
Keduanya terpaku di tempat, Leman menatap Iklima sedangkan gadis itu malah menunduk malu membuat suasana menjadi canggung.
Ehemmm...
Leman berdehem mencoba memecah kecanggungan. “Apa kamu kenal pria bernama Heri?”
Iklima yang semula menunduk tiba-tiba mengangkat wajahnya menatap Leman. “Abang tahi dari mana? Jelita cerita tentang Heri sama Abang?” Selidik Iklima.
“Kamu jawab saja pertanyaan Abang! Kamu kenal pria bernama Heri?” Leman menatap manik mata Iklima lekat.
“Aku hanya pernah mendengar tentang Heri dari Jelita, Bang. Kalau bertemu langsung belum pernah. Aku hanya melihatnya beberapa kalo saat menjemput Jelita di kos.” Leman tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Dia pernah ke sini?” tanya Leman memastikan.
“Cuma jemput Jelita saja. Dia tidak pernah mampir seperti Abang.”
“Berapa sering dia ke sini?”
“Aku tidak menghitungnya. Bang, kalau Jelita tahu aku cerita sama Abang tentang penyakitnya dan pria itu. Dia pasti marah dan tidak mau berteman lagi denganku.”
“Tenang saja. Asalkan kamu ceritakan semua sama saya.” Iklima mengangguk patuh.
“Abang keluar saja! Aku tidak mau Jelita salah paham.”
Leman menurut kemudian keluar dari kamar Iklima. Ia melihat Jelita sedang meminum obatnya.
“Kamu sakit apa, Ta?” tanya Leman mendudukkan dirinya di samping Jelita.
“Gatal, Bang.”
“Gatal? Di mana?” Jelita gelagapan. Ia tidak malu menceritakan kondisinya pada Leman.
“Di paha, Bang.” Bohong Jelita menunduk dan Leman tahu itu.
“Bang, soal Heri. Dia hanya teman tidak lebih.”
“Lalu kenapa kamu tidak mengatakan padanya kalau kamu sudah punya tunangan?”
__ADS_1
“Maaf, Bang. Aku tidak bermaksud menyembunyikan hubungan kita. Aku hanya menganggap dia teman dan aku juga tidak melihat gelagat aneh darinya makanya aku berpikir kalau dia murni ingin berteman denganku. Dia juga mengatakan kalau dia sedang menaruh hati sama seseorang jadi dia minta saran dariku untuk mendekati gadis itu.”
Leman menghela nafasnya. Semua alasan yang Jelita berikan terlihat lugas dan lantang. Tidak ada kegugupan saat gadis itu bercerita.
“Jangan temui dia lagi!”
“Baik, Bang.”
“Ada lagi yang belum Abang tahu?” raut wajah Jelita mulai resah.
“Tidak, Bang.” Lirihnya.
“Abang pulang dulu.” Leman beranjak dari duduknya. Sejujurnya ia kecewa karena Jelita masih merahasiakan soal penyakitnya tapi Leman akan menunggu untuk itu. Ia ingin melihat kesungguhan Jelita dan kejujuran gadis itu.
Seminggu setelah kejadian itu tiba-tiba Heri kembali mendatangi Jelita ke rumah kosnya. Jelita yang saat itu sedang mengoles krim di organ vitalnya dibuat terkejut dengan kedatangan Heri yang sedang mengetok pintu kosnya.
Ceklek...
“Apa kabar, Ta?” tanya Heri dengan wajah sedihnya.
“Baik, Ri. Ada apa? Kenapa mukamu ditekuk begitu.”
“Maaf, aku lupa. Masuklah! Mau minum?”
“Minuman dingin ada?”
“Sebentar!” Jelita berjalan dan tanpa aba-aba Heri justru mengikutinya.
“Eh!” Jelita terkejut saat sebuah tangan muncul dari belakang lalu mengambil botol air mineral di kulkas.
“Tunggu kamu, lama!” ucap Heri membuat Jelita mencebikkan bibirnya.
“Kamu tidak jalan sama tunanganmu? Ini kan hari minggu?” tanya Heri masih berdiri di dekat kulkas berhadapan dengan Jelita.
“Bang Leman ada pekerjaan. Aku juga lagi malas keluar. Jadi bagaimana kejadiannya sampai kamu gagal?” tanya Jelita dalam mode serius.
