Bunga Untuk Zara

Bunga Untuk Zara
Chpt. 18 - Bu Ning


__ADS_3

"Nggak bisa". Terdengar suara Rafy sambil membuka pintu ruangan tersebut. Ara berbalik melihat Rafy yang sudah ada berdiri di depannya.


"K-kenapa nggak bisa pak?". Tanya Ara sedikit ragu.


"Nggak bisa Ara, karena bu Ning tanggung jawabku". Ucap Rafy sambil duduk di samping tempat tidur bu Ning.


"Saya hanya berniat membantu pak, karena kata dokter Fadli sampai sekarang belum dapat sumsum yang cocok. Maka saya menawarkan diri, barangkali sumsum saya sesuai dengan bu Ning. Saya nggak keberatan sama sekali kok pak". Ucap Ara sambil tersenyum mencoba meyakinkan Rafy.


"Saya hanya merasa nggak enak".


"Bapak sudah banyak membantu saya, kali ini giliran saya yang membantu".


"Terimakasih banyak Ara, bu Ning sangat berharga untuk saya. Hanya beliau yang saya miliki". Ucapnya sambil mencium tangan bu Ning. Ara hanya tersenyum melihat bosnya itu.


Sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar pekerja dan bos. Batin Ara.


Lalu Ara pun pergi memeriksakan dirinya. Dia pun menjalani tes HLA (human leukocyte antigen) untuk mengidentifikasi kecocokan sel antara pendonor dan pasien penerima. Dan setelah hasilnya keluar ternyata miliknya cocok dengan bu Ning. Tanpa berfikir panjang Ara pun meminta untuk segera di proses pengambilan sel induk darah.


Dokter menjelaskan dengan detail mengenai prosedur Transplantasi dan segala resikonya pasca Transplantasi, dan Ara telah menyetujui semuanya. Prosesnya berjalan cukup lama dan lancar , setelah selesai pun Ara dipersilahkan untuk beristirahat sementara waktu di rumah sakit karena dia akan merasakan efek samping dari mendonorkan sumsum tulang belakangnya.


Ternyata sakit juga, tapi nggak apa. Aku bahagia karena setidaknya aku bisa berbuat baik dan bisa berguna bagi orang-orang yang ada di dekatku. Batin Ara.


Saat Ara hendak memejamkan matanya, terdengar suara pintu terbuka. Ternyata Rafy, dia menghampiri Ara sambil tersenyum.


"Terimakasih banyak atas bantuan kamu, saya nggak tau harus membalasnya seperti apa". Ucap Rafy.


"Sama-sama pak, saya nggak mengharapkan apa-apa pak. Kesembuhan bu Ning'lah yang terpenting saat ini". Ucap Ara yang masih nampak lemas.


"Setelah transplantasi ini, kamu akan merasakan efek sampingnya. Dan saya harap untuk sementara kamu mau tinggal lebih lama di rumah saya sampai kamu benar-benar pulih. Dan jangan menolak!". Ucap Rafy sambil menggoyangkan jari telunjuknya ke arah Ara.

__ADS_1


"Baik pak, tapi pak. Apa bisa untuk besok saya ijin satu hari lagi tidak masuk bekerja. Karena mungkin kepala saya masih sedikit pusing". Ucap Ara, nampak Rafy hanya tersenyum kecil tanpa menjawab pertanyaannya itu. Lalu Rafy duduk di kursi yang ada di sebelah kanan Ara.


"Saya harap transplantasi yang akan di lakukan nanti berjalan lancar. Dan bu Ning bisa sembuh serta sehat kembali". Ucap Rafy.


"Iya pak, saya harap pun seperti itu".


"Beliau yang terpenting saat ini saya miliki. Beliau bukan hanya sekedar IRT di rumah saya. Karena beliau sudah menyelamatkan hidup saya".


"Maksudnya pak?". Ara reflek bertanya.


"Sejak saya berumur 13 tahun, bu Ning sudah bekerja di rumah kami. Lalu di kejadian yang merenggut nyawa kedua orangtua saya, bu Ning lah yang berhasil menyelamatkan hidup saya. Mungkin ini penyebab mengapa sekarang bu Ning bisa sakit seperti ini". Ucap Rafy sambil tertunduk sejenak. "Maaf Ara, kamu jadi mendengarkan cerita saya yang nggak jelas. Silahkan lanjutkan istirahat kamu ya". Sambungnya lagi, lalu pergi meninggalkan Ara yang belum sempat berbicara.


