
Keluarga Leman sangat bahagia saat melihat bagaimana Rosita merawat Leman tanpa keluh kesah. Orang tua Leman memilih tinggal di kabupaten Rosita untuk membantu Rosita merawat Leman. Rosita juga harus pergi bekerja hingga kehadiran orang tua Leman sangat membantunya.
Seminggu setelah kepulangan Leman dari rumah sakit dan kondisinya sudah mulai membaik. Tiba-tiba kabar buruk kembali menghampiri Leman karena pihak kepolisian kembali memanggilnya. Perasaan gelisah menghinggapi Leman hingga pria itu kembali tertekan memikirkan berbagai permasalahannya hingga berdampak pada kondisi kesehatannya.
“Ada apa, Bang?” tanya Rosita menghampiri suaminya yang sedang menatap langit-langit kamar mereka.
“Abang dipanggil polisi lagi, Dek.”
“Abang jangan banyak pikiran dulu. Kita hadapi nanti sama-sama. Sekarang Abang makan dulu setelah itu minum obat biar lekas sembuh.”
“Dek, bagaimana Abang tidak memikirkannya jika yang melaporkan Abang adalah Agus, anak Abang sendiri. Abang sedang berpikir, apa Abang salah mendidiknya sampai dia begitu benci hingga melaporkan ayah kandungnya ke polisi?”
Rosita sangat terkejut mendengar penuturan Leman tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. “Abang yang tenang dan sabar ya. Insya Allah cobaan ini akan cepat berlalu.” Leman hanya bisa menghela nafasnya.
“Dek, tolong usapkan minyak urut di punggung Abang!” dengan penuh kelembutan, Rosita melakukan permintaan suaminya yang terbaring lemah di kamar.
Sejujurnya, pikiran dan hatinya sama kalut seperti Leman tapi ia mencoba terlihat kuat supaya tidak menambah beban suaminya. Di saat Leman sedang terbaring lemah, Iklima dan putra sulungnya yang bernama Agus justru sedang tertawa di sebuah cafe. Mereka sedang menikmati minuman dingin bersama sambil membicarakan langkah selanjutnya yang akan mereka tempuh.
Ting...
“Andi kirim pesan katanya Nenek kamu ke rumah cari Mamak.” Iklima memberitahukan Agus tentang apa yang terjadi di rumah.
“Pasti Nenek sudah tahu tentang laporan polisi kita.” Iklima mengangguk.
“Mamak tidak akan menyerah sebelum Ayahmu meninggalkan wanita itu.”
“Lalu apa yang akan Mamak lakukan?”
“Kita lihat saja dulu bagaimana perkembangan setelah polisi turun tangan.”
Kondisi Leman semakin hari semakin buruk hingga Rosita terpaksa membawa Leman kembali ke rumah sakit. Wanita itu juga membutuhkan surat dari dokter untuk dikirim ke sekolah tempat suaminya mengajar.
Leman sudah tidak lagi pulang ke rumahnya bersama Iklima. Beberapa hari di rumah sakit, Leman kembali diperbolehkan pulang. Rosita juga mendatangi Mbah tempat dulu ia mencari obat untuk Leman tanpa sepengetahuan Leman.
__ADS_1
“Bagaimana, Mbah?” tanya Rosita cemas.
“Apa yang dimakan oleh suamimu sudah mendarah daging hingga sukar untuk menyembuhkannya lagi. Saat ini hanya air ini yang bisa meredakan sakit di dadanya. Selebihnya, kamu berdoa saja semoga ada obat untuk suamimu kelak.” Wajah sedih dan pasrah Rosita jelas terukir di wajahnya.
Rosita bergegas pulang karena ia menitipkan Leman pada adiknya tadi. Wanita itu langsung memasuki rumah dengan tergesa-gesa karena sudah lama meninggalkan suaminya. Sejujurnya saat ini , Rosita sangat ingin bertemu teman-temannya untuk bercerita tentang masalahnya tapi karena kondisi Leman tidak memungkinkan untuk ditinggal lama. Apalagi beberapa malam terakhir, ia selalu bermimpi buruk.
“Abang mau makan?” tanya Rosita begitu duduk di dekat Leman yang tengah berbaring.
“Abang tidak ingin makan. Apa yang dibilang sama Mbah? Abang sakit apa?”
