
“Kamu yakin mau menemui dia?” tanya sang ibu menatap putrinya yang hendak berangkat.
“Yakin, Mak. Jelita hanya ingin bertanya sesuatu yang masih mengganjal di hati Jelita sampai saat ini. Doakan Jelita, Mak.”
“Mamak selalu mendoakanmu, Sayang. Jangan lama-lama di sana ya!” Jelita mengangguk lalu mencium tangan sang ibu kemudian memeluknya erat. “Jelita sayang Mamak. Maaf karena Jelita belum bisa membahagiakan Mamak, ya.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu. Mamak akan selalu menyayangimu lebih dari apa pun dan melihatmu bahagia, Mamak juga akan bahagia. Kita bisa membangun kehidupan yang lebih baik dan indah setelah ini.”
“Amin!” ucap Jelita lalu beralih memeluk sang nenek.
“Nenek, terima kasih sudah merawat dan menyayangi Jelita selama ini. Jagain Mamak, ya. Mamak itu lebih lemah dari Jelita. Maaf karena Jelita malah mengajak Ayah malam-malam.”
“Kamu ini bicara apa? Mana ada Nenek yang jaga Mamakmu. Kamu lah sebagai anak yang menjaga Mamakmu. Sudah, pergilah! Jangan sampai kemalaman di jalan.” Jelita mencium pipi sang nenek dan ibunya sekilas lalu tersenyum sangat cantik dan itu berhasil mengubah raut wajah sang nenek.
Ibu dan nenek Jelita mengantar mereka sampai di depan pintu. Jelita sempat melambaikan tangan sebentar sebelum akhirnya menghilang bersama sang ayah.
“Ayah, terima kasih karena sudah mau direpotkan oleh Jelita. Padahal Ayah pasti capek harus mengantar Jelita malam ini.”
“Tidak ada kata capek untuk anak. Kamu itu anak Ayah sudah sepantasnya Ayah menemani kamu bertemu gadis jahat itu. Tidak usah berlama-lama di sana,ya!”
“Iya, Ayah.”
Lama mereka terdiam sampai Jelita kembali bersuara, “Ayah, maafkan segala kesalahan Jelita, ya!” Ayah dari Jelita yang sedang mengemudikan mobil angkutan menoleh sekilas ke arah putrinya.
“Kenapa meminta maaf? Kamu tidak bersalah, dia yang bersalah.”
“Ayah sangat kuat bahkan saat Ayah harus menjual rumah kita dan pindah ke kampung Nenek. Tidak sekalipun Ayah mengeluh dan bersedih karena harus menjual rumah itu. Jelita tahu kalau rumah itu adalah rumah yang Ayah bangun dari hasil jerih payah Ayah saat bertani dulu.”
“Sudah, lupakan itu. Mungkin sudah takdirnya Ayah kembali ke rumah Nenek kalau tidak siapa yang akan menjaga Nenek yang super cerewet itu.” Jelita terkekeh.
__ADS_1
“Makanya Ayah harus tetap kuat setelah ini karena Nenek dan Mamak hanya punya Ayah. Jangan bersedih lama-lama, kasihan Mamak dan Nenek.”
“Siapa yang sedih? Ayah tidak akan bersedih kalau hanya kehilangan rumah. Nanti Ayah akan membangun rumah yang lebih bagus di dekat rumah Nenek.” Jelita tersenyum lembut menatap sang ayah sampai akhirnya mobil pick up yang mereka naiki berhenti di depan rumah Iklima.
“Benar ini rumahnya?” tanya Ayah pada Jelita.
“Benar, Yah. Aku pernah melihat foto Iklima berdiri di depan rumahnya.
“Apa kita akan masuk atau hanya melihat saja?”
“Ya masuk dong Ayah. Kalau cuma mau lihat kenapa mesti jauh-jauh ke sini. Ayo!” Iklima turun sisusul sang ayah.
“Assalamualaikum,” ucap mereka serentak pada beberapa bapak-bapak yang sedang berbincang di halaman rumah.
“Walaikumsalam,”
“Apa benar ini rumahnya Iklima?” tanya Jelita.
“Saya teman satu kampusnya di kota dan ini Ayah saya.” Ayah dari Jelita bersalaman dengan mereka lalu Jelita langsung disuruh masuk ke dalam karena Iklima sedang dipakaikan inai di dalam kamarnya.
“Assalamualaikum,” ucap Jelita saat memasuki rumah Iklima.
