
“Yampun Ningsih, apa kabar. Lama banget kita nggak ketemu”. Sambut Sandra. “Tante ini sahabat papa sama mama, namanya Tante Ningsih”. Jelas Sandra kepada Leona.
“Ayo masuk dulu". Panggilnya sambil menggandeng tangan ningsih. Saat ningsih masuk, Nampak luas sekali rumah Sandra dan Hendra, seperti rumah-rumah yang ada di sinetron tv. Ningsih dibuat kagum.
“Tunggu disini dulu ya, kamu mau minum apa ?”. Tanya Sandra dengan ramah.
“Ahh, terserah kamu saja”. Jawab ningsih yang tersadar dari lamunannya.
“Bibiiiii”. Panggil Sandra, lalu keluarlah wanita paruh baya yang nampaknya adalah pekerja di rumah itu. “Tolong buatkan Jus Melon ya, sekalian bawakan cemilan juga”. Ucapnya. Lalu kembali duduk disamping Ningsih sahabatnya itu.
“Kamu kapan datang? Tadi saat aku dikabari mas Hendra, aku kaget sekaligus senang sekali. Setelah sekian lama nggak ada berkabar, akhirnya kita bertemu juga”. Ucapnya yang nampak bahagia bertemu dengan Ningsih.
“Hari ini, aku baru saja sampai lalu saat jalan keluar dari terminal bis tiba-tiba bertemu Hendra”. terang Ningsih.
“Kebetulan sekali ya, oh iya. Aku sudah dengar dari mas Hendra mengenai tujuan kamu ke kota ini. Untuk sementara tinggal disini saja dulu ya”. Ucap Sandra sambil memegang kedua tangan Ningsih.
“Iya, terimakasih atas kebaikanmu dan Hendra. Aku nggak akan lupa. Tapi hanya untuk sementara sampai aku mendapat tempat tinggal”. Jawab ningsih yang sedikit tidak enak karena terlalu banyak dibantu oleh kedua sahabatnya itu.
“Nggak masalah, kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau. Oh ia, ini perkenalkan anak kami”. Sambil menyuruh Leona berkenalan dengan Ningsih.
“Halo tante, nama aku Leona”. Ucap Leona sambil bersalaman dengan Ningsih.
“Halo cantik, nama tante Ningsih”. Ningsih dibuat gemas olehnya.
“Leona buah hati pertama kami, usianya saat ini 3 tahun”. Terang Hendra.
"Selamat ya". Singkat Ningsih.
"Kamu sendiri bagaimana? Apa sudah berkeluarga?". Tanya Sandra.
"Ah, belum San. Masih belum bertemu yang cocok". Ucap Ningsih malu.
__ADS_1
"Oh begitu, sabar nanti juga pasti bertemu kan. Oh iya, Mari kutunjukkan kamarmu". Ajak Sandra.
Malam itu pun Ningsih bermalam dirumah mereka. Esok harinya akan diajak Hendra ke Kantornya untuk hari pertamanya masuk kerja.
Saat pagi tiba, Hendra berangkat bersama Ningsih menuju kantor. Perusahaan yang bergerak di bidang jual beli Furniture dan Retail, yang kini namanya cukup terkenal dan sudah ada cabangnya di beberapa daerah, Home In Group. di usianya yang masih sangat muda, Hendra berhasil menjadi seorang Pengusaha, ia merintis usahanya dari nol, hingga saat ini sudah sangat besar. Dia sempat merasakan jatuh bangun ditahun pertama namun dapat dilewatinya dengan sabar. Dan kini dia merupakan Presdir di perusahaan tersebut.
***
Sesampainya di kantor.
"Selamat pagi pak". Sambut seorang karyawan sambil sedikit membungkuk. Dia adalah Fahri tangan kanan Hendra.
"Pagi. Hari ini saya ada tugas untukmu". Jawab Hendra.
"Baik pak". Jawab Fahri tegas.
Setibanya di lantai paling atas, nampak di lantai tersebut hanya ada ruangan untuk Presdir dan di depan ruangan tersebut ada meja besar yaitu meja kerja sekertaris Presdir yaitu Hera.
"Winingsih". Ucap Ningsih sambil bersalaman dengan Fahri. Fahri menyambutnya sambil tersenyum.
"Selama magang tolong ajarkan dia segala yang menyangkut pekerjaan Hera sekertarisku. Kamu juga bisa konfirmasikan kepada Hera, agar Hera bisa mengajari Ningsih jika sedang ada waktu. Setelah dia siap, nantinya dia akan menggantikan Hera. Dan Hera akan mendapatkan posisi yang di inginkannya". Terang Hendra.
