Bukan Salahku Dicintai Suamimu

Bukan Salahku Dicintai Suamimu
Nasib Jelita...


__ADS_3

“Mak, Jelita tidak melakukannya. Demi Allah, Mak. Jelita tidak melakukan zina dengan Heri. Jelita juga bingung kenapa Heri tiba-tiba mencium Jelita dan Bang Leman juga memutuskan hubungan pertunangan kami. Mak, kenapa musibah ini begitu tiba-tiba menghampiri Jelita? Apa salah Jelita?” Jelita menangis sesugukan dalam pelukan ibunya seraya berjalan menuju rumah kosnya.


“Sabar, Nak. Kalau kamu tidak melakukannya itu berarti kamu sudah difitnah tapi kedekatan kamu dengan pemuda itu memang tidak bisa dipungkiri membuat masyarakat yang melihat langsung berpikir jika kalian memang telah berzina. Tapi kami percaya jika kamu memang tidak melakukannya, ya kan Pak?”


“Hanya orang bodoh yang akan percaya jika mereka telah berzina. Bagaimana mungkin kalian berzina dengan pakain lengkap di dapur pula. Seandainya kalian ada di kamar mungkin Ayah dan Mamak akan percaya apa lagi setelah melihat caramu berjalan.” Ujar sang ayah yang memang dari tadi memperhatikan gerak-gerik Heri dan Jelita.


Sesampainya di rumah kos, Jelita dan keluarganya disambut beragam tatapan. Ada yang sinis dan ada juga yang kasihan serta tatapan tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.


“Ta, kamu tidak apa-apa?” Iklima yang pertama kali mendatangi Jelita lalu memeluk gadis itu.


“Maafkan aku, Ta karena tidak bisa membantumu.” Ujarnya lagi.


“Inilah yang disebut oleh pepatah, gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga. Gara-gara perbuatan dia seorang, kita juga ikut terkena dampaknya. Sekarang orang-orang akan berpikir kalau semua penghuni rumah kos ini sama dengan dia. Pemasok pria dan berzina di dalamnya.”


“CUKUP!!! Kenapa kamu menyalahkan Jelita atas apa yang tidak dia lakukan? Aku tahu Jelita tidak mungkin melakukan itu.” Iklima bersuara paling keras di antara mereka membuat Jelita tersenyum menatap sahabatnya.


“Terima kasih, Ma. Tapi kamu tidak usah membelaku sampai seperti ini. Wajar saja jika mereka menuduhku karena apa yang mereka lihat memang membuat siapa saja akan berpikir begitu termasuk Bang Leman. Sekarang dia sudah memutuskan pertunangan kami.” Jelita terlihat sedih lalu berjalan menuju kamarnya.


Orang tua Jelita membantu membereskan semua barang-barang Jelita. “Kamu masih tetap kuliah kan, Ta?” tanya Iklima duduk di samping Jelita yang sedang memandang foto dirinya bersama Leman.


“Tidak tahu, Ma. Sekarang aku hanya ingin pulang dan menenangkan diri dulu. Aku akan mengirim surat ke kampus untuk mengambil cuti.” Iklima mengangguk lalu meninggalkan Jelita di kamarnya. Iklima kembali masuk lalu membawa nampan berisi air untuk Jelita dan orang tuanya.

__ADS_1


“Diminum dulu, Ayah, Mamak.” Ucapnya lembut.


Berita penggerebekan seorang mahasiswi keperawatan dengan seorang mahasiswa fakultas teknik mulai menyebar di kalangan mahasiswa kedua kampus. Berbekal uang dan orang dalam, Heri dengan mudah pergi meninggalkan kampus tersebut untuk pindah ke kampus lain di luar kota. Sedangkan Jelita, ia harus rela menerima surat dari kampus yang menyatakan jika ia dikeluarkan dari sana karena alasan perbuatan tercela dan telah mencemari nama kampus.


Jelita meraung membaca setelah menerima surat tersebut di kamarnya. Orang tua Leman yang sudah mendengar tentang apa yang terjadi pada Jelita juga ikut datang ke rumah Jelita. Mereka tersulut emosi mendengar Jelita telah berzina di belakang Leman.


