
Orang tua Rosita kembali mengunjungi kabupaten sebelah untuk menjenguk putra mereka. Leman masih berbaring karena lemah dan ia dijaga oleh adik Rosita karena wanita itu harus pergi bekerja.
Suami istri yang tidak lagi muda itu merasa prihatin melihat kondisi Leman. “Nak, biar kami saja yang merawat Bang Leman. Kamu bisa beristirahat saja.”
“Baik, Buk.” Ucap Alim lalu keluar dari kamar Rosita.
Buk War dan suaminya menatap putra mereka dengan perasaan sedih. “Arif tidak ikut, Mak?” Tanya Leman menatap lemah orang tuanya.
“Tidak, Nak. Bagian mana yang sakit?” tanya sang ayah.
“Dada Leman masih terasa sakit sesekali, Pak. Tapi tenaga Leman seperti hilang jadi badan lemah sekali dan mata tidak sanggup terbuka lama.”
“Apa yang Rosita taruh biar badanmu merasa enak?” tanya Buk War.
“Itu, Mak. Dia mengusap minyak itu dipunggung Leman.”
Buk War mengambil botol minyak sareh lalu mengusap di punggung putranya. Menjelang siang, suara motor Rosita terdengar memasuki pekarangan rumah.
Wanita itu bergegas menyelesaikan pekerjaannya setelah mendapat telepon dari Alim yang mengatakan jika mertuanya datang berkunjung.
“Assalamualaikum, Mak, Pak. Sudah lama?”
“Walaikumsalam, baru beberapa menit yang lalu. Maaf karena tidak memberitahukanmu lebih dulu.” Ucap Buk War seraya mengusap punggung Leman dengan minyak.
“Tadi ada pekerjaan mendesak yang tidak bisa Ros kerjakan di rumah makanya terpaksa pergi dan meninggalkan Bang Leman sama Alim.”
“Iya, kami mengerti. Ya sudah kamu istirahat saja dulu. Leman biar kami yang menjaga.”
“Ros ke dapur dulu, Mak.”
__ADS_1
Rosita membuatkan minum untuk mertuanya. Dan soal menu makan siang, Rosita sudah membeli menu jadi sewaktu pulang dari kantor karena dia tidak sempat untuk memasak.
Leman tertidur setelah Buk War menyuapi makan siang untuk putranya. Sebisa mungkin wanita paruh baya itu menahan diri untuk tidak menangis di depan Leman.
“Ros, kami sudah mendatangi tabib kampung di sana-“ ucap Buk War melirik sang suami sekilas.
“Lalu apa katanya, Mak?” tanya Rosita penasaran.
“Benar seperti yang kamu Mbah itu katakan. Tabib itu juga memberitahukan kami tentang obat yang dapat menyembuhkan Leman.”
“Alhamdulillah kalau ada obatnya. Apa obatnya, Mak? Biar Ros beli.” Sepasang suami istri itu kembali melirik satu sama lain.
“Obatnya tidak dijual, Ros.” Ucap Bapak dari Leman.
“Cerai! Obatnya adalah kalian bercerai. Itu yang Iklima inginkan.” Buk War mengusap tangan Rosita lembut. Ia tidak tega melihat mereka berpisah tapi kalau harus melihat Leman kesakitan seperti ini juga membuat Buk War tidak berdaya.
“Kami juga tidak mengerti dengan jalan pikirannya, Ros.” Mereka sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing.
“Rosita harus bicara tentang ini sama Bang Leman, Mak. Sudah cukup selama ini Rosita menyembunyikan fakta bahwa istri pertamanya bermain dukun untuk memisahkan kami.”
Rosita hendak beranjak menuju kamarnya sampai ia terkejut mendapati bahwa Leman sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Jadi selama ini Abang di guna-guna oleh Iklima?” Rosita mengangguk. Dia tidak ingin lagi menutupi semua dari suaminya.
“Tabib mengatakan kalau Abang bisa sembuh jika bercerai denganku dan kembali ke rumah Kak Iklima.” Ucap Rosita. Ia juga ingin tahu apa tanggapan Leman saat mengetahui obatnya adalah cerai.