“Sakit karena banyak pikiran saja, Bang. Adek juga sudah katakan kalau Abang selama ini terlalu banyak pikiran makanya sampai sakit. Jadi, mulai sekarang Abang harus membuang semua pikiran buruk kalau mau merasakan ketenangan dalam hidup.” Leman mengangguk lemah kemudian memejamkan mata.
Rosita tidak mau Leman tahu penyebab suaminya itu sampai jatuh sakit. Di bawa ke rumah sakit juga sama, suaminya itu hanya akan diinfus dan diberi obat sementara penyebab penyakitnya tidak diketahui. Rosita tidak mau jika suaminya terus menerus diberikan obat dari rumah sakit karena efeknya hanya sesaat bukan menyembuhkan.
Setelah Leman terlelap, Rosita memilih menghubungi mertuanya.
“Assalamualaikum, Ros. Bagaimana keadaanmu dan Leman?” sapa Buk War melalui sambungan telepon.
“Ada apa, Ros?”
“Sebelumnya Ros minta maaf karena sudah melewati batas. Ros memeriksa Bang Leman di tempat pengobatan tradisional dan saat Mbah tersebut melihat foto dan nama Bang Leman,-“ Rosita menjeda ucapannya.
“Apa dia diguna-guna?” Rosita tidak menyangka jika ibu mertuanya akan menebak ke arah sana.
“Iya, Mak.” Lirih Rosita.
“Mamak sudah menduga sejak awal. Lalu apa Mbah tersebut tahu cara menyembuhkan guna-guna di tubuh Leman?”
“Katanya sudah mendarah daging, Mak. Karena makanan dan minuman yang Bang Leman makan sudah lama masuk ke dalam tubuhnya. Dan secara perlahan mulai menyerang tubuh Bang Leman hingga puncaknya seperti sekarang ini. Tubuhnya sudah tidak kuat menahan hingga Abang drop.”
Buk War mendesah pelan. “Apa yang harus kita lakukan setelah ini, Ros? Apa Mbah itu tidak bisa membuat penangkal atau obat-obatan untuk Leman?”
“Mbah itu hanya memberikan air putih yang sudah dibacakan doa. Em, Bang Leman juga tidak bisa kembali ke rumah itu, Mak. Kalau dia kembali ke sana, dia akan sembuh tapi semua penyakit itu kembali dimasukkan ke tubuhnya.”
__ADS_1
“Ya sudah, biar Leman di tempatmu saja. Mamak juga tidak mau Leman kembali ke rumah itu. Wanita apa dia yang sanggup melakukan hal keji seperti itu pada suaminya. Mamak titip Leman ya! Nanti Mamak sama Bapak akan datang ke sana.”
“Iya, Mak. Kalau begitu, Ros tutup dulu ya Mak. Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam.”
Buk War mendesah pelan lalu berbalik dan betapa terkejutnya wanita paruh baya itu karena mendapati suaminya sudah berdiri di belakangnya.
“Apa yang Bapak dengar itu benar, Mak?”
“Benar, Pak. Kita harus mendatangi pengobatan tradisional untuk mencari kesembuhan untuk Leman, Pak.”
“Baiklah, besok kita akan mendatangi tabib kampung sebelah. Semoga saja ada hasil.”
“Amin.”
Keesokan harinya, Buk War dan suaminya sudah berada di tempat tabib kampung sebelah. Seperti anjuran Rosita, mereka membawa foto Leman dan satu botol air mineral.
“Bagaimana, Tabib?”
“Dia punya istri jahat sekali. Penyakitnya berasal dari makanan dan minuman yang dia makan di rumah. Itu sebabnya sangat sulit menyembuhkan seseorang yang terkena dari makanan dan minuman karena itu menjadi darah dan daging bagi si pemakan. Penyakit itu juga ikut lengket di sana.” Ujar sang tabib.
“Apa tidak ada cara untuk putra kami supaya sembuh, Tabib?”
“Ada. Caranya mudah sekali.” Kedua orang tua Leman saling menatap satu sama lain.
“Kalau putra Bapak dan Ibu ingin sembuh maka dia harus menceraikan istri keduanya. Penyakit yang diderita putra kalian adalah penyakit dari wanita cemburu. Istri pertama cemburu karena suaminya menikah lagi jadi dia melakukan sesuatu yang membuat suaminya berpisah dengan istri mudanya. Jika putra kalian pulang ke rumah istri pertamanya, dia akan sembuh dan sehat seperti sedia kala.”
“Cerai! Hanya itu obatnya.”
***
Yappp....
__ADS_1