Bukan Salahku Dicintai Suamimu

Bukan Salahku Dicintai Suamimu
Lamaran


__ADS_3

Dua buah mobil berhenti di depan rumah Rosita. Orang tua Rosita sudah berdiri di depan menyambut kedatangan mereka. Keluarga Leman datang membawa banyak buah tangan khas kabupaten mereka. Orang tua Rosita sling bersalaman lalu mempersilakan mereka untuk masuk. Rosita menghidangkan minuman dan kue-kue yang sudah ia siapakan untuk menyambut keluarga Leman. Berbincang sesaat lalu ayah dari Leman mulai angkat bicara memulai sesuatu yang serius.


“Bapak dan Ibuk tentu sudah mengetahui jika kedatangan kami ke sini membawa maksud lain selain bersilaturrahmi. Saya selaku ayah dari Leman, datang ke sini bertujuan untuk melamar putri Bapak dan Ibuk yang bernama Rosita. Bapak dan Ibu pasti juga sudah mengetahui jika putra kami yang bernama Leman sudah memiliki istri. Ada alasan khusus kenapa kami mendukung putra kami untuk menikah lagi walaupun harus menikah secara agama. Tapi itu lebih baik dari pada berzina bahkan agama kita juga menghalalkan seorang pria untuk menikah lebih dari satu apalagi anak kami sanggup secara lahir dan batin. Mereka bukan anak muda lagi, oleh sebab itu kami sebagai keluarga tidak bisa melarang keinginannya. Jadi, bagaimana Bapak dan Ibuk? Apa lamaran putra kami diterima?”


Bapak dan Ibu Rosita saling melirik lalu Bapak Rosita menatap Bapak Leman yang duduk tidak jauh darinya, “Bapak dan Ibu pasti sudah mengetahui tentang status anak kami yang bernama Rosita. Kami selaku orang tua menyerahkan semua keputusan pada Rosita karena dia yang akan menjalani pernikahan ini. Dia sudah tidak muda lagi jadi tentu tahu resikonya menikahi suami orang. Jadi semua keputusan ada di tangan Rosita. Kami hanya bisa berdoa semoga pernikahan mereka langgeng sampai akhir.”


Leman menatap Rosita yang duduk bersama ibunya. Sementar Arif terlihat senang duduk di dalam pangkuan ayahnya sambil memakan kue yang Rosita sajikan.


“Bagaimana Ta? Apa kamu meneriman lamaran Leman?” tanya bapak Rosita.


Semua keluarga Leman menatapnya, Rosita justru melirik ibu dan bapaknya. ia mengangguk kecil lalu berkata, “Iya, saya menerima Bang Leman.” Senyum cerah terbit di wajah Leman dan keluarganya. Hari itu juga, Ibu Wardiah menyematkan sebuah cincin di tangan calon menantunya. Setelah acara lamaran selesai, Ibu Rosita mempersilakan keluarga Leman untuk menyicipi hidangan makan siang yang telah mereka siapkan. Rosita mengajak Arif, anak bungsu Leman untuk mengambil nasi. Anak itu menurut lalu mengikuti Rosita patuh.


Keluarga Leman yang melihat interaksi Rosita dengan Arif ikut senang karena ternyata calon istri Leman mudah mengambil hati Arif. Di sela-sela makan siang, barulah orang tua Leman bercerita tentang istri Leman hingga membuat mereka meminta Leman untuk menikah lagi. Rosita yang mengerti tentang pembicaraan keluarga Leman langsung mengajak Arif untuk duduk di teras depan sambil melihat burung-burung milik bapak Rosita. Bagaimanapun buruknya perangai Iklima, Rosita tidak mau Arif mendengarnya.


Leman datang membawa dua gelas air jeruk dingin. Ia tersenyum senang menatap Rosita dan Arif. “Sini, Yah!” panggil Arif penuh semangat.


“Kita bawa pulang burung ini boleh, Yah?” tanya Arif pada ayahnya.


“Minta sama Bunda!” tunjuk Arif dengan dagunya.


Arif langsung menoleh pada Rosita, “Bunda, burungnya buat Arif boleh?” tanya anak dengan penuh harap.


“Burung ini punya kakek, kalau Bunda kasih ke Arif nanti Kakek gak punya teman lagi bagaimana?”


