
“Astagfirullah!!!” nenek Jelita terkejut melihat organ cucunya sudah membusuk dengan bau yang sangat menyengat.
“Siapa yang sudah tega menjahati kamu sampai seperti ini, Nak?” Nenek Jelita menangis melihat kecil melihat cucunya menderita penyakit seperti ini.
“Apa maksud Mamak? Memangnya apa yang menyebabkan Jelita gatal sampai luka seperti ini?” tanya ibu dari Jelita. Sementara sang ayah hanya bisa menunduk sedih mendengar percakapan ibu dan istrinya di dalam kamar sang putri. Ayah Jelita menunggu di depan pintu kamar sang putri untuk mendengar secara langsung apa yang menimpa putrinya.
“Sudah berapa lama kamu seperti ini, Nak?” tanya sang nenek.
“Kurang lebih sebulan, Nek. Tapi Jelita sudah pergi ke dokter dan kalau sudah minum obat, gatalnya akan mereda tapi ini gak tahu kenapa setelah minum obat malah makin gatal.” Ungkap Jelita.
“Obat dari dokter hanya menghentikan rasa gatal sesaat lalu setelah itu dia akan menjadi dan semakin gatal setelah efek obat habis karena sakit kamu ini bukan karena kuman atau apa pun yang dokter katakan tapi karena kamu dijahatin oleh orang.”
“Maksudnya?”
“Apa ada yang tidak menyukaimu di tempat kos itu?”
“Tidak, Nenek! Mereka baik-baik semua hanya saja saat kejadian kemarin ada beberapa yang marah karena aku dianggap sudah membuat mereka ikut dipojokkan warga.”
“Yang melakukan ini adalah salah satu dari mereka yang tinggal denganmu di rumah itu. Serbuk penyakit ini ditaburi di celana dalammu hingga hanya area kewanitaanmu saja yang gatal dan terluka. Siapa teman sekamarmu?”
Jelita menatap neneknya, “Tidak mungkin Iklima, Nenek. Dia itu sahabatku dan yang paling baik bahkan saat teman-teman yang lain mengataiku karena kejadian kemarin dia tetap pasang badan membelaku.” Protes Jelita.
Nenek dari Jelita menatap menantunya lalu menggeleng pelan. “Dia terlihat seperti malaikat di matanya walau dia sudah terang-terangan mengkhianatinya.”
“Apa ada obat, Mak?” tanya ibu dari Jelita cemas.
Nenek dari Jelita mengangguk lalu tersenyum. “Minumlah kemudian istirahat. Besok, Nenek akan mencari obat untuk lukamu.” Segelas air disodorkan ke tangan Jelita.
__ADS_1
“Air apa ini, Nek?”
“Air obat untuk gatalmu.” Karena untuk gatal makanya Jelita langsung meminum air tersebut walau sebenarnya air itu adalah air yang sudah dibacakan doa-doa oleh sang nenek untuk membuka mata hati Jelita tentang Iklima selama ini.
Setelah menghabiskan segelas besar air berwarna cokelat seperti teh itu tapi terasa sedikit pahit, nenek dan ibunya Jelita langsung keluar dari kamar gadis itu.
“Bagaimana, Mak? Apa yang sebenarnya terjadi pada Jelita?” tanya ayah dari Jelita ketika mereka sudah berkumpul di ruang tengah.
“Selama ini Jelita seperti kerbau dicucuk hidungnya. Dia menuruti semua yang temannya itu inginkan karena sudah terkena ajian pengasih yang diberikan melalui air dan makanan yang selama ini Jelita makan.” Ujar sang nenek.
“Ya Allah, kenapa jahat sekali temannya itu?” Ibu dari Jelita tidak tahu jika putrinya memiliki teman sejahat Iklima apalagi mereka juga telah mengenal gadis itu.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya sang ayah.
“Kita sembuhkan dulu lukanya serta alihkan semua yang selama ini sudah masuk ke tubuh Jelita.” Orang tua Jelita mengangguk lemah.
