
Isak tangis dari dua wanita menatap jasad Jelita yang sudah terbaring kaku di depan mereka. Sementara sang ayah masih belum sadarkan diri setelah kecelakan maut yang menimpa mereka tadi malam sepulang dari rumah Leman. Ayah dari Jelita masih terbaring di rumah sakit setelah dioperasi dan hanya bisa menahan sedih karena tidak bisa melihat wajah sang putri untuk terakhir kalinya.
Di saat rumah nenek Jelita sedang dirundung duka, di rumah Iklima justru sedang diselenggarakan akad nikah sekaligus resepsi pernikahan antara Leman dan Iklima. Tidak ada yang tahu tentang meninggalnya Jelita sampai acara itu selesai. Tapi satu yang terlihat aneh saat resepsi, Ayah Iklima terlihat tidak ramah sama sekali bahkan langsung menarik tangannya ketika Iklima hendak mencium tangan sang ayah. Apa yang terjadi saat akad itu memunculkan desas-desus dikalangan warga yang hadir tidak terkecuali gadis perias inai hingga akhirnya sampai ke telinga orang tua Leman.
Semua sudah terlambat tatkala Leman sudah resmi menjadi suami dari Iklima dan yang membuat Leman begitu patuh pada Iklima adalah karena Leman sudah meminum air pemberian Iklima dari semenjak ia masih menjalin kasih dengan Jelita. Air yang masuk ke tubuh Leman mengalir di dalam darah dan lambat laun membuat Leman seakan tersihir untuk beralih menatap Iklima dan membenci Jelita.
Keluarga besar Leman mencoba mencari kebenaran diam-diam dengan mengunjungi kampung Nenek Jelita seminggu kemudian. Saat itu, Iklima sudah dibawa Leman ke kabupaten lain tempat di mana Leman ditugaskan.
“Assalamualikum,”
“Walaikumsalam,” suara ringkih itu menjawab lirih. Seminggu setelah kepergian Jelita, Ibu dan Neneknya masih diliputi awan duka. Dan sudah dua hari juga ayah dari Jelita kembali ke rumah. Walaupun belum bisa berjalan dengan sempurna dan masih menggunakan alat bantu tapi kesedihan itu masih kentara di wajah sang ayah. Apalagi malam naas itu, sang ayah adalah orang yang berada di samping Jelita sampai kata-kata terakhir Jelita selalu terngiang-ngiang di telinganya.
“Ayah, maafkan segala kesalahan Jelita, ya! Jaga Mamak dan Nenek.”
Berkali-kali kalimat itu terngiang di benak sang ayah dan berkali-kali juga sang ayah menangisi sang putri. “Ayah, ada Buk War dan suaminya.” Ucap Mamak Jelita.
“Untuk apa mereka ke sini, Mak?”
“Mereka ingin bertemu dengan kita, Yah. Ayo, Yah. Kita tidak boleh menolak tamu.”
Ibu dari Jelita memapah sang suami lalu membawanya ke kamar tamu di mana keluarga Leman berada ditemani sang nenek.
“Nenek Jelita sudah bercerita pada kami tentang apa yang terjadi. Kami minta maaf baru datang sekarang-“
__ADS_1
“Sudah terlambat untuk meminta maaf.” Ayah Jelita menyela ucapan ayah Leman.
“Kami tahu tapi tetap saja kami ingin meminta maaf pada keluarga Bapak dan Ibuk. Semua terjadi begitu cepat dan kami tidak menyangka jika semua ini ulah wanita yang sekarang malah menjadi menantu kami.”
“Pulanglah! Melihat kalian di sini, hati saya sangat perih dan sakit. Bahkan di malam sebelum kejadian, Jelita masih ingin menemui putra kalian dan yang membuat saya sakit hati adalah perlakuan Leman saat itu pada Jelita. Bahkan dia menjawab perkataan Jelita dengan ketus dan pandangannya pada putri saya adalah pandangan jijik seakan putri kami sangat terhina di matanya tapi Jelita sangat lembut hatinya. Dia masih memberikan senyum terindahnya untuk Leman dan memilih pergi tanpa sedikitpun membuka aib wanita ular itu. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan orang yang sudah memfitnya diberikan hukuman setimpal.” Ayah Jelita bangkit dengan susah payah lalu kembali ke kamar.
