
"L-Leona". Irsyad terbata-bata karena tidak menyangka akan bertemu dengan Leona di kost Ara.
"Kamu ngapain disini?". Tanya Leona tanpa basa basi dengan wajah yang nampak kesal.
"A-aku....". Belum sempat Irsyad menjawab tiba-tiba Ara keluar dan menyapa mereka berdua.
"Kak Irsyad sudah datang, ayo masuk". Ajaknya sambil menggandeng tangan Irsyad dan Leona. Mereka lalu duduk bersama.
"Kak kenalin, ini teman yang aku bilang tadi". Ucapnya sambil memperkenalkan Irsyad kepada Leona.
"Sudah kenal kok Ra". Ucapnya singkat sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Irsyad dengan tatapan tajam.
"Oh ya, teman kuliah kakak ya. Atau teman kerja?". Ara antusias mendengar jawaban Leona.
"Rekan kerja lebih tepatnya, dia bos kakak. Perusahaannya adalah yang salah satu ada invest nya papa". Ucap Leona menjelaskan.
"Wah, kebetulan sekali ya. Kak Irsyad kenapa nggak pernah cerita kalau sudah kenal kak Leona?".
"Aku juga nggak tau Ra, kalau ternyata Leona itu kakak kamu". Ucap Irsyad sambil berusaha menghindari tatapan sinis Leona padanya.
"Oh iya, kalian makanlah. Aku mau balik dulu, tiba-tiba ada urusan mendadak". Sambung Irsyad lagi.
"Kenapa terburu-buru? Baru juga sampai pak bos". Ucap Leona sambil tersenyum kecut pada Irsyad.
"Ah, tiba-tiba tadi ada klien yang menelfon".
"Kan bisa makan dulu kak, setelah itu pergi". Ucap Ara.
"Nggak sempat dek. Kakak pamit dulu ya. Leona, aku pergi dulu ya". Ucapnya lalu mengambil tas dan buru-buru keluar kost Ara.
Leona hanya terdiam, dan Ara menyadari sepertinya ada yang salah dengan mereka berdua. Nampaknya hubungan mereka bukan hanya sekedar rekan kerja.
Mereka udah seperti sepasang kekasih yang lagi berantem aja. Tapi kalau saja benar, semoga mereka bisa segera berbaikan. Batin Ara.
Setelah Irsyad pergi, Leona tetap melanjutkan makan siangnya bersama Ara. Selanjutnya dia pun pamit pulang, karena takut terlalu sore sampai di rumah.
Saat Leona berjalan menuju parkiran tempat mobilnya di parkir. Disana dia melihat Irsyad sedang berdiri di dekat pilar, dia pun menghampirinya.
__ADS_1
"Belum pulang?". Tanya Leona, suaranya mengejutkan Irsyad membuatnya berbalik kaget melihat kearah Leona.
"Eehh, kamu. Iya, belum". Sahut Irsyad sambil berusaha menahan kagetnya.
"Bukannya tadi ada urusan mendadak ya?". Tanya Leona lagi.
"I-iya, aku baru saja mau pergi". Irsyad pun mulai berjalan meninggalkan Leona, kemudian dia berhenti dan berbalik arah kembali ketempat dimana Leona berdiri. "Kamu nggak marah?".
"Marah kenapa?".
"Ya, mungkin marah kenapa aku bisa berteman dengan Ara".
"Untuk apa aku marah, aku kan bukan siapa-siapa bagimu". Ucap Leona sambil memalingkan wajahnya.
"Siapa yang bukan siapa-siapa, kamu sahabatku". Ucap Irsyad.
"Oh ya, aku memang sahabatmu. Dan satu lagi fakta yang telah ku ketahui dari sahabatku ini. Bahwa yang tempo hari ku katakan benar adanya".
"Maksudmu?".
"Iya, orang yang kamu sukai itu Ara kan!". Ucapan Leona membuat mata Irsyad membelalak karena kaget. "Nggak usah kaget begitu, hanya dengan sekali melihat aku sudah tau kalau kamu menyukai Ara". Sambung Leona.
"Nggak masalah jika kamu menyukai Ara. Aku nggak berhak untuk melarangmu. Dan satu hal, aku memang bersaudara dengan Ara, tapi ibu kita berbeda". Diam sejenak, "Baiklah, aku pamit pulang dulu". Ucap Leona tanpa mendengar jawaban dari Irsyad dia pun langsung berlalu meninggalkannya.
Nampak Irsyad masih terkejut dengan pernyataan Leona barusan.
"Ibu yang berbeda, apa maksudnya. Apa pak Gunawan memiliki dua istri. Hhaahhh terlalu rumit, semakin penasaran aku tentang hal yang menyangkut Ara semakin aku nggak menemukan titik terang. Dan lagi jawaban Ara tadi harusnya sudah cukup membuatku mundur, karena nggak mungkin ada kesempatan untuk meluluhkan hati Ara". Guman Irsyad.