Leman berjalan lalu dengan sigap Rosita membantu memepahnya. Rosita mendudukkan Leman di meja makan bersama kedua orang tuanya.
“Mak, Pak, Leman tidak akan menceraikan Rosita apa pun yang terjadi. Kalau pun Leman meninggal, Leman ingin di dekat Rosita dan biar Allah yang menjadi penolong Leman. Allah maha tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Kalau Leman meninggal berarti itu sudah jadi ajal Leman bukan karena guna-guna Iklima.” Rosita terharu mendengar Leman lebih memilihnya dari pada bercerai. Dalam hatinya ikut terbesit niat untuk merawat Leman lebih baik lagi.
__ADS_1
Orang tua Leman tidak bisa berbuat apa-apa melihat sikap tegas Leman terhadap pernikahan keduanya karena sejujurnya, mereka juga tidak ingin Leman dan Rosita bercerai.
Selama tiga hari orang tua Leman berada di kabupaten Rosita untuk membantu menantunya merawat Leman. Dan semakin hari kondisi Leman tidak menunjukkan perubahan. Sementara di kantor polisi, Iklima kembali mendatangi kantor tersebut bersama Agus.
“Kenapa Bapak belum menangkap Ayah saya?” tanya Agus menggebu-gebu.
“Harap bersabar! Kasus yang kami tangani sangat banyak dan ada yang sudah lama sekali. Kami perlu waktu untuk menyelesaikan satu persatu.”
“Tolong usahakan secepatnya ya, Pak! Saya tidak mau kalau wanita itu sampai mengambil kesempatan untuk merebut warisan yang harusnya jadi milik anak-anak kami.” Ujar Iklima lembut di depan anggota kepolisian. Staf penerima aduan tersebut hanya bisa menghela nafasnya lalu mengangguk.
“Istri pertama menggugat suami karena takut hartanya diambil oleh istri ke dua. Yang jadi pertanyaan adalah seberapa kaya suaminya sampai harus kita yang turun tangan. Lalu status suami sebagai PNS yang seharusnya tidak boleh menikah lebih dari satu. Hadeuh...konflik keluarga seperti ini seharusnya tidak perlu melibatkan kita.” Anggota kepolisian itu mengeluh pada rekannya sesaat setelah Iklima dan Agus keluar dari sana.
“Makanya jangan coba-coba nakal di luar sana! Satu istri saja cukup kalau pacar boleh banyak.” Seloroh yang lain.
Sebulan telah berlalu dan Leman benar-benar diminta hadir ke kantor polisi tapi karena kondisi Leman disertai dengan surat dari rumah sakit membuat pihak polisi menunda pemanggilan Leman untuk sementara. Semakin hari kondisi Leman semakin lemah dan badannya juga ikut susut karena makanan yang masuk ke perut Leman sangat sedikit.
Pagi ini, Leman harus diinfus karena badannya yang lemah. Dan pihak kepolisian yang datang untuk menjemputnya jadi urung setelah melihat kondisi Leman yang sangat memprihatinkan. Leman tidak mau ke rumah sakit hingga membuat Rosita akhirnya memanggil salah satu perawat untuk memasangkan infus di rumah saja.
“Dokter mengatakan apa tentang penyakitnya, Buk?” tanya salah satu anggota kepolisian.
“Kalau saya bilang, Bapak-bapak tidak akan percaya tapi inilah faktanya. Bang Leman itu kena guna-guna dari istri pertamanya. Dia akan sembuh kalau bercerai dengan saya. Tapi Bang Leman tidak mau, dia tidak bisa hidup lagi di rumah rasa neraka. Saya rasa Bapak-bapak cukup mengerti alasan seorang pria menikah lagi.”
“Kalau memang tidak nyaman kenapa tidak bercerai saja dengan istri pertama?” tanya salah satu dari mereka.
“Sayang anak.”
***
Slow up date karena akhir tahun....
__ADS_1