“Nanti kita sering-sering main ke sini biar kamu bisa main sama burung.” Sahut Leman membuat Arif yang sempat kecewa kini kembali berbinar.


“Terima kasih ya!” ucap Leman setengah berbisik di belakang anaknya.

__ADS_1


Rosita menatap Leman dengan kening berkerut, “Karena sudah menerima saya.” Ucap Leman kembali. Rosita hanya mengangguk pelan.


“Jadi, kapan?” tanya Leman lagi.


“Terserah Abang saja!”


“Mau mahar berapa?”


Deg…


Mereka berdiskusi seraya berbisik di belakang Arif. Dari dalam rumah, keluarga Leman tersenyum melihat interaksi mesra dari keduanya di luar sana.


“Lihatlah itu, Buk, Pak. Kami sudah lama tidak melihat Leman tersenyum bahagia seperti itu. Setiap hari hanya ada keributan, teriakan dan suara barang pecah. Leman bahkan sudah lama tidur berdua dengan anaknya yang itu. Saya sangat kasihan padanya tapi selaku orang tua kami tidak bisa berbuat banyak.”


“Kenapa tidak bercerai saja?” tanya Ibu Rosita pada akhirnya mengeluarkan suara.


“Leman menyayangi anak-anaknya. Dia tidak mau anak-anaknya bersedih jika mengetahui kalau orang tua mereka bercerai.” Ujar sang ibu kembali memandang wajah anaknya dari balik jendela.


“Yang tadi belum kamu jawab.”


“Mahar.” Sambung Leman.


“Abang berikan saja sesuai menurut Abang.”


“30 gram emas, mau?” Rosita langsung mengangguk.


Setelah makan siang, keluarga Leman langsung meminta izin untuk pamit. Untuk akad nikah keduanya akan dilakukan tanpa kehadiran keluarga karena orang tua Leman mengatakan jika kehadiran mereka ditakutkan membuat kecurigaan dari istri pertama Leman.

__ADS_1


Sementara di kabupaten sebelah, Iklima sedang mondar-mandir menahan gelisah apalagi ia sudah menghubungi Leman tapi ponsel suaminya itu malah mati. Dan yang membuatnya semakin curiga serta gelisah adalah ponsel kakak-kakak Leman juga tidak dijawab. Akhirnya, Iklima menyambar kunci mobil lalu melajukan mobilnya menuju kediaman saudara Leman yang bernama Ismail. Ia ingin memeriksa sendiri apa anak dan suaminya ada di sana atau tidak.


Dengan penuh kekesalan di hatinya, Iklima sampai di rumah Ismail dan sayangnya rumah itu malah kosong.


“Cari siapa, Kak?” tanya seorang wanita muda berdaster.


Iklima langsung merubah wajahnya yang kusut menjadi ceria, “Cari Bang Ismail, Kak. Tapi dari tadi saya kasih salam malah tidak ada yang menjawab.”


“Oh, Bang Ismil tadi pergi dengan anak dan istrinya. Mereka membawa barang-barang juga. Kayaknya mau piknik.”


“Piknik?” tanya Iklima penasaran.


“Iya, tadi saya lihat mereka membawa balon bebek dan rantang juga.” Kecurigaan Iklima mulai mereda. Ia tersenyum ramah lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah.


Sesampainya di rumah, Leman dan Arif sudah di rumah sedang mandi. Iklima yang melihat mobil Leman langsung masuk ke rumah lalu melihat suaminya yang tengah memandikan Arif. “Dari mana kalian?” tanya Iklima ketus namun diabaikan Leman.


“Bang, aku tanya kamu dari mana?”


“Kami habis mandi di sungai, Mak. Adek mau pergi lagi nanti. Mandi sungai ternyata enak.” Arif menjawab dengan polosnya.


“Kamu ke sungai? Sama siapa?” Sungai mana?” Iklima mencecar anak bungsunya.


“Apa nama sungainya, Yah?” Arif bertanya balik pada sang ayah yang sedang mengambil pakaiannya di lemari.


“Sungai Batee.” Ucap Leman menatap Iklima sekilas.


“Siapa saja yang pergi, Dek?” Iklima menatap anaknya lalu melirik Leman yang hendak meninggalkan kamar anaknya.

__ADS_1


Iklima mendekat lalu membantu memakaikan baju anak bungsunya itu. “Siapa saja yang pergi ke sungai, Dek?”


***


__ADS_2