Sementara itu Leona di dalam mobilnya, menangis sesenggukan. Karena nggak menyangka bahwa orang yang disukainya hanya menganggapnya sahabat dan yang lebih menyakitkan lagi tidak ada penyanggahan bahwa Irsyad benar menyukai Ara. Selang beberapa menit, Leona mencoba menata hatinya kembali agar dia bisa konsentrasi mengendarai mobilnya menuju rumah.
Sesampainya dirumah dia langsung ke kamar dan merebahkan badannya, melanjutkan tangisnya yang tadi sempat tertunda. Mamanya yang sedari tadi menunggu kepulangannya pun mencarinya ke kamar.
"Anak mama sudah pulang". Ucapnya sambil membelai rambut Leona yang panjang.
"Sudah ma". Singkat Leona, sambil tetap dengan posisinya yang sambil berbaring dan menutupi wajahnya dengan bantal.
"Ada apa Leo?". Tanya mamanya karena mulai melihat hal yang janggal pada anaknya itu.
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa ma, Leo hanya lelah". Ucapnya lagi, mamanya yang nggak percaya langsung menarik bantal yang digunakannya untuk menutupi wajahnya. Nampak disana airmata Leona mulai mengalir deras dan dia pun menumpahkannya sambil memeluk erat mamanya.
"Ada apa anak mama, ayo ceritakan". Sambil memeluk putrinya.
"Leo nggak papa ma, hanya sedih saja". Kini menyandarkan kepalanya di bahu mamanya.
"Walaupun seribu kali kamu bilang nggak papa, mama nggak akan percaya. Siapa yang lebih mengerti anaknya selain mamanya sendiri. Ayo sekarang ceritakan sama mama". Ucap Sandra sambil memegang wajah Leona dengan kedua tangannya.
"Sebelumnya Leo mau minta maaf ma". Ucapnya sambil tertunduk.
"Maaf kenapa?".
"Maaf karena beberapa tahun belakang ini sebenarnya Leona sudah sedikit dekat dengan Ara, dan itu tanpa sepengetahuan mama. Dan saat Leo ada meeting di kota B, Leo mencoba menghubungi Ara dan mampir di kostnya untuk sekedar istirahat dan menanyakan kabarnya. Tapi Leo malah bertemu Irsyad disana". Tangis Leo pun kembali pecah.
Saat itu Sandra sangat marah, karena mengetahui bahwa putrinya yang sangat dia percaya ternyata tidak mendengarkan kata-katanya. Namun, karena melihat Leona yang sedang sedih dia pun mencoba memaafkannya.
"Kamu tau Leona, mama sangat marah mendengar pernyataanmu barusan. Alasan mama melarangmu untuk dekat-dekat dengan anak itu karena mama nggak mau kamu juga akan di sakiti sama dia. Sekarang lihat apa yang terjadi sama kamu , kamu menangis. Dan Irsyad sedang apa dia di kost anak itu?". Ucap Sandra sambil mengontrol emosinya dan tetap membelai rambut Leona.
"Maafin Leona ma, sekarang Leo tau gimana perasaan mama waktu itu". Diam sejenak "Irsyad, dia ternyata berteman degan Ara. Dan orang yang dia sukai itu Ara".
"Anak itu, sama saja seperti ibunya. Apa dia belum puas sudah menghancurkan hidupku. Dan sekarang dia mau menghancurkan masa depan anakku juga. Nggak akan ku biarkan!". Emosi Sandra kini mulai membara setelah mendengar pernyataan Leona.
"Nggak ma, Ara nggak salah dalam hal ini. Dia pun baru tau kalau aku dan Irsyad saling kenal. Dan ku rasa Ara belum tau tentang perasaan Irsyad itu".
"Kamu sudah di sakiti tapi masih saja membela dia, nggak bisa. Apa yang menjadi milik anak mama harus tetap menjadi milik anak mama. Kalaupun dia nggak memiliki perasaan yang sama dengan Irsyad, mama nggak akan biarkan dia dekat dengan Irsyad walaupun itu hanya sekedar berteman". Perkataan Sandra mengakhiri percakapan antara ibu dan anak hari itu.
Saat malam tiba Leona yang sudah tertidur di kamarnya. Disana ada Sandra yang sedang mengecek ponsel Leona.
"Nggak susah untuk dapat lokasi tempat tinggal anak haram itu. Lihat saja, apa yang akan ku lakukan padamu karena sudah menyakiti Leona". Gumam Sandra.
Bersambung ~~
Haiii Readers..
Semoga suka dengan cerita yang Author buat ya.
Jangan lupa dukungan Like, Komen dan Votenya.
__ADS_1
Terimakasih, dan Salam Sayang ❤😻