Masih jelas di ingatannya bagaimana malam itu dia dan keluarganya terusir dari kampung setelah penghinaan yang diberikan oleh keluarga Leman. “Maaf tapi sebaiknya Bapak sekeluarga tidak perlu lagi datang ke sini. Kedatangan kalian justru membuat luka kami semakin parah.”
“Sekali lagi, maafkan kesalahan kami.” Tidak ada jawaban dari ibu dan nenek Jelita. Setelah kepulangan keluarga Leman, ibu dari Jelita kembali terisak memeluk sang mertua. Keduanya menangis bersama di rumah itu.
***
Kediaman Rosita.
“Dek, maafkan semua kesalahan Abang, ya!” ucap Leman lemah. Keringat membasahi badannya. Rosita terus mengusap punggung suaminya sepanjang hari. Kondisi Leman makin hari semakin lemah dan berkali-kali juga Leman dibawa ke rumah sakit tapi hasilnya tetap sama. Akhirnya, Leman sendiri yang meminta untuk dipulangkan dan ingin di rumah saja bersama Rosita.
“Abang ini bicara apa, lebaran masih lama. Kenapa minta maaf sekarang.” Gurau Rosita. Sejujurnya dia tidak mau mendengar perkataan Leman yang seperti ini. Dia takut akan sesuatu yang buruk di kemudian hari. Rosita takut kehilangan Leman.
“Dek, pernikahan kita memang singkat dan penuh dengan cobaan tapi Abang bahagia menjadi suami kamu. Kamu harus tetap bahagia walau tanpa Abang, ya!” luruh sudah air mata yang sejak tadi Rosita tahan.
“Istigfar, Bang. Jangan bicara yang bukan-bukan. Abang harus optimis dan semangat untuk sembuh.”
__ADS_1
“Dek, mati itu ketetapan Allah. Siap atau tidak itu pasti datang. Kalau pun amal kita belum cukup tapi apa boleh buat karena selama ini kita lalai. Kamu jaga diri jika seandainya Abang pergi lebih dulu. Dan berbahagilah!” Leman tersenyum kecil menatap wajah Rosita yang sedang menunduk menahan tangis.
Mereka terdiam untuk beberapa saat sampai mata Leman tertutup. “Bang, bangun Bang!” Rosita panik dan tiba-tiba kepanikannya langsung hilang saat Leman kembali membuka mata lalu tersenyum. “Kamu takut ya kalau Abang meninggal.” Rosita mengerucutkan bibirnya.
“Tidak lucu, Bang.” Protes Rosita.
“Dek, Abang haus.” Rosita lalu menyuapi suaminya dengan perlahan dan lembut sampai tiba-tiba Leman merasa sesak tiba-tiba dan suaranya mulai tercekat. Rosita yang sudah mempersiapkan mental lalu menuntun Leman untuk menyebut,
“La ila ha illallah.”
“La ila ha Illallah.”
“La ila ha illallah.”
Rosita telah menunaikan tugasnya sampai akhir. Wanita itu terduduk lemas dengan air mata yang terus terurai. Dalam kesedihan dan kehampaan yang dirasa, Rosita mengambil ponsel lalu menghubungi keluarga Leman dan keluarganya. Para tetangga mulai berdatangan untuk membantu mempersiapkan segala keperluan sambil menunggu keluarga Leman tiba.
Sementara di kabupaten Leman, Iklima terdiam setelah mengetahui bahwa Leman sudah meninggal dari kakak Leman yang menghubunginya. “Sekarang kamu sudah puas kan? Kamu dan Agus tidak perlu lagi melihat Leman di penjara. Sekarang Allah sudah mengambilnya dari istri dan anak durhakanya. Selamat karena kamu sudah bisa berbahagia sekarang. Leman tidak bisa lagi bersama Rosita. Tapi setidaknya dia adalah wanita yang mulia karena mendampingi suaminya sampai akhir tidak sepertimu.”
"Mak, apa benar Ayah sudah meninggal?"
***
1 atau 2 bab lagi Kisah Rosita-Leman-Iklima ini akan berakhir sesuai dengan kenyataan aslinya. Ya, kisah ini aku tulis berdasarkan kisah hidup seseorang dan akhir dari kisah ini adalah meninggalnya Leman (Nama samaran)...
__ADS_1
Terima kasih atas semua atensi kalian yang masih setia mengikuti karyaku. Selanjutnya akan ada karya terbaru yang akan meluncur beberapa hari lagi. Jangan lupa follow akun NT aku untuk mendapatkan notifikasinya. Terima kasih.....