
“Kamu kenapa, Ta? Tidurlah! Ini sudah malam.”
“Iya, Ta. Sepertinya besok aku harus ke rumah sakit. Bagian intimuku gatal sekali.”
Iklima masih memejamkan mata karena waktu menunjukkan sudah tengah malam. “Sering-sering ganti, Ta. Jaga kebersihan, kamu kan wanita.”
“Kurang bersih apalagi, Ma. Kita tinggal bersama bukan baru kemarin.”
“Lalu kenapa bisa gatal? Apa kamu makan sesuatu yang salah sampai alergi begitu?”
“Tidak tahu! Aku makan semua yang ada.”
“Ya sudah, besok kita ke dokter. Sekarang tidurlah!”
Keesokan harinya, Jelita dan Iklima langsung menemui dokter kulit untuk memeriksakan diri. “Untung saja dokternya perempuan. Coba laki-laki? Entah di mana mukaku ditaruh sekarang?” gerutu Jelita seraya menunggu antrian.
Iklima tersenyum kecil, “Tidak semua memalukan, Ta.”
Setelah menunggu hampir setengah jam akhirnya tibalah giliran Jelita. “Kalian mahasiswa keperawatan?” tanya dokter itu langsung karena mereka memang memakai seragam kuliah.
“Iya, Dokter.”
“Jadi ke sini dala rangka tugas kampus?”
“Bukan, Dokter. Saya semalam tidak bisa tidur karena gatal di daerah-“ Jelita menjeda ucapannya.
“Ayo, saya periksa!” Dokter itu seakan mengerti apa yang menjadikan gadis itu malu mengungkapkannya.
Dokter kulit tersebut memeriksa dengan saksama luka yang sudah berair di organ vital milik Jelita. “Sejak kapan sudah begini?” Dokter itu menatap serius pada luka yang berbau itu.
“Sudah seminggu saya tidak nyaman seperti ada yang tumbuh tapi semalam gatal sekali, Dokter. Sebelumnya tidak segatal ini makanya saya tidak terlalu memperhatikan. Saya tidak jorok, Dokter. Saya seorang perawat, tidak mungkin saya jorok dan tidak mengganti ****** ***** setiap saat. Bahkan saya selalu membawa ****** ***** cadangan saat kuliah pagi sampai sore.”
__ADS_1
“Kamu punya alergi?”
“Tidak, Dokter.”
“Maaf, sebelumnya tapi apakah kamu pernah melakukan hubungan intim?” tanya dokter itu setengah berbisik.
Mata Jelita membulat sempurna, “Ya Allah, nauzubillah. Jangankan melakukan itu, mendekatinya saja saya tidak berani, Dokter. Dan saya juga sudah punya tunangan dan kami akan menikah setelah saya lulus.”
“Maaf kalau membuatmu terganggu tapi saya hanya ingin memastikan. Jika demikian menurutmu berarti yang mengganggu tidurmu semalam bisa jadi bakteri. Saya akan meresepkan obat termasuk anti nyeri dan gatal sambil kita lihat perkembangannya. Pulang dari sini, jemur sprei, kasur, bantal dan semua kolormu di bawah terik matahari!”
“Baik, Dokter.”
Mereka menebus obat di apotik lalu kembali ke kampus. Setelah tiba di kantin, Jelita langsung meminum obatnya sesuai anjuran dokter.
“Bagaimana, apa sudah mendingan?” Jelita mengangguk, “Makasih, Ma.”
Hari yang ditunggu akhirnya datang juga. Jelita sudah bersiap dari pagi karena hari ini dia akan jalan-jalan dengan Leman. Tepat jam sepuluh, Leman sudah membunyikan klakson sepeda motornya di depan pagar kor Jelita seraya tersenyum cerah menatap Jelita yang baru keluar dari dalam.
“Aku pergi dulu, Ma.” Iklima mengangguk pelan sambil berdiri di pintu menatap iri pada mereka lalu mengembangkan senyum liciknya menatap punggung Jelita di dari belakang.
“Ta, kamu di sini juga? Ini siapa?” sapa Heri ramah. Berbeda dengan Heri, Leman justru menatap Heri dan Jelita bergantian. Jelita yang ditatap Leman tidak seperti biasanya jadi gelagapan. “Bang, kenalkan ini Heri. Dia kuliah di kampus teknik. Heri ini Bang Leman, tunanganku.”