Heri menghela nafasnya lalu menatap manik mata Jelita. “Dia melihat kita dan berpikir kalau kita pacaran makanya dia menolakku. Padahal sudah kukatakan kalau kita hanya teman dan kamu juga sudah punya tunangan tapi dia tidak percaya karena dia pernah melihat kita dalam jarak seperti orang berciuman.” Jelita mengernyit menatap Heri.
__ADS_1
“Kapan? Aku rasa kita tidak pernah sedekat itu.”
“Ada, Ta. Saat kita duduk bersebelahan di sebuah cafe sedang melihat menu dan saat itu posisi kita seperti ini-“ Heri tanpa sungkan memperagakan dan tiba-tiba bibir mereka bertemu dan saat itulah Leman masuk dan melihat apa yang terjadi. Leman semakin murka karena bukan hanya kecupan yang terjadi melainkan Heri mencium bibir Jelita sedikit dalam.
“Cewe yang aku suka itu kamu bukan dia. Selama ini aku hanya pura-pura ingin dekat dengan kamu sebagai teman. Aku suka sama kami, Ta.”
“Maaf tapi aku sudah punya tunangan, Heri.”
“Tidak, Jelita. Mulai sekarang pertunangan kita putus. Abang merelakan kamu sama dia. Semoga kalian bahagia.”
Jelita terkejut mendapati Leman yang sudah berdiri di pintu dapur. “Bang-“ Leman mengangkat satu tangannya lalu mendekati Jelita.
“Sesuai perjanjian, jika pertunangan ini batal. Abang berhak mengambil kembali cincin pertunangan ini.” Leman menarik paksa cincin pertunangan mereka di jari manis Jelita.
“Kamu tenang saja, Abang akan bicarakan ini baik-baik dengan keluargamu. Abang tidak akan membuat keluargamu malu karena mengetahui tingkah putrinya di perantauan.” Iklima yang berada di balik dinding tersenyum puas dalam hati lalu kembali ke luar dari rumah tersebut.
Air mata Jelita luruh hendak mengejar Leman tapi tangannya lebih dulu ditarik oleh Heri. “Biarkan dia pergi. Kalau dia mencintaimu, dia tidak akan meninggalkanmu hanya karena kesalahanku. Harusnya dia tahi kalau aku yang salah karena menciummu.”
PLakkkk....
“Puas kamu sudah merusak hubunganku dengan Bang Leman? Sebentar lagi kami akan menikah, Heri. Kenapa kamu tega merusaknya?” Jelita meronta di dalam pelukan Heri tapi Heri tetap memaksa memeluk Jelita.
“Hei, tenangkan dirimu. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Dan aku akan bertanggung jawab atas ini.” Heri mencium kening Jelita lalu memeluk gadis itu erat.
“Jadi ini yang kalian lakukan di rumahku? Kalian harus diarak keliling kampung karena sudah menodai kampung ini.” Bagai tersambar petir, sekelompok orang sudah berdiri menatap mereka dengan tatapan mengerikan.
Hari itu juga, Jelita dan Heri di arak ke balai desa lalu keduanya mandikan dan diikat di tiang bendera. Dunia Jelita seakan runtuh seketika apalagi saat menjelang sore, keluarganya dari kampung telah tiba setelah dihubungi oleh kepala desa.
“Mereka harus diusir dari kampung ini. Mereka sudah berzina dan membawa kesialan ke kampung kita.” Teriak ibu-ibu di depan mereka.
“Tidak sudi saya memiliki menantu seperti dia. Anak saya tidak mungkin ada di dalam rumah itu kalau perempuan itu tidak membuka pintu. Tangan tidak akan bertepuk kalau cuma sebelah.” Ucap ibu dari Heri menatap Jelita dan keluarganya dengan tatapan sinis.
“Sebentar lagi anak saya akan bekerja di luar negeri jadi sudah pasti dia akan menikah dengan wanita luar yang cantik dan pintar bukan dengan wanita murahan seperti dia.” Lanjutnya lagi.
Ibu dari Jelita hanya bisa terisak mendengar anaknya dihina. Apa yang wanita paruh baya itu katakan memang benar walaupun masih asa kemungkinan jika putrinya tidak bersalah. Heri langsung dibawa oleh orang tuanya sementara Jelita harus kembali ke rumah kos untuk membereskan barang-barangnya.
***
__ADS_1
????