Bukan Salahku Dicintai Suamimu

Bukan Salahku Dicintai Suamimu
Kedatangan Agus...


__ADS_3

Sepanjang acara wajah Andi dan Ayu tidak terlihat bahagia. Mereka memendam kesal karena ulah sepupu-sepupunya yang memuji-muji istri kedua ayahnya yang membuat daun telinga mereka memerah.


“Kalau kamu menyukai ibu tiriku kenapa tidak menyuruh ayah kalian buat nikah lagi supaya kalian juga punya ibu tiri yang friendly.” Balas Ayu yang membuat para sepupunya saling melirik lalu tersenyum.


“Maaf, Yu. Kami tidak bermaksud mengejekmu. Kami hanya senang saja sama ibu tirimu yang enak dan nyambung kalau diajak bicara sama kita-kita yang masih muda. Pikirannya juga muda tidak sama dengan orang-orang seusianya yang kalau bicara selalu mau menang sendiri dengan alasan orang tua lebih tahu segalanya.”


“Arif juga klop banget sama ibu tiri kalian. Lihat saja dari tadi datang sampai sekarang selalu bermanja-manja sama Bunda Ros.” Timpal sepupu yang lain.


Ayu dan Andi kompak melirik dan benar seperti yang para sepupunya katakan. “Lalu kalian mau kami juga begitu?” tanya Andi sinis.


Mereka kompak tertawa kecil, “Kami tahu kalian tidak menyukainya tapi bersikaplah baik tidak perlu menunjukkan kebencian kalian pada Bunda Ros. Kasihan beliau harus menerima kemarahan kalian padahal hubungan orang tua kalian bermasalah sudah lama bahkan sebelum ayah kalian menikah lagi. Coba kalian pikirkan lagi!”


“Susah memang kalau punya saudara yang sok bijak dan otaknya sudah tercemar oleh hasutan tidak jelas.” Ayu tidak mau kalah. Dia tidak akan menerima apa pun yang mereka katakan. Baginya, pikirannya adalah yang benar walaupun itu salah sama seperti karakter ibunya, Iklima.


“Ayo, Bang! Kita ajak Ayah pulang.” Ayu menarik tangan Andi lalu mendatangi perkumpulan nenek dan kakeknya. Di sana juga ada Leman dan Rosita bersama Arif.


“Ayo, Yah. Kita pulang, kami capek.”


“Kenapa cepat sekali, Yu? Kalian sudah makan?” tanya sang nenek.


“Kami tidak lapar. Ayo, Yah! Atau kami telepon Mamak saja biar dijemput?” Leman langsung menatap putrinya.


“Ayo!” setelah berpamitan pada Rosita dan keluarganya, Leman langsung mengantar Andi dan Ayu pulang.


“Senang sekali Ayah bisa berduan di depan keluarga besar dengan wanita itu tanpa peduli Mamak. Kenapa keluarga Ayah begitu sama Mamak? Walaupun mereka tidak menyukai Mamak tapi setidaknya Mamak juga diundang walaupun Mamak tidak akan datang. Bagaimana kalau kelaurga Mamak yang memperlakukan Ayah seperti itu? Apa mereka akan menerima?”


“Mereka lebih memilih istri baru Ayah ketimbang Mamak yang sudah memberikan Ayah empat orang anak. Apa sedikitpun Ayah  tidak menyayangi Mamak lagi? Kami lahir dari perut Mamak bukan dari wanita itu.” Ayu meluapkan kekesalannya dalam perjalanan pulang.


Leman sendiri memilih diam, ia tidak tahu harus menjawab apa setiap kata yang keluar dari mulut putrinya. Sesampainya di rumah, Ayu dan Andi langsung masuk ke dalam tanpa melihat ayah mereka.


“Kenapa muka kalian?” tanya Iklima baru datang dari dapur.

__ADS_1


“Kenapa dengan muka kami, Mak? Ada yang aneh?” tanya Andi berusaha mengalihkan. Mereka sudah sepakat untuk tidak mengatakan pada Iklima tentang kehadiran istri baru ayahnya supaya ibu mereka tidak sakit hati.


“Adek kalian mana?”


“Masih di sana. Dia tidak mau pulang.” Jawab Andi hendak masuk ke kamarnya.


“Bagaimana istri baru Ayah kalian? Apa kalian sudah berkenalan dengannya?”


