
Kedua mantan sahabat itu saling menatap satu sama lain dalam diam. “Kenapa diam, Ma? Aku ke sini hanya ingin tahu apa yang aku pikirkan tentangmu ini benar atau tidak. Kalau pun itu benar maka aku hanya ingin tahu alasanmu melakukan itu semua padaku. Katakan, Ma! Jangan diam saja.” Iklima hanya menatap Jelita dengan pandangan sinisnya.
“Apa selama ini kamu tidak sedikitpun menganggapku sahabatmu, Ma?”
Iklima menghela nafas menatap Jelita, “Aku pernah menganggapmu sebagai sahabat, Ta. Sampai saat di mana kamu mengabaikanku lalu karena terlalu asik dengan Bang Leman. Bahkan kamu menjadikanku seperti pelayan dengan menyuruhku ini itu supaya kamu dengan leluasa pergi dengan dia. Lalu di mana letak kata persahabatan yang kamu maksud itu, Ta?”
“Ya Allah, Ma. Aku tidak pernah menjadikanmu pelayan. Aku meminta tolong bukan menyuruhmu dan kalau saat itu kamu keberatan kenapa tidak katakan saja. Maaf, Ta. Aku bukan pelayanmu! Aku tidak akan marah ataupun tersinggung mendengarnya tapi kenapa itu yang jadi alasan kamu berbuat jahat padaku. Kalau semua itu membuatmu terluka, aku minta maaf, Ma.”
“Sudah terlambat, Ta. Dan bukan itu saja yang menjadi alasanku. Aku sudah menyukai Bang Leman saat pertama kali bertemu dengan dia di rumah ini. Apa kamu tahu jika Bang Leman menyewa kamar di rumahku sebelum dia diangkat jadi PNS? Di saat itulah aku sudah jatuh cinta padanya dan keadaan memang memihakku. Dia memutuskan pertunangan denganmu lalu menikah denganku.” Ucap Iklima santai tanpa beban.
“Lalu siapa Heri? Kenapa aku bisa dekat dengannya?”
Iklima tersenyum penuh kemenangan, “Apa kamu sudah menyadarinya sekarang? Enam bulan kita terpisah ternyata kamu sudah sadar jika selama ini kamu selalu menuruti apa yang aku mau. Dia itu salah satu temanku dan ternyata dia juga menyukaimu walau perjanjian awalnya aku hanya ingin dia mendekatimu ternyata dia memanfaatkan kesempatan untuk menyukaimu tapi sayang kalian harus digrebek duluan oleh warga. Aku turut senang saat melihatmu disiram dan diludahi warga. Saat kamu menangis, aku tertawa di belakang warga.” Jelita membulatkan matanya saat mendengar pengakuan Iklima. Dadanya terasa sesak mendengar itu semua dari mulut Iklima secara langsung.
“Apa kamu sudah puas, Ta? Lebih baik tinggalkan rumahku dan jangan pernah datang lagi. Oh iya, aku sudah tidak sabar menikah dengan Bang Leman. Benar kata kamu, dia pria yang romantis. Di cium olehnya membuatku melayang, Ta. Dia memperlakukanku dengan baik dan manis. Melihatmu berjalan dan duduk lama di sini membuatku bertanya apa organ vitalmu sudah sembuh? Dukun mana yang kau temui hingga mampu menyembuhkan gatal di sana?” Ucap Iklima tersenyum mengejek Jelita.
“Jelitaaaaa, apa yang kau lakukan?” Iklima memekik melihat hiasan inainya hancur karena ulat tangan Jelita yang sudah mengacak-ngacak hiasan inai di lengan dan tangan Jelita.
__ADS_1
“Seperti inai yang hancur maka rumah tanggamu juga akan hancur, Ma. Kamu tidak akan mendapatkan kebahagian lahir batin dalam pernikahanmu. Pernikahanmu akan menjadi neraka yang akan membakarmu setiap saat. Kamu boleh mengusirku tapi setelah ini kamu akan melihat wajahku setiap Bang Leman menyentuhmu. Dan soal gatal di organ vitalku, aku memberitahumu jika gatal itu telah sembuh dan organ vitalku menjadi lebih baik dan wangi tanpa perlu perawatan. Aku hanya merasa kasihan padamu di saat nanti organ vitalmu bersih dan wangi tapi tidak terjamah. Sungguh nasibmu lebih buruk dari seorang janda. Untuk apa menikah dan memiliki suami tampan dan kekar jika tidak pernah dijamah?” Ucap Jelita lalu pergi meninggalkan kamar Iklima. Saat membuka pintu, Jelita terkejut karena ternyata si perias tadi sudah berdiri di depan kamar itu.