“Kamu sudah punya tunangan, Ta? Maaf, Bang. Aku pikir Jelita masih sendiri jadi selama ini aku mendekatinya bahkan mengajaknya jalan. Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sudah punya tunangan, Ta? Kalau aku tahu kamu sudah punya tunangan, tidak mungkin aku mengatakan pada teman-temanku kalau kamu calon istriku. Mereka juga mengira begitu karena kamu selalu ada di sampingku bahkan saat aku mengajakmu di acara bakar-bakar ikan malam itu.”
Jelita tergagu mendengar perkataan Heri begitu lantang di depan Leman. Selama ini dia tidak pernah mengatakan apa-apa tentang Heri pada Leman tapi sekarang sudah terlambat. Wajah Leman mulai memerah manahan marah. Tidak ada lagi raut wajah ramah penuh senyum seperti tadi.
“Maaf, Ta. Aku sudah merusak acaramu. Maaf juga karena selama ini aku berpikir kalau kamu sedang memberikanku kesempatan untuk medekatimu tapi nyatanya itu hanya harapan palsu. Terima kasih karena selama ini kamu selalu berada di sisiku dan mendengar keluh kesahku. Terima kasih karena kamu sudah setia mendampingiku di depan teman-temanku. Selamat tinggal, Jelita.” Heri pamit dengan penuh kesedihan. Lalu tersenyum ketika raganya sudah menjauh dari pasangan tersebut.
“Jelita, apa selama ini kamu juga jalan dengan pria itu di belakangku? Katakan yang sejujurnya, Ta!” Jelita justru menunduk menahan tangis mendengar suara Leman naik satu oktaf dari biasanya.
“Kamu diam berarti benar. Apa saja yang kamu lakukan di belakangku, Ta?” Hardik Leman kembali tapi Jelita justru menahan perih lantaran rasa gatal di organ intimnya kembali mendera.
__ADS_1
“Bang, kita pulang yok.”
“Kenapa? Apa kamu sengaja menghindariku?”
“Bukan begitu, Bang. Aku gatal sekali dan sekarang waktunya aku minum obat.” Leman memicing mata menatap Jelita.
“Obat apa yang kamu minum?” selidik Leman.
“Obat gatal dari dokter. Ayo, Bang! Aku sudah tidak tahan.”
Wajah memelas Jelita mampu meluluhkan hati Leman. Kedua sejoli itu pun kembali ke rumah kos Jelita. Kali ini Leman ikut masuk untuk memastikan kebenaran dari mulut Jelita.
“Kok sudah pulang? Katanya sampai sore?” tanya Iklima saat Jelita tiba-tiba masuk ke kamar.
“Lho, ada Bang Leman juga?” Leman menangkap sekilas ke arah Iklima yang berpakain seksi siang itu. Gadis itu langsung mangambil bantal untuk menutupi paha dan selembar kain untuk menutup dadanya yang terbuka.
“Gatal lagi, Ta?” Setelah mengambil obat, Jelita langsung menuju dapur untuk mengambil makan tanpa peduli keberadaan Leman yang masih berada di kamar itu.
“Jelita sakit apa?” tanya Leman pada Iklima.
“Tanya sama Jelita saja, Bang.”
“Katakan saja tidak perlu sungkan. Kalian berteman, kamu dan dia yang memebritahukan sama saja buat saya.”
“Jelita gatal di itunya, Bang.” Kening Leman mengernyit bingung.
“Sini aku bisikkan!” tanpa curiga, Leman duduk dekat Iklima lalu wajah gadis itu langsung mengarah ke kuping Leman. Dan saat itu juga mata Leman tanpa sengaja mengarah ke dada terbuka milik Iklima.
“Jelita gatal di organ kewanitaannya, Bang. Dokter bilang, itu karena pengaruh bakteri. Dokter juga sempat bertanya apakah Jelita pernah melakukan hubungan badan dengan pria. Tapi Jelita kan tidak pernah melakukan itu. Dia kan tunangan Abang, mana mungkin dia tidur sama pria lain. Atau jangan-jangan kalian sudah pernah melakukannya ya?” Leman terkejut reflek menatap Iklima dan saat itu tanpa diduga bibir keduanya justru bertemu.
“Bangggg…”
__ADS_1
***
Jelita kenapa ya????