Bunga Untuk Zara

Bunga Untuk Zara
Chpt. 10 - Masa Lalu (3)


__ADS_3

“Jaga bicaramu! Aku ini suamimu, bisa-bisanya kamu menuduhku seperti itu. Iya benar bahwa dulu aku mencintainya. Namun sekarang berbeda, aku sudah memiliki anak dan istri yang menjadi tanggung jawabku. Itu hanya masalalu , dan berhenti memfitnahku seperti itu!”. Hendra lalu pergi meminggalkan Sandra yang masih berdiri di sana,


Sambil menangis dan memegang pipinya yang tadi ditampar suaminya. Ia terus menangis tersedu-sedu, tidak menyangka bahwa ia akan menerima perlakuan seperti itu oleh Hendra.


Aku nggak menyangka Mas Hendra sampai menamparku seperti ini, ini semua karena kamu Ningsih. Aku fikir kamu hanya mencari pekerjaan, tapi ternyata kamu juga mau merebut suamiku, semua milikku. Aku nggak akan membiarkan kamu melakukan ini Ningsih. Lihat saja. Batin Sandra.


Hari-hari pun berlalu, pertengkaran demi pertengkaran terus terjadi dalam rumah tangga Hendra dan Sandra. Sandra selalu saja menyulut emosi Hendra saat ia berada dirumah. Tidak tahan lagi dengan sikap Sandra yang semakin jadi membuat Hendra jengah dan tidak betah berada lama-lama di rumahnya sendiri.


Hari itu di kantor, saat Hendra sedang ada meeting dengan klien penting diluar. Tiba-tiba Sandra datang dan melabrak Ningsih yang saat itu sedang bekerja.


“Ningsih, kemari aku mau bicara sama kamu”. Ucap Sandra sambil menarik tangan Ningsih dengan keras. Ningsih kebingungan, begitu pun dengan security yang menjaga di lift direktur utama saat itu seakan mau membantu Ningsih, namun ia memberi isyarat sehingga security tersebut kembali berdiri ditempatnya semula. Sandra menyeret Ningsih kedalam ruangan Hendra.


“Ada apa ini San ?”. ucap Ningsih heran dengan perlakuan Sandra.


“Kamu bertanya ada apa? Harusnya aku yang bertanya, kurang baik kah aku sampai-sampai kamu belum puas dengan bantuan ku dan sekarang kamu sedang mencoba merebut suamiku!”. Bentak Sandra tanpa basa-basi, membuat Ningsih kaget menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


“Astagfirullah Sandra, apa maksud kamu. Aku nggak ngerti, ada apa sebenarnya sampai kamu bicara seperti ini”. Ucap Ningsih sambil berusaha mengontrol emosinya karena sudah di fitnah seperti itu.


“kamu nggak usah pura-pura nggak tahu!”. Sambil menujuk wajah Ningsih. “Sekarang kamu lebih leluasa menghabiskan waktu dengan mas Hendra kan, karena kamu sekarang sudah menjadi sekertarisnya. Apa salahku sama kamu Ningsih sampai kamu berbuat seperti ini. Aku nggak habis fikir”. Sandra terus meracau.


“Aku rasa kamu salah faham San. Aku dan Hendra hanya sebatas rekan kerja, dia bos dan aku karyawannya. Sedikitpun aku nggak ada fikiran untuk merebut dia darimu, dia suami mu suami sahabatku. Bagaimana bisa aku melakukan hal jahat seperti itu padamu”. Ucap Ningsih dengan nada rendah sambil berusaha memegang tangan Sandra. Namun seketika ditepis olehnya.


“Kamu! Nggak usah sok baik didepanku sekarang, aku nggak akan termakan omongan licikmu itu seperti mas Hendra. Dan ku peringatkan, jauhi Suamiku! Atau akan ku hancurkan hidupmu!”. Ucap Sandra mengancam Ningsih lalu pergi dari ruangan tersebut sambil membanting pintunya.


Ningsih yang masih ada didalam ruangan tersebut hanya bisa berdiri terdiam mematung, ia sedang mencerna apa yang saat ini terjadi. Bagaimana bisa Sandra menuduhnya seperti itu, apa yang membuat Sandra sampai melakukan hal itu. Ia terus berfikir apakah ia pernah melakukan kesalahan sehingga membuatnya menerima tindakan seperti ini.


Ningsih terlalu lama berdiam mematung diruangan itu, tanpa sadar ternyata sedari tadi Hendra memperhatikan dirinya.


"Kamu ada apa Ningsih? Apa yang dilakukan Sandra tadi disini? Aku diberitahukan Security bahwa dia dari sini". Tanya Hendra sambil berusaha menyadarkan Ningsih dari lamunannya.

__ADS_1


"Eh, maaf . Ng-nggak papa. Aku lanjut kerja dulu". Jawab Ningsih sambil kebingungan dan segera meninggalkan Hendra diruangannya.