“Apa kamu menguping pembicaraan kami?” tanya Jelita menatap tajam pada perias itu.
“Maafkan saya, Kak.”
Jelita tersenyum lalu mengusap bahu gadis itu, “Tidak perlu dimaafkan. Sekarang kamu sudah tahu siapa wanita yang telah merebut tunangan saya, bukan? Sekarang masuk dan riaslah dia kembali sebelum dia mengamuk. Ceritakan kisahku ini pada setiap pelangganmu yang lain sebagai pelajaran hidup dan renungan bagi setiap orang. Mungkin aku tidak punya waktu dan kesempatan untuk melihat rumah tangga mereka tapi kamu punya. Saksikanlah sendiri bagaimana rumah tangga yang dibangun atas kebohongan dan kelicikan.” Gadis itu mengangguk lalu kembali memasuki kamar Iklima.
Saat Jelita hendak keluar dari rumah, dia melihat ibu dari Iklima sedang duduk bersama teman-temannya sambil bercengkrama dengan tawa bahagia. Tatapan keduanya bertemu, Jelita menyunggingkan senyumnya. “Selamat ya, Buk karena Iklima berhasil merebut calon tunangan saya dan yang lebih kejam adalah dia mampu bermain dukun untuk memisahkan saya dengan Bang Leman. Semoga kalian berkesempatan menyaksikan pernikahan putri tercinta kalian yang dibangun di atas kecurangan. Semoga panas api neraka tidak sampai ke dalam rumah kalian.”
Bisik-bisik tetanggapun mulai menyebar setelah Jelita keluar dari rumah itu. “Ayo, Yah! Kita sudah selesai di sini.”
“Apa semua itu benar? Apa yang kalian bicarakan tadi di kamar itu benar?” ayah dari Iklima tidak sengaja mendengar percakapan mereka lewat jendela luar. “Itulah kenyataannya, Pak tapi saya tidak punya bukti. Semua perbuatan Iklima hanya dia dan Allah yang tahu. Bapak akan melihat sendiri hasil dari pernikahan ini seperti apa nantinya. Allah tidak tidur, Pak. Apa yang sudah dilakukan Iklima pada saya dan keluarga saya akan mendapat balasan dari Allah. Semoga saat itu terjadi, Bapak masih ada untuk melihat kekuasaan Allah.”
“Assalamualaikum.” Ucap Jelita lalu menarik tangan ayahnya supaya keluar dari rumah itu.
“Kamu baik-baik saja, Nak?”
__ADS_1
“Baik, Ayah. Aku sudah siap mendengar segala kemungkinan yang terjadi. Ayah, tolong bawa aku menemui Bang Leman untuk yang terakhir kalinya.”
Ayah dari Jelita tidak membantah, mobil terus memecah keheningan malam hingga mereka tiba di depan rumah Leman. Jam sudah menunjukkan waktu setengah sebelas malam dan hanya ada beberapa laki-laki yang masih duduk merokok di depan rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Jelita dan ayahnya.
Melihat siapa yang datang, Leman langsung berdiri. Dia sangat terkejut melihat Jelita apa lagi gadis itu sangat cantik malam ini. Leman seperti sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis itu lagi.
“Jelita, ada apa kamu ke sini lagi? hubungan kita sudah selesai.” Ketus Leman.
“Aku tahu, Bang. Aku ke sini hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya dan memberikanmu selamat atas pernikahanmu dengan Iklima.”
“Terima kasih, Ta.”
“Terima kasih juga atas semua kasih sayangmu selama ini padaku, Bang. Kalau begitu aku pergi. Maafkan jika selama ini aku pernah berbuat salah padamu. Selamat tinggal, Bang. Assalamualaikum!”
__ADS_1
***
Apa yang kalian rasakan????