Mungkin pak Rafy sedih banget lihat keadaan bu Ning, sampai-sampai nggak sadar curhat seperti tadi. Dan tiba-tiba saja tersadar lalu langsung pergi. Apa mungkin dia malu ya. Aku harus meluruskan ini, nggak akan enak nantinya kalau pak Rafy jadi menghindariku karena ini. Batin Ara.


Sementara itu Rafy yang baru saja keluar dari kamar Ara.


"Kenapa bisa keceplosan begitu tadi, bodoh banget!". Gumamnya sambil mengumpati dirinya sendiri.


"Buu. . Alhamdulillah ibu sudah sadar". Ucap Rafy sambil memeluk dan mencium bu Ning. Bu Ning yang masih lemas hanya bisa tersenyum dan menggenggam tangan Rafy.


"Bu, ibu harus mau menjalani pengobatan ya. Ini demi ibu, dan Rafy. Rafy nggak bisa kehilangan "ibu" lagi". Kata Rafy memohon. Bu Ning yang mencoba berbicara namun terhalang oksigen yang terpasang. Lalu Rafy pun membantunya untuk membukanya sebentar.


"Ibu nggak mau merepotkan kamu lagi nak". Ucapnya lemas dengan suara lirih.


"Nggak ada yang direpotkan jika seorang anak ingin ibunya sehat kembali, Rafy mohon sama ibu. Dan saat ini dokter Fadli sudah mendapatkan pendonor sumsum yang cocok untuk ibu. Jadi ibu bisa melakukan transplantasi segera".


"Siapa? Bagaimana bisa?".


"Ibu sudah bertemu dengan Ara kan? Dialah pendonornya, dengan suka rela dia menawarkan dirinya untuk mendonorkan sumsumnya. Dan alhamdulillah cocok dengan ibu". Bu Ning hanya menangis mendengar ucapan Rafy.

__ADS_1


"Kalau kondisi Ara sudah membaik, nanti akan Rafy pertemukan lagi dengan Ara ya bu. Ibu sekarang istirahat ya. Rafy ada urusan sebentar". Ucap Rafy sambil mencium kening bu Ning, bu Ning hanya mengangguk. Lalu Rafy pun beranjak pergi dari ruangan bu Ning, dan menghampiri mang Saswi yang sedang menunggu di depan ruangan.


"Mang Saswi bisa pulang dulu istirahat dan makan siang. Biar saya yang menjaga ibu". Ucap Rafy sambil memegang bahu mang Saswi.


"Tapi den, saya nggak papa menunggu di sini". Sahut mang Saswi.


"Nggak papa mang, kita bergantian menjaga ibu. Karena besok saya akan ada urusan, jadi hari ini biar saya yang menjaga ibu. Mamang pulanglah dulu istirahat dan makan". Ucap Rafy sambil memberi mang Saswi sejumlah uang.


"Baik den, apa aden mau di belikan makanan juga?".


"Nggak usah, untuk mang Saswi saja".


"Baik den, kalau begitu saya pamit dulu". Ucap mang Saswi lalu beranjak dari tempat duduknya. Belum jauh mang Saswi berjalan, Rafy memanggilnya.


"Mang Saswi, tunggu".


"Ada apa den?".


"Nanti kalau mamang sudah selesai dan kembali ke sini. Saya minta tolong belikan bunga Tulip putih ya mang". Ucap Rafy sambil memberi uang tambahan kepada mang Saswi.


"Baik den, apa ada tambahan den?".


"Nggak itu saja".


"Baik den, saya permisi". Ucap mang Saswi dan berlalu pergi.


Saat malam tiba, mang Saswi yang sudah kembali ke rumah sakit kemudian memberikan pesanan Rafy. Rafy pun meminta mang Saswi untuk menemani bu Ning di kamarnya. Lalu dia pergi ke kamar Ara.


Disana ada vas bunga, dan Rafy meletakkan bunga Tulip yang dibawanya di vas tersebut. sesaat dia memandangi wajah Ara yang tengah tertidur. Namun betapa terkejutnya Rafy saat tiba-tiba Ara membuka matanya. Dan mata mereka betemu satu sama lain, saling menatap cukup lama.

__ADS_1


Deg deg deg. . .


Bersambung ~~


__ADS_2