Bukan Salahku Dicintai Suamimu

Bukan Salahku Dicintai Suamimu
Jeritan Panas...


__ADS_3

Setelah makan malam, Leman mengunjungi rumah orang tuanya bersama Arief. Tujuan Leman adalah menghubungi Rosita yang sudah beberapa jam ia abaikan karena terlalu fokus dengan anak-anaknya yang sedang mempersiapkan ujian minggu depan. Tiga kali Leman menelepon Rosita tapi baru dipanggilan ke empat baru dijawab.


“Assalamualaikum, Bang. Ada apa?” kening Leman berkerut karena nada bicara dan kalimat pembuka dari Rosita terlihat aneh.


“Lagi ngapain, Dek? Kenapa baru dijawab?”


“Aku sibuk, Bang. Banyak pekerjaan!”


“Kamu sudah makan?”


“Sudah!”


Terdengar suara menguap di telinga Leman. “Kamu mengantuk ya?”


“Iya, Bang. Hari ini aku capek sekali di kantor.”


Leman tertawa kecil, “Ditambah olahraga subuh tadi ya?”


“Bang, sudah dulu ya. Aku mengantuk sekali. Assalamualaikum.”


Tuttt....


Rosita langsung memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Leman. Pikiran dan fisiknya sangat lelah saat ini. Ia sedang berpikir serius tentang hubungannya dengan Leman ke depan sehingga ia mencoba memberi jarak pada hubungan mereka.


“Maaf, Bang. Mungkin sebaiknya kita tidak bicara dulu. Aku tidak mau terbuai kembali oleh kata-kata manismu. Jika Kak Iklima sudah membuatmu bahagia maka aku akan mundur dengan senang hati asal kamu bahagia, Bang.” Ucap Rosita pada dirinya sendiri lalu memilih tidur memeluk guling dengan air mata yang sudah mengering.


Leman pulang ke rumah dalam keadaan lesu sementara Iklima tersenyum puas menatap raut wajah Leman dari balik jendela kamarnya. “Mamak tidak ingin mengajak Ayah tidur di kamar yang sama? Sampai kapan Ayah akan menemani Arif tidur?” kata-kata Agus terus terngiang ditelinganya.

__ADS_1


Rasa gusar dan gelisah menghampiri Iklima saat teringat perkataan putra sulungnya yang sudah beranjak dewasa. “Mungkin Abang tidak sopan tapi kalau bukan Abang yang bicara siapa lagi? Hanya Abang dan adik-adik yang tahu jika Mamak dan Ayah sudah lama tidak tidur di kamar yang sama. Mamak dan Ayah masih suami istri dan aku rasa sangat aneh saat melihat kalian tidur terpisah.” Iklima mengusap tengkuknya saat kata-kata Agus yang sangat dewasa melintas dipikirannya.


“Bang,” Leman yang hendak melangkah ke kamar Agus tiba-tiba berhenti di depan kamarnya bersama Iklima. Kamar yang sudah lama dingin tanpa hubungan suami istri dari keduanya.


“Tidurlah di kamar ini!” Iklima menarik lembut tangan Leman yang masih terkejut dan setengah syok oleh ucapan istrinya. Perlahan tapi pasti, Iklima mencoba mendekati suaminya yang sudah lama ia tinggalkan. Mengusap dada hingga rahang sang suami lalu mencium bibirnya sekilas dengan lembut membuat Leman terkejut lalu secara perlahan mulai membalas apa yang sudah dimulai oleh istrinya. Awal yang panas untuk gairah yang selama ini tertahan apalagi Iklima sangat merawat tubuhnya baik dalam maupun luar hingga tubuhnya selalu menjadi candu untuk Leman saat pernikahan mereka masih hangat-hangatnya. Namun semua kehangatan itu hilang setelah Iklima sering menolaknya dan lama kelamaan ranjang itu pun menjadi dingin seiring dengan Leman yang berpindah ke kamar anaknya.


Ciuman yang awalnya lembut berubah menuntut. Gairah keduanya sungguh liar hingga saat keduanya berada di puncak hasrat dengan Leman yang sudah bersiap menyerang Iklima dengan senjatanya tiba-tiba Iklima menjerit hingga memukul wajah Leman dan mendorong Leman dengan sisa-sisa tenaganya hingag Leman terjungkang ke belakang dan hampir terjatuh dari tempat tidur.


