Bukan Salahku Dicintai Suamimu

Bukan Salahku Dicintai Suamimu
Masa Lalu...


__ADS_3

23 tahun yang lalu…


 


“Dek, bagaimana kalau sebelum Adek ke kota kita tunangan dulu.” tanya Leman pada seorang gadis manis nan ayu yang duduk di sampingnya.


“Abang tidak masalah menungguku lulus kuliah tiga tahun lagi?”


“Abang akan setia menunggu Dek Jelita seorang.”


“Benar ya? Awas kalau bohong!”


“Benar. Setelah ini, Abang akan bicarakan pada Mak dan Bapak untuk melamar Adek.” Jelita mengangguk.


“Janji setia sama Abang ya!” Jelita kembali mengangguk sembari tersenyum dengan sangat manis.


Hari pertunangan itu pun terjadi. Jelita dan Leman resmi bertunangan di depan keluarga besar keduanya. Kedua belah pihak sudah sama-sama mengetahui jika Leman dan Jelita memiliki hubungan terutama Leman yang sudah beniat dari awal untuk menikahi gadis manis yang masih menggunakan seragam putih abu-abu tersebut.


Leman menyematkan cincin di jari manis Jelita lalu mengecup kening gadis itu sekilas. “Janji saling setia!” Jelita menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Leman membuat para anggota keluarga yang hadir ikut bersorak melihat tingkah keduanya.


Seminggu setelah acara pertunangan keduanya, Jelita hendak berangkat ke kota untuk melanjutkan sekolah keperawatan selama tiga tahun. Leman ikut mengantar Jelita ke terminal saat itu.


“Sering-sering kirim surat!” Gadis itu mengangguk lalu tersenyum. “Abang juga!”


“Pasti!”


Bus membawa Jelita pergi meninggalkan Leman untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang perawat. hari-hari berlalu terasa sepi untuk Leman hingga pria itu memutuskan untuk mengabdi di sebuah sekolah yang sedikit jauh dari kampungnya. Lulus dari sekolah guru olahraga, Leman tidak mau tinggal diam. Ia ingin berguna untuk anak-anak di daerahnya hingga rela mengabdi tanpa digaji.


Walaupun keduanya menjalani hubungan jarak jauh, Jelita dan Leman memantapkan hati untuk setia. Bahkan mereka rajin berkirim surat seminggu atau dua minggu sekali sampai petugas kantor pos sudah hafal dengan wajah Leman karena terlalu sering mengirim surat dan Leman dengan bangganya memberitahukan pada petugas kantor pos kalau dia mau mengirim surat untuk tunangannya yang sedang kuliah keperawatan di kota.

__ADS_1


Setahun berhubungan jarak jauh, hubungan mereka masih baik-baik saja sampai saat lebaran pun mereka saling mengunjungi keluarga satu sama lain. Lalu tahun kedua pun berjalan seperti biasa sampai hari di mana Leman ingin mengunjungi rumah kos Jelita tapi sayangnya gadis itu sedang tidak ada di rumah.


“Jadi kamu kos di sini juga?” tanya Leman pada gadis yang berasal dari daerah tempat Leman mengajar.


“Jadi Abang ini tunangan Jelita?” Leman mengangguk.


“Dunia sempit sekali ternyata. Aku teman kos tunangan Abang lalu Abang kos di rumahku.” Ucap Iklima seraya tertawa kecil.


“Biasanya Jelita pulang jam berapa?” tanya Leman karena sudah menunggu Jelita satu jam lebih.


“Tidak tahu, Bang. Dia mau menyelesaikan laporan. Biasanya sore baru pulang. Abang sudah makan? Kita makan dulu ya! Nanti kalau Jelita tahu Abang ke sini lalu tidak menawari Abang makan,  dia pasti mengamuk.”


Leman mengangguk lalu mengikuti Iklima ke meja makan kecil yang ada di dekat dapur. Iklima menghidangkan makanan di atas meja untuk mereka berdua.


“Maaf ya, Bang. Menunya ala anak kos ini.”