Deg…


Andi dan Ayu saling lirik lalu menatap ibu mereka yang tengah tertawa kecil, “Kalian pikir Mamak tidak tahu kalau wanita itu juga ada di sana? Ck, Mamak memang tidak datang tapi teman-teman Mamak ada di sana. Bahkan Mamak sudah melihat bagaimana Adek kalian bergelayut manja di pangkuan wanita itu. Kenapa kalian tidak mengatakan sama Mamak? Apa kalian juga akan memihak wanita itu?”


“Kami tidak memihak wanita itu. Kami hanya tidak mau Mamak sakit hati.” Lirih Ayu.


“Kalian ini! Hati Mamak sudah terlanjur sakit saat tahu Ayah kalian menikah lagi. Lihat, Ayah kalian sudah pergi lagi ke pesta untuk menemui istri barunya tanpa masuk terlebih dahulu. Ingatlah, kalau kalian besar nanti, carilah pasangan yang setia jangan yang seperti ayah kalian.”


Iklima pergi meninggalkan kedua anaknya. Di kamarnya, Iklima langsung menghubungi anak sulungnya.


“Tidak dengar, Mak. Nanti Abang telepon kalau sudah sampai.”


Tutttt…


Agus pulang dari ibu kota provinsi tempatnya berkuliah dalam satu misi yaitu menemui istri baru ayahnya. Dengan emosi tertahan, Agus melajukan motornya dalam kecepatan tinggi hingga tidak lebih dari dua jam dia sudah sampai ke rumah yang langsung disambut oleh Iklima.


Setelah menyalami tangan ibunya, Agus membersihkan diri lalu berganti pakaian. “Mamak yakin tidak mau ikut untuk menonton?” tanya Agus yang sudah siap dengan pakaian batiknya.


“Yakin! Di sana sudah ada orang yang akan memvideokannnya untuk Mamak.”


Setelah berpamitan, Agus kembali melajukan motornya menuju tempat pesta salah satu kerabat ayahnya.


Setiba di tempat acara, beberapa sepupunya langsung menyapa. Mereka saling lirik melihat sikap Agus yang dingin dengan sorot mata memendam marah. Para sepupu Agus sangat mengenal karakter pria muda itu yang gampang marah.

__ADS_1


“Apa kabar, Gus? Kenapa tidak bilang kalau mau pulang?”


“Kenapa? Kalian takut aku menemukan sesuatu di sini?” ucap Agus membuat mereka kembali saling melirik penuh arti. Agus langsung berjalan menghampiri sekumpulan orang-orang yang sangat dikenalnya.


“Oh jadi ini wanita yang sudah merebut Ayah dari Mamak?” tanyanya menatap Rosita. Suasana di sana seketika berubah tegang tatkala Agus datang dan langsung menghampiri Rosita.


“Gus, kamu kapan sampai? Makan dulu, yok!” ajak sang nenek tapi diabaikan olehnya.


“Kenapa? Nenek takut aku akan mempermalukan keluarga Nenek karena telah mendukung pernikahan Ayah dengan wanita murahan ini?”


Plakkkk…


Sebuah tamparan tapi bukan dari ayahnya melaikan dari Kakeknya. “Apa ini ajaran dari kampusmu? Di mana adabmu ketika berbicara dengan orang tua?”


“Kenapa Kakek marah? Apa karena aku menyebut menantu baru Kakek sebagai wanita murahan? Lalu di mana salahku? Bukankah benar jika wanita yang merebut suami orang itu adalah wanita murahan yang tidak berdaya lagi sampai harus merebut milik wanita lain?”


Plakkk…


“Kamu tahu apa tentang rumah tangga orang tuamu? Apa kamu hanya mendengar dari ibumu dan langsung membenarkan semua perkataannya? Kamu itu sudah jadi mahasiswa seharusnya kamu lebih kritis dalam berpikir bukannya mendengar dari satu pihak saja sekalipun itu ibumu. Kalau salah tetap salah walaupun orang itu adalah orang yang telah melahirkan kita.”


“Lalu, Kakek membenarkan Ayah menikah lagi?”


“Tentu! Tidak ada yang salah karena dalam agama juga membenarkan. Lalu siapa kamu yang mengatakan ini salah? Kamu tumbuh sebesar ini hasil dari cucuran keringat Ayahmu, apa ini balasan untuknya saat dia tua?”


“Aku tidak minta dilahirkan!”


Plakkkk….


 


***

__ADS_1


Tidak bisa berkata-kata....


__ADS_2