Setelah kedatangan Sandra ke kantor, membuat Ningsih tidak fokus bekerja karena terus memikirkan perkataan Sandra tadi. Sore pun tiba, semua staff kantor satu persatu pulang. Namun tidak dengan Ningsih, ia masih saja terdiam di meja kerjanya sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan agar bisa memperbaiki kesalah fahaman ini dengan Sandra, ia tidak mau rumah tangga kedua sahabatnya itu jadi berantakan.


Jam menunjukkan pukul 19.00 , saat itu Ningsih masih di kantor. Ia tiba-tiba dikagetkan suara pecahan barang dari dalam ruangan Hendra.


PRRAAAAANNNGGGGG !!


"Suara apa itu? Loh kenapa ruangan Hendra lampunya masih menyala, sudah jam berapa ini". Sambil melihat jam ditangan kirinya, ia pun berjalan perlahan menuju ruangan tersebut.


"Ternyata sudah jam segini, bisa-bisanya aku tidak sadar dari tadi. Nenek pasti mencariku, tapi ada apa dengan Hendra". Ningsih melihat Hendra sedang bicara di telfon dengan seseorang nampaknya ia marah besar. Semua berkas yang ada dimejanya berserakan dilantai. "Ada apa dengannya, apa ini ada hubungannya denganku karena kedatangan Sandra tadi di kantor". Gumam Ningsih kebingungan.


Setelah dia melihat Hendra mematikan telfonnya, Ningsih memberanikan diri untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Bermaksud untuk menanyakan apa yang sedang terjadi.


Tokk tokk tokk..


"Siapa?". Teriak Hendra dengan suara keras.


"Ya, masuklah". Singkat Hendra.


"Maaf jika saya lancang, apa bapak baik-baik saja?". Tanya Ningsih lagi.


"Kenapa bicaramu jadi formal begitu? Biasa saja jika bicara denganku, jangan sungkan begitu". Ucap Hendra sambil menghampiri Ningsih.


Tercium aroma tidak enak saat jarak Hendra semakin dekat dengannya. Bau alkohol, apa dia minum alkohol? Apa yang difikirkannya sampai seperti ini. Batin Ningsih.


"Kenapa kamu diam saja?". Bentak Hendra, membuat Ningsih terkaget.


"Kk-kamu kenapa Ndra? Apa kamu habis minum alkohol". Ucap Ningsih sambil memundurkan badannya agar bisa sedikit menjauh dari Hendra.

__ADS_1


"Nggak, untuk apa kamu minum itu? Aku sudah cukup mabuk dengan hidupku, jika aku minum alkohol lagi bisa-bisa aku semakin mabuk". Jawab Hendra yang membuat Ningsih semakin yakin dengan dugaannya.


"Mari, duduk di sini. Aku ingin cerita beberapa hal denganmu". Ajak Hendra sambil menepuk-nepuk sofa yang sudah lebih dulu di dudukinya.


"Tidak aku berdiri di sini saja". Ucap Ningsih menolak.


"Nggak! kamu harus duduk di sini". Bentak Hendra sambil menarik tangan Ningsih, membuatnya tersentak kaget dan terduduk di sampingnya.


"Kamu tahu Ningsih, aku sudah lelah dengan semua ini. Pernikahan, pekerjaan, semuanya membuatku jenuh. Terlebih lagi dengan Sandra, semakin lama aku jadi muak karena sikapnya". Hendra mulai bercerita tanpa ditanya, namun ia melihat Ningsih sedang mengutak atik hpnya. "Kamu nggak mendengarkan aku?". Tanya Hendra dengan nada sedikit keras.


"Eh, iya. Iya aku dengar kok. Kenapa dengan Sandra?". Tanya Ningsih sambil menyelipkan hpnya di bawah paha kirinya.


"Dia, aku sudah muak dengannya. Setiap hari menyudutkanku dengan asumsinya yang nggak jelas itu. Kamu tau, dia menuduhku menjalin hubungan denganmu. Padahal sudah jelas-jelas aku sedang berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk keluargaku. Tapi rasanya usahaku tidak dihargai olehnya". Terang Hendra lagi.


Sementara itu Ningsih sedang memainkan hpnya lagi, ia sedang berusaha menghubungi seseorang untuk membantunya dalam situasi ini. Namun belum sempat ia melakukan itu,


PPRRRAAANGGG!!!!


Hp Ningsih hancur setelah dilempar oleh Hendra.


"Lagi-lagi kamu nggak mendengarkan aku ya! Kamu tau Ningsih, aku sudah sangat lama menyukaimu tapi karena perjodohan bodoh itu membuatku tidak bisa menyatakan cintaku padamu. Lihat sekarang rumah tangga impian kedua orang tuaku tidak seindah yang mereka impikan. Harusnya dulu aku lebih berani menolak perjodohan itu agar bisa memilikimu". Ucap Hendra sambil memegang erat tangan Ningsih, membuatnya semakin ketakutan. Kini Hendra mendekatkan wajahnya kepada Ningsih, wajahnya berkeringat matanya memerah melotot. Kini ia benar-benar dalam pengaruh alkohol.


Bersambung ~~


Hay Readers..


Jangan lupa dukungan Like dan Votenya ya.


Author akan sangat berterimakasih untuk itu.

__ADS_1


Salam sayang 😊❤


__ADS_2