Bukan Salahku Dicintai Suamimu

Bukan Salahku Dicintai Suamimu
Leman Sayang Jelita...


__ADS_3

Hubungan Leman dan Jelita semakin harmonis apalagi saat ini Leman tengah mengikuti sertijab setelah diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Ibu kota provinsi menjadi tempat dimana sertijab dilakukan dan Jelita juga berada di kota yang sama dengannya. Walaupun sudah berada di kota yang sama, Leman tidak bisa menemui Jelita sesuka hatinya karena jadwal kuliah Jelita juga semakin padat di tahun-tahun terakhir sementara Leman juga di sibukkan dengan kegiatannya hingga akhirnya mereka memilih surat sebagai pelampiasan rindu keduanya.


Iklima berulang kali mencari kesempatan untuk berdekatan dengan Leman terutama saat ia pulang ke kampungnya ketika libur kuliah tiba. Namun sayang, rencananya untuk mendekati Leman selalu gagal karena saat libur kuliah Iklima bertepatan dengan libur sekolah dan Leman memilih pulang ke kampungnya ketika libur tiba karena ingin berdekatan dengan Jelita.


Iklima memendam obsesi kuat untuk Leman bahkan sampai mencari ke kampung Jelita supaya bisa melihat Leman tapi sayang, obsesinya justru membuat Iklima semakin menambah rasa iri di hatinya. Obsesinya juga yang membuat Iklima mendatangi rumah Jelita liburan akhir semester kemarin lalu meminta menginap di rumahnya untuk melihat Leman. Benar saja, Leman yang sudah menjadi tunangan Jelita dengan mudah berkunjung ke rumah gadis itu bahkan sesekali mengajak gadis itu untuk jalan-jalan dengan seiziin keluarga Jelita. Tapi sore itu Leman harus kecewa karena di rumah Jelita ada Iklima dan mau tak mau, Leman harus ikut bergabung dengan kedua gadis itu.


Interaksi yang terjadi di antara ke tiganya saat itu terlihat normal tapi tidak dengan ibu Jelita yang sempat mengintip anak gadisnya dari jendela. Ibu dari Jelita bisa merasakan jika Iklima punya maksud lain dengan menginap di rumahnya.


“Iklima, ke sini sebentar! Ada yang mau Mamak bicarakan.” Pinta ibu dari Jelita lembut. Jelita menyusul Iklima setelah Leman pulang dari rumahnya.


“Ada apa, Mak?” tanya Iklima dengan wajah polos.


“Begini, kami sekeluarga mau berkunjung ke rumah nenek Jelita untuk beberapa hari. Mamak minta maaf karena tidak bisa mengajakmu ke sana.” Iklima dan Jelita kompak terkejut karena sang ibu tidak pernah membicarakan ini sebelumnya.


“Kenapa tiba-tiba, Mak? Apa Nenek sakit?” Tanya Jelita panik.


“Tidak, Nak. Nenek hanya ingin kita berkumpul di sana. Dan kamu segera siapkan pakaianmu ya karena setelah ini kita akan langsung berangkat.”


“Ma, maaf ya. Ini diluar dugaanku.” Jelita merasa tidak enak pada sahabatnya.


Dengan senyum termanis, Iklima menjawab, “Tidak apa-apa, Ta. Aku juga harus pulang kalau tidak orang tuaku akan mengamuk. Maaf, Mak. Aku sudah banyak merepotkan Mamak selama tinggal di sini.” Ucap Iklima seraya tersenyum. Senyum yang penuh kekesalan dan hanya ibu dari Jelita yang mampu membacanya.


Jelita mengantar Iklima ke teras lalu mereka berpelukan sekilas kemudian Iklima pergi meninggalkan rumah Jelita dengan penuh kekesalan. Sementara itu, Jelita yang hendak bersiap kembali dipanggil oleh ibunya. “Nak, sepertinya kita tidak jadi pergi.” Mata Jelita terbuka mendengar perkataan ibunya.


“Kenapa, Ma? Tahu begitu kita bisa menghentikan Iklima pulang.” Keluh Jelita.

__ADS_1


“Bagaimana lagi, tiba-tiba Ayahmu sakit kepala. Bagaimana mau menyetir mobil kalau lagi tidak sehat. Oh iya, kamu sudah lama berteman dengan Iklima? Bagaimana dia di kampus?”