Ikliam sudah menaruh hati pada Leman sejak ia pulang saat libur kampus dan saat itu juga ia bertemu dengan Leman yang hendak pulang ke kampungnya. Dari orang tuanya, Iklima mengetahui jika Leman menyewa salah satu kamar di rumahnya. Ia sudah tahu jika Leman adalah tunangan dari jelita yang tinggal satu kamar dengannya di kota tapi Iklima bersikap seolah tidak mengenal Leman. Padahal tiap saat Jelita selalu menceritakan tentang Leman padanya sampai isi suratnya pun Iklima tahu karena Jelita selalu memperlihatkan padanya bahkan foto Jelita dan Leman terpasang indah di atas meja belajar mereka.  


“Setelah ini Abang ke mana lagi?” tanya Iklima.


“Tidak tahu, Ma. Abang pikir mau mengajak jalan-jalan Jelita tapi dia malah tidak ada. Ya mau ke mana lagi.”


“Mau temani aku beli buku, Bang? Biasanya aku mengajak Jelita tapi dia malah tidak ada, bagaimana?”


“Baiklah! Abang juga berniat mau mengunjungi teman Abang yang akan menikah besok.” Seolah mendapat angin segar, Iklima tersenyum sangat lebar. Iklima langsung mandi dan berdanda cantik dengan baju terbagus yang dia miliki.


Leman menghidupkan motornya lalu Iklima duduk di belakang. Dan saat Leman melajukan motornya, tangan Iklima dengan santainya diletakkan di pinggang Leman. Cinta di hati Leman hanya untuk Jelita sampai-sampai kehadiran Iklima sama sekali tidak mempengaruhinya bahkan saat dada montok Iklima menempel di punggungnya.


Setelah menunjukkan nama toko buku yang ingin mereka datangi, keduanya lansung memasuki toko tersebut dan betapa terkejutnya Leman saat melihat Jelita juga berada di sana.

__ADS_1


“Dek,”


“Bang. Abang di sini? Kapan sampai? Maaf ya, Bang. Aku tidak tahu Abang datang dan malah tidak menunggu di rumah.” Jelita memegang tangan Leman dengan raut wajah sedih. Sementara Jelita justru sedang memendam emosi karena rencananya untuk pergi lebih lama dengan Leman jadi gagal. Dia menyesali keputusannya mengajak Leman ke toko buku. Ia tidak menduga jika Jelita akan pergi ke toko yang sama.


“Kamu tidak salah, Dek. Abang memang berniat memberikan kejutan untukmu dengan datang tanpa memberitahukan terlebih dahulu. Kamu masih lama? Abang mau mengajakmu ke rumah teman kuliah Abang. Besok dia akan menikah dan dia juga tahu kalau Abang sudah memiliki tunangan dan dia meminta Abang untuk mengajakmu sekalian. Bagaimana, apa kamu mau ikut?” Jelita mengangguk cepat.


“Terus laporanmu bagaimana, Ta?” tanya Iklima yang sedari tadi diam saja memperhatikan keromantisan mereka.


“Sudah selesai, Ma. Aku titip sama kamu ya! Agak berat kalau harus membawanya.”


“Iya, tidak apa-apa. Kamu pergi saja, kasihan Bang Leman sudah jauh-jauh ke sini.” Iklima dengan senyum lebarnya mengambil laporan dari tangan Jelita. Leman langsung mengajak Jelita pergi meninggalkan Iklima yang masih berdiri di depan toko dengan emosi terpendam.


“Jangan sebut namaku jika tidak bisa menghancurkan hubungan kalian!” gumam Iklima lalu menyalakan motornya dengan membawa laporan milik Jelita.


Jam sepuluh malam, Jelita baru pulang ke rumah kosnya. Dari balik jendela, teman-teman Jelita mengintip atraksi sepasang sejoli itu termasuk Iklima. Mereka kompak membuka mulut dan mata lebar-lebar saat Leman menarik tangan Jelita yang hendak masuk lalu mencium pipi tunangannya tersebut. Jelita menunduk malu, Leman tersenyum manis menatap tunangannya tersipu malu.


“Mereka romantis sekali, bikin iri kita-kita saja.” ucap salah satu teman kos Jelita di balik jendela.


“Iya, aku juga mau punya tunangan seperti Bang Leman. Dia pria yang romantis. Senang sekali Jelita bisa punya suami seperti Bang Leman.” Sahut yang lain.


“Jangan harap kalian bisa menikah!”


 


 


***


Saat kalimat "TIDAK APA-APA" keluar dari mulut orang di depan kita MAKA yakinlah sebenarnya dia SEDANG TIDAK BAIK-BAIK SAJA

__ADS_1


__ADS_2