"Baik pak". Jawab Fahri tegas.
"Baiklah, untuk hari ini aku akan mengajakmu keliling kantor dulu. Dan memperkenalkanmu dengan staff-staff yang lain". Ucap Hendra.
"Apa nggak sebaiknya Mas Fahri saja yang menemani ku berkeliling? Kamu kan Presdir, bukannya nanti akan jadi omongan jika aku diperlakukan berlebihan". Bisik Ningsih.
"Hhmm, benar juga. Baiklah, Fahri tolong temani Ningsih ya". Ucap Hendra berubah fikiran.
"Baik pak, mari Mba Ningsih". Kemudian Fahri mengajak Ningsih keliling Kantor dan memperkenalkannya kepada staff yang lain.
__ADS_1
Singkat cerita, setelah 3 bulan berlalu Ningsih akhirnya menempati posisi sebagai Sekertaris Hendra. Tidak butuh waktu yang lama untuk Ningsih mempelajari segala pekerjaan yang sebelumnya di handle oleh Hera, karena Ningsih termasuk pintar, jadi dia bisa dengan cepat belajar. Kalaupun banyak cemooh dari karyawan yang lain, karena Ningsih dalam waktu yang sangat singkat bisa menjadi sekertaris Presdir, mereka menganggap Ningsih memamfaatkan kebaikan Presdir mereka. Ningsih tidak memperdulikannya, karena dia anggap itu tidak benar.
Ningsih mulai sering ikut bersama Hendra dalam mengurus pekerjaannya. Baik meeting ataupun dinas lainnya. Dikarenakan urusan pekerjaan yang semakin banyak, menuntut mereka untuk selalu pergi bersama, baik dalam meeting maupun dinas Luar kota ataupun dalam kota. Sehingga waktu Hendra dirumah pun mulai berkurang, ia tidak banyak menghabiskan waktu dengan putrinya lagi. Dan masalah pun mulai bermunculan. Dari kecemburuan Sandra terhadap Ningsih salah satunya.
Hari itu Hendra baru saja tiba dirumah, ia baru saja kembali dari dinas luar kota bersama Ningsih.
“Masih ingat pulang juga rupanya!”. Ucap Sandra dengan suara yang agak keras sambil menyilangkan kedua tangannya.
“Maksud kamu apa? Suami kamu baru saja pulang dari bekerja, begini kah caramu menyambutnya?” sahut Hendra sambil berusaha sabar.
“Lalu aku harus seperti apa? Aku harus senang melihat suamiku terus-terusan bepergian dengan sekertarisnya yang tidak lain adalah sahabatnya itu?”. Sandra mulai menuduh Hendra tanpa alasan yang jelas.
Hendra menoleh kearah Sandra dengan wajah bingung.
“Apa maksud kamu! Jelas-jelas kamu tahu aku bepergian keluar kota untuk bekerja. Aku pergi bersama Ningsih juga karena dia adalah sekertarisku!”. Bentak Hendra mulai hilang sabar. Ia tidak tahan difitnah seperti itu oleh istrinya sendiri.
“Oh ya? Sekertaris, sekarang masih sekertaris tapi nanti. Kamu terlalu banyak menghabiskan waktu dengannya sampai-sampai lupa kalau kamu juga punya anak dan istri di rumah!”. Sambung Sandra.
“Lagi-lagi kamu berasumsi yang tidak-tidak, tanpa alasan yang jelas. Kamu hanya cemburu, aku sama sekali nggak ada hubungan apa-apa dengan Ningsih. Sudahlah aku lelah, aku mau istirahat”. Hendra berusaha menyudahi pertengkaran itu, sambil berlalu meninggalkan Sandra menuju kamar tidur mereka.
“Kamu fikir aku nggak tau, kalau Ningsih itu cinta pertama mu. Saat ini pasti kamu senang kan bisa menghabiskan waktumu dengannya dengan dalih pekerjaan!”. Sindir Sandra dengan kesal. Hendra berbalik arah melihatnya dengan wajah memerah padam, matanya mulai memerah. Ia tau kali ini Sandra sudah bicara kelewatan. Rasa lelah membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya lagi, yang sedari tadi di pancing oleh Sandra.
PPPPLLAAAKKKKK !!!!!!!!!
Bersambung ~~
Hay Readers..
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa dukungan Like, Komen dan Votenya ya.
Akan sangat berarti untuk Author.
__ADS_1
Terimakasih, Salam sayang ❤