“Kenapa tiba-tiba Mamak menanyakan Iklima.”


“Ya ingin tahu saja. Setiap orang tua perlu mengetahui teman dari anaknya, apa itu salah? Apa dia punya pacar?”


“Aku tidak tahu, Mak. Aku tidak pernah melihatnya bersama pria di kota tapi dia pernah mengatakan kalau dia menyukai seorang pria tapi pria itu tinggal jauh dengannya.”


“Apa dia bilang siapa pria itu?” Jelita menggeleng.


“Pria itu satu kampung dengannya. Sebelumnya, pria itu merantau ke Malaysia tapi sekarang sudah balik ke kampung dan saat Iklima pulang ke kampungnya di sanalah dia menemui pria itu dan menyukainya pada pandangan pertama.”


“Lalu kenapa dia menginap di sini jika pria itu ada di kampungnya?”


“Mak, jangan bilang kalau Mamak mau menjodohkan Iklima dengan anak dari teman-teman Mamak itu. Dia itu sama sepertiku, tidak suka dijodohkan.” Jelita pergi meninggalkan kedua orang tuanya di ruang tengah.


Setelah kepergian Jelita, kedua orang tua gadis itu saling berpandang lalu menghela nafas bersamaan. “Kenapa Mama tidak meberitahukan Jelita?” tanya Ayah Jelita.


“Mamak tidak ingin Jelita menjaga jarak dengan gadis itu, Yah. Kita tidak tahu seperti apa temannya itu. Apalagi mereka tinggal di rumah yang sama jauh dari kita.”


Keesokan harinya, Iklima kembali mengunjungi kampung Jelita karena dia berpikir jika Jelita dan keluarganya sudah pergi ke rumah nenek mereka tapi apa yang Iklima dapat?


“Jadi mereka tidak pergi seperti yang Mamaknya bilang kemarin?” gumam Jelita seraya melewati rumah Jelita dengan sepeda motornya lalu berhenti di salah satu warung sambil berpura-pura membeli minuman.


“Lihat itu Leman dan Jelita lewat. Mereka serasi sekali ya? Sudah dengar kapan rencana pernikahan mereka, Buk?” tanya penjaga warung pada salah satu ibu-ibu di sana.

__ADS_1


“Setelah Jelita lulus kuliah, Buk. Dan Leman juga akan segera menjadi PNS. Mungkin akhir tahun ini dia sudah diangkat.”


“Keluarga mereka pasti bahagia sekali karena yang satu dapat mantu perawat dan yang satu lagi PNS. Hidup Jelita tidak akan kesusahan nantinya apalagi keluarga Leman itu orang kaya di kampungnya. Tanahnya tersebar di mana-mana.”


“Iya, Buk. Banyak yang ingin menjadikan Leman menantu tapi Buk War lebih menyukai menantu seorang perawat dari pada lulusan SMA.”


“Kalau saya punya anak laki-laki juga begitu, Buk. Lumayan kalau punya menantu perawat, kalau kita sakit sudah ada yang rawat dan memberikan obat.”


“Benar, Buk. Eh, Adek ini bukan orang kampung sini ya?” tanya sang pemilik warung pada Iklima.


Gadis itu tersenyum, “Benar, Buk. Saya mau ke rumah teman di kampung sebelah. Kalau begitu saya permisi dulu, Buk.” Iklima bergegas pergi dari sana. Ia tidak mau menimbulkan kecurigaan dari ibu-ibu tersebut.


Gadis itu pergi meninggalkan warung seraya menahan emosi di dadanya. Iklima menghentikan motornya di pinggir pantai. Ia ingin berteriak untuk meluapkan emosinya namun belum sempat ia lakukan matanya menatap dua sosok yang sudah membuatnya emosi.


Jelita sedang berjalan bergandengan tangan dengan Leman di pinggir pantai dan suasana yang sangat romantis hingga membuat jantung dan hati Iklima yang melihatnya semakin sakit.


Mata Iklima tidak berkedip menatap pasangan tersebut apalagi saat Leman mengecup kening dan pipi Jelita.


“Aku harus mendapatkanmu, Bang!!!”


 


***


Hati-hatilah pada kata "AKU TIDAK APA-APA"!!!

__ADS_1


__ADS_2