Hari berganti hari, keluarga Jelita merawat luka itu dengan baik dan hati-hati. Hampir sebulan mereka berada di kampung sang nenek karena terusir dari kampung sekaligus menyembuhkan Jelita sekaligus menemukan sebuah kenyataan jika teman dari putrinyalah yang telah melakukan perbuatan keji itu dengan membubuhkan serbuk gatal yang menyebabkan Jelita menderita seperti sekarang.
“Ayah ke mana, Mak?” tanya Jelita pada ibunya yang tengah memasak di dapur.
“Ke kampung kita. Ayah sudah menjual rumah kita dan akan membangun rumah di sini.” Gurat sedih tidak mampu Jelita sembunyikan.
“Maafkan Jelita, Mak. Ini semua karena Jelita terlalu mempercayai Iklima.” Jelita sudah mengetahui jika penyakitnya berasal dari serbuk yang Iklima bubuhkan di ****** ********. Walau awalnya Jelita sulit untuk percaya tapi semua yang neneknya katakan membuat Jelita akhirnya percaya. Ia tidak pernah menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Iklima di rumah kos lalu bagaimana sang nenek bisa tahu semuanya. Hal itulah yang membuat Jelita mulai percaya dengan perkataan sang nenek.
“Assalamualaikum,” ucap sang ayah memasuki rumah.
“Walaikumsalam, bagaimana Yah?” tanya ibu dari Jelita.
__ADS_1
“Soal rumah sudah selesai. Ayah dan pembeli sudah menandatangani surat jual belinya seminggu lagi. Em,-“ Ayah dari Jelita tanpa ragu untuk menceritakan sesuatu.
“Ada apa, Yah?” tanya ibu dari Jelita penasaran. Ayah jelita menatap putri dengan gurat penuh kesedihan.
“Ada apa, Ayah? Katakan saja, Jelita sudah siap mendengar apa pun itu.” Ucap Jelita menatap sang ayah seraya tersenyum kecil.
Jelita sudah mulai menerima semua kepahitan hidupnya sebulan yang lalu. Dia sudah berjanji untuk melupakan semua kenangan buruk termasuk perasaannya untuk Leman walau ia tidak bisa memungkiri jika di sudut terdalam hatinya masih ada nama pria itu.
“Ayah mendengar kabar dari seorang teman. Dia mengatakan jika Leman akan menikah empat hari lagi.” Ayah Jelita mengeluarkan selembar kartu undangan dari dalam tasnya.
“Ayah, ini-?” suara ibu dari Jelita tercekat saat melihat undangan tersebut membuat Jelita penasaran.
“Iklima, apa dia atau wanita lain yang memiliki nama sama?” tanya ibu Jelita pada sang ayah.
“Tidak, Mak. Dia adalah Iklima yang aku kenal. Ini nama orang tua dan alamat rumahnya sama. Aku memang tidak pernah mengunjungi rumahnya tapi aku tahu alamatnya.” Ucap Jelita penuh keyakinan.
“Kalau begitu sudah jelas maksud dan tujuannya menjahatimu, Nak. Dia ingin merebut Leman darimu.” Ucap sang nenek.
“Mamak sudah curiga saat dia menginap di rumah kita. Sekarang firasat Mamak terbukti, bukan?” ujar sang ibu.
“Jika mereka menikah empat hari lagi itu berarti malam ini adalah malam henna. Aku ingin menemuinya, Yah. Tolong antarkan aku ke rumahnya malam ini, Ayah!”
“Nak, biarkan saja. Untuk apa lagi kamu berurusan dengan wanita jahat itu.” Cegah sang ayah.
“Ayah, Mamak, Nenek, tolong izinkan aku bertemu dengannya untuk terakhir kalinya. Aku ingin melihat wajah teman yang sudah mengkhianatiku sekali saja, Ayah.”
“Baiklah! Kita akan pergi menemuinya.”
__ADS_1
***
Hayooo...kira2 apa yang akan terjadi ya???