“Mulai sekarang hubungan keluarga kita putus sampai di sini! Kami tidak sudi menjalin silaturahmi dengan keluarga kalian. Apalagi anak kalian telah mencemarkan nama baik kami. Untung saja Leman menangkap basah kalian jika tidak entah apa yang terjadi. Kami tidak bisa membayangkan jika Leman harus menikahi wanita hina seperti Jelita.”


Setelah puas mencaci maki, keluarga Leman terutama ibu dan kakak-kakak Leman pergi meninggalkan rumah Jelita. Tak lama setelah itu, tetua kampung Jelita mulai berdatangan ke rumah Jelita.


“Ada apa ini, Bapak-bapak?” tanya ayah dari Jelita.


“Kami meminta supaya Bapak sekeluarga segera meninggalkan kampung ini. Kami sudah bermusyawarah semalam dan kami menolak dengan tegas adanya Jelita di kampung ini. Dia sudah berzina dan itu bisa membuat kampung ini mengalami kesialan.”


Kedua orang tua Jelita akhirnya mengambil sikap dengan meninggalkan kampungnya. Malam itu juga mereka pergi meninggalkan kampung seraya membawa Jelita. Para warga menatap jijik ke arah Jelita dan tiba-tiba seorang ibu-ibu pun bersuara, “Lihat itu darah!”


“Apa dia sudah hamil?”


“Kenapa baunya sangat busuk seperti ini?” orang tua Jelita kompak menatap putrinya dengan perasaan khawatir. “Kamu kenapa, Nak?” tanya ibu dari Jelita panik.


“Jelita tidak apa-apa, Mak. Hanya gatal saja dan sepertinya Jelita menggaruk sedikit kuat sampai berdarah.”

__ADS_1


Ibu-ibu yang mendengar pun kembali bersuara, “Makanya jangan gatal menjadi perempuan. Lihat kan penyakit gatal yang menimpa barangmu itu karena ulahmu sendiri yang gatal terhadap laki-laki. Itulah hukumnya kalau kamu bermain-main dengan pria yang bukan suamimu.”


Para warga masih saja meneriaki Jelita sampai gadis itu menghilang memecah keheningan malam. Mobil pick up itu membawa Jelita dan keluarganya menuju kampung paling jauh dari sana yaitu kampung nenek dari Jelita.


“Sejak kapan kamu mulai gatal di situ?” tanya sang ibu di dalam perjalanan.


“Mungkin sudah sekitar satu bulan kalau tidak salah, Mak.” Lirih Jelita.


“Kenapa tidak pernah cerita sama Mamak?”


“Jelita tidak mau membuat Mamak cemas. Di sana juga Jelita sudah memeriksakan diri ke dokter dan dokter bilang hanya infeksi bakteri dan bisa disembuhkan dengan obat-obatan yang rutin.”


“Nanti perlihatkan sama Nenekmu supaya diobat pakai ramuan.” Ucap ayah dari Jelita. Malam itu di tengah gelap dan dinginnya malam, nasib Jelita berubah total. Cita-citanya untuk menjadi perawat akhirnya kandas oleh fitnah dan pertunangannya dengan Leman juga kandas oleh fitnah dan sekarang keluarganya terusir juga akibat fitnah.


“Mak, Ayah, maafka Jelita.” Lirihnya memeluk lutut.


“Sudahlah. Ini adalah cobaan untuk keluarga kita dan kamu harus kuat menjalaninya. Kita akan melewati ini sama-sama.” Ibu dari Jelita mencoba mengghibur sang putri walaupun hatinya ikut hancur melihat perlakuan setiap orang kepada mereka.


“Ya Allah ya rahman ya rahim. Beri keadilanmu untuk kami. Hamba tidak rela anak hamba difitnah begini. Berikan hukumanmu kepada siapa pun yang sudah memfitnah dan berbuat jahat kepada putri kami.” Seraya menangis, ibu dari Jelita berucap permohonan dengan penuh pengharapan pada sang khalik.


“Nak, doa orang yang terzalimi akan langsung dijabah. Percayalah, kita masih punya Allah tempat kita mengadu segalanya. Kita tidak sendiri.”

__ADS_1


“Amin!”


***


__ADS_2