lebih baik aku tidak pernah dewasa.”
“Sekarang Abang puas? Ayah lebih mulia karena dipanggil oleh Allah dari pada dizalimi oleh anaknya ke penjara. Ingat, Bang! Kamu sudah menjadi anak durhaka karena mengecewakan hati Ayah di sisa umurnya. Apa kamu yakin akan hidup bahagia setelah ini? Karma berlaku!” ucap Ayu seakan hantaman pisau di hatinya. Jauh dari lubuk hatinya, Agus merasa menyesal karena melaporkan sang ayah tapi kebenciannya terhadap pernikahan kedua sang ayah telah membuat mata dan hatinya gelap.
Dia telah melihat sendiri bagaimana wanita yang menjadi istri kedua ayahnya secara dekat kemarin. Keluarga ayahnya sangat memperhatikan wanita itu ketimbang ibunya. Iklima sendiri tidak peduli dengan keberadaan Rosita karena kerabat Leman sangat menjaga wanita itu darinya. Setelah mengantar jenasah sang suami, Rosita tidak pernah lagi berkunjung ke rumah mertuanya di kabupaten sebelah. Mobil Leman yang dibawa Rosita juga sudah diambil kembali oleh saudara laki-laki dari Leman.
“Walaikumsalam, Mak.”
“Kamu sehat, Nak?”
“Alhamdulillah, Mak. Mamak sama Bapak bagaimana?”
“Kami juga sehat, Nak. Em, Mamak menelepon karena ini menanyakan apakah Leman punya hutang padamu? Iklima menuntut harta waris hak Leman jadi kami harus membagi warisan Leman untuknya dan anak-anak. Maka dari itu Mamak menelepon karena sebelum membagi warisan milik Leman kami harus melunasi dulu hutang piutangnya.”
“Bang Leman pernah meminjam uang sejumlah 7 juta, Mak. Saat itu mobil perlu perbaikan jadi Bang Leman meminta pinjaman sama Iros.” Jawab Rosita jujur.
“Baiklah kalau begitu. Em, Ros. Mamak minta maaf karena tidak bisa mencegah Iklima. Dia mengambil alih semua harta Leman dan menyerahkan pada anak-anaknya. Mamak dan Bapak tidak bisa memberikanmu hak sebagai istri dari Leman. Maafkan kami!”
“Rosita menikah dengan Bang Leman bukan untuk itu, Mak. Iros mengerti dan Mamak tidak perlu merasa bersalah. Biarkan saja semua warisan Bang Leman jatuh ke anak-anaknya. Toh, itu juga hak mereka.”
__ADS_1
“Tapi sebagai istri dalam pandangan agama, kamu juga berhak mendapatkannya.”
“Mak, Iros tidak apa-apa. Iros memberikan hak Iros untuk anak-anak Bang Leman. Biarkan Bang Leman tenang di dalam kuburnya, Mak. Jangan sampai gara-gara harta yang tidak seberapa itu membuat Bang Leman diazab dalam kuburnya.”
“Terima kasih karena kamu sudah menjadi istri yang sangat Leman sayangi. Mamak dan Bapak bahagia karena di sisa umurnya, Leman habiskan bersamamu. Sekali lagi, terima kasih.”
“Sama-sama, Mak. Salam buat Bapak dan kakak-kakak.”
“Iya. Mamak tutup dulu ya! Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam!”
Tuttt…
Rosita menghela nafasnya lalu tersenyum menatap foto Leman. Ia merasa lega dan bahagia karena pernikahan singkatnya dengan Leman mampu menjadikan dirinya lebih kuat dan sabar. Setelah meninggalnya Leman, Rosita harus menghadap ke kantor kepegawaian karena laporan dari Iklima tapi sayangnya tidak ada bukti hingga kasus tersebut ditutup. Kasus di kepolisian juga akhirnya ditutup karena Leman sudah meninggal.
Iklima menjalani hidupnya bersama anak-anak seperti biasa walaupun tidak bisa dipungkiri perasaan hatinya terasa berbeda dan dia menjadi sosok dingin serta pendiam. Sementara Rosita kembali menjadi wanita ceria dengan segudang aktivitas bersama teman-temannya sambil terus mencari sosok pendamping yang mungkin masih dijodohkan Allah untuknya.
TAMAT
***
Kisah ini tidak murni nyata, ada sebagian yang di dramatisir untuk membuat cerita lebih menarik. Namun akhir dari kisah Leman dan Rosita itu nyata. Leman meninggal tepat di sisi Rosita dan kasus hukumnya ditutup polisi setelah Leman meninggal.
Terima kasih sekali lagi untuk pembaca setia. Maaf karena aku tidak bisa membuat kisah ini menjadi panjang seperti CUT karena aku ingin mengangkat kisah akhir cerita cinta Leman dan Rosita.
Aku tunggu kedatangan kalian di DENDAM SI PETUGAS PAJAK, ya...dan karya lain yang akan hadir. SOON!!!
Sampai bertemu dengan SASTRI....
sayang sejagat raya untuk kalian semua....🙃
__ADS_1