“Keluar kamu! Jangan coba-coba mendekatiku!”


“Apa maksudmu? Aku tidak mendekatimu tapi kamu yang mengajakku lebih dulu.”


“Aku tidak mau tahu, keluar dari kamarku!” usir Iklima tanpa menatap wajah suaminya. Leman memakai pakaiannya lalu keluar di sana seraya memijit kepalanya yang terasa sakit akibat gairah yang tidak tersalurkan. Di dalam kamar, Iklima mengusap dadanya dengan nafas naik turun. Hasratnya benar-benar liar sampai ia juga harus menuntaskannya seorang diri di kamar.


Iklima terisak menahan gemuruh di dadanya. “Kenapa ini kembali terjadi?” batinnya.


Sementara di kamar Arif, Leman yang sudah menuntaskan hasratnya di kamar mandi lalu kembali menaiki tempat tidur putra bungsunya. Pikiran terus menerawang tentang apa yang sudah terjadi di kamar sebelah. Semua perubahan sifat Iklima beberapa waktu ke belakang membuat Leman mencoba menafsir apa yang sebenarnya tengah menimpa Iklima dengan semua perubahan sikapnya hingga malam ini dengan penuh kesadaran, Iklima memintanya masuk ke kamar lalu memulai pergulatan panas yang sudah lama tidak mereka lakukan.


“Ada apa denganmu, Iklima? Kenapa tiba-tiba kamu berubah dan berteriak seperti orang kesurupan?” guman Leman lalu mencoba memejamkan mata hingga tertidur sambil memeluk putranya.


Keesokan harinya, Iklima kembali marah-marah pada Leman seperti sebelumnya yang membuat Leman serta anak-anaknya kembali mengerutkan kening dengan perasaan bingung dengan perubahan sifat ibunya.


Orang tua Leman yang sudah lama tidak mendengar keributan di rumah anak menantunya dibuat terkejut pagi ini setelah mendengar Iklima kembali marah-marah dan setengah berteriak memaki Leman di depan anak-anaknya.


“Ada apa? Kenapa istrimu marah-marah lagi?”


“Tidak tahu, Mak.” Ucap Leman seraya menghela nafas.

__ADS_1


“Mamak tiba-tiba baik lalu marah-marah lagi. Adek jadi bingung lihatnya.” Sahut Arif yang membuat Ibu War menatap putranya. Leman mengangguk lemah lalu berpamitan pada kedua orang tuanya.


Sesampainya di sekolah, Leman langsung menghubungi Rosita tapi sayang, Rosita justru tidak menjawab panggilan suaminya. Leman sangat gusar apalagi perbincangan terakhir dengan istri keduanya itu tidak berjalan baik semalam.


“Sayang, kamu lagi sibuk ya?”


Tidak ada balasan dari Rosita sampai siang. Leman kembali menelepon tapi tetap sama. Pria itu tidak mau menyerah, gagal bertelepon dengan sang istri, Leman kembali mengirimi pesan untuk Rosita.


“Sayang, kamu sibuk sekali sampai tidak ada waktu buat balas pesan Abang?”


Leman tidak bisa berbuat banyak. Jika tidak mengingat jadwal ujian minggu depan mungkin sekarang dia sudah melajukan mobil dengan kecepatan tinggi ke kabupaten istri ke duanya tapi semua itu hanya angan semata. Leman tidak bisa mengunjungi Rosita karena harus mempersiapkan materi untuk ujian. Sesampainya di rumah, Leman kembali menyusun materi untuk anak-anak ujian. Ia bahkan melupakan pertengkaran semalam dengan Iklima.


Leman kembali menghubungi Rosita tapi tetap sama. “Sayang, kamu marah sama Abang? Dalam minggu ini Abang tidak bisa ke sana karena minggu depan ujian. Ini Abang sampai harus membawa pulang pekerjaan supaya cepat siap dan Abang usahakan akhir pekan ini Abang akan pulang ke sana. Kamu sabar ya!”


Ting…


Leman langsung membuka pesan dari Rosita yang begitu cepat menurutnya.


“Bang, jangan hubungi aku dulu. Aku sedang berpikir untuk mengakhiri pernikahan ini.” Mata Leman melotot hampir keluar dari tempatnya.


“Kenapa?”


 


***


Apa yang sebenarnya terjadi pada Iklima???

__ADS_1


__ADS_2