“Walaikumsalam,” jawab para penghuni rumah yang kebanyakan ibu-ibu. Jelita tidak pernah mengunjungi rumah Iklima sehingga tidak satu pun dari mereka yang mengenal Jelita. Hanya orang tua Iklima saja yang pernah melihatnya itu pun jarang sekali karena mereka jarang mengunjungi Iklima saat di tinggal di kota.
“Iklimanya ada, Buk? Saya teman kuliahnya di kota.”
“Oh, teman kuliahnya? Masuk saja, Nak. Dia lagi dipakaikan inai di kamarnya.” Jelita mengangguk lemah lalu berjalan menuju kamar Iklima yang terletak paling depan.
“Assalamualaikum.” Suara Jelita berhasil mengejutkan Iklima ditambah lagi saat Jelita memasuki kamar dan berdiri tepat di depan Iklima yang sedang duduk di atas ranjang.
__ADS_1
“Je-jelita. Se-dang a-apa ka-mu di rumahku?” Iklima sedikit gelagapan melihat Jelita yang masih berdiri di depannya dengan senyum manis tapi menakutkan bagi Iklima.
“Kamu tega tidak mengundangku, Ma. Katanya kita sahabat sampai akhir hayat tapi kamu menikah malah tidak mengundangku.” Jelita berjalan mendekati Iklima.
“Wah, bagus ya inainya.” Ucap Jelita ramah dan langsung dijawab oleh si perias, “Kalau nanti Kakak menikah jangan lupa hubungi aku ya! Nanti aku kasih diskon.”
“Wah, makasih banyak ya! Tapi sayang, aku tidak bisa menikah karena calon suamiku direbut oleh sahabatku sendiri.”
“Benar, Kak? Kok bisa sih? Apa laki-laki di dunia ini sudah berkurang sampai ada wanita yang merebut calon suami wanita lain. Terus Kakak diam saja calon suaminya direbut?” Iklima mendudukkan dirinya di sisi ranjang menghadap si perias.
“Lalu aku harus berbuat apa, Dek? Kalau boleh jujur, hati kecilku berkata supaya aku meracuninya atau paling tidak melabraknya di depan umum cuma apalah dayaku? Dia wanita yang licik, Dek.”
“Aku turut prihatin, Kak. Kak Iklima juga harus belajar dari teman Kakak ini. Jangan cepat percaya sama orang apalagi yang satu tempat tidur. Bisa jadi dia yang paling berbahaya dari pada orang yang jauh dengan kita. Karena banyak yang mengatakan teman dekat ibarat racun yang membunuh tanpa memberi tanda terlebih dahulu.”
“Betul sekali.” Timpal Jelita.
“Ta, maumu apa sih?” tanya Iklima geram. Ia sudah tidak tahan melihat wajah Jelita.
“Saat keluargaku mengatakan hal buruk tentangmu, sulit sekali untukku percaya makanya aku ke sini sekarang. Aku ingin tahu dan memastikan apa yang mereka katakan itu benar atau tidak. Sekarang katakan, Ma. apa benar kamu mengkhianati persahabatan kita? Apa benar kamu juga menggunakan cara licik dengan pergi ke dukun hingga membuatku kesakitan dan menuruti semua keingainanmu tanpa sadar?” Iklima gelagapan melirik ke arah si perias.
“Kamu keluar dulu! Aku ada perlu dengan dia.” Titah Iklima pada gadis yang sedang merias itu. gadis itu menurut lalu melirik Jelita sekilas sampai menghilang di balik pintu.
“Apa maksudmu, Ta? Kamu jangan menuduhku sembarangan.” Iklima mulai emosi.
“Ma, aku hanya ingin mendengar kejujuranmu bukan untuk merebut lagi Bang Leman darimu. Aku akan pergi selamanya dari hidup kalian. Aku hanya ingin mendengar kejujuranmu, Ma. Kenapa tega membubuhkan bubuk dari dukun di celana dalamku sampai aku merasakan kesakitan dan malu serta menerima fitnah yang tidak aku lakukan. Apa salahku padamu, Ma? Aku tidak pernah menyakitimu apalagi berbuat licik terhadapmu tapi kenapa kamu melakukan itu semua padaku.”
“Lalu pria bernama Heri itu, apa dia pria suruhanmu juga?”
***
__ADS_1
hampir menuju ending...ada yg mau nebak???