
Saat Ara sudah selesai makan, dia pun berjalan keluar dapur untuk menemui mang Saswi. Namun tiba-tiba terdengar suara barang jatuh dari kamar bu Ning.
BRRAAAAKKKKKK...
Mendengar suara tersebut Ara langsung berlari menuju kamar bu Ning, dan betapa terkejutnya dia saat melihat bu Ning tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
"Bu. . . Buuu Ning kenapa? Ada apa?". Panggil Ara sambil membopong bu Ning ke rangjangnya. Namun tidak ada respon dari bu Ning. Ara semakin kebingungan dia pun mengambil minyak kayu putih yang ada di atas meja kamar bu Ning dan di usapkannya di bawah hidung.
"Sudah cukup lama tapi masih belum sadar juga. Aku harus segera membawa bu Ning ke Rumah Sakit". Gumam Ara lalu berlari menuju area depan rumah untuk memanggil mang Saswi.
Kemudian dengan sigap, mang Saswi membopong bu Ning ke mobil untuk di bawa ke Rumah sakit.
Di dalam mobil.
"Selamat pagi pak". Ucap Ara sembari menelfon Rafy bosnya.
"Ya ada apa Ara? Kamu sudah pergi bersama mang Saswi?". Tanya Rafy.
"Iya pak, saat ini saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit membawa bu Ning". Ucap Ara dengan nafas sedikit sesak.
"Bu Ning kenapa?". Terdengar nada yang khawatir.
"Saya kurang tau pak, tapi tadi saya menemukan bu Ning pingsan di kamarnya sehabis membuatkan saya sarapan". Ucap Ara menjelaskan.
__ADS_1
"Lalu apakah ibu sudah sadarkan diri?". Tanya Rafy lagi.
"Belum pak".
"Baik, kamu tenang ya. Kamu bisa bawa bu Ning kw rumah sakit ya biasa, mang Saswi sudah tau pasti yang saya maksud. Dan tolong kabarkan apa saja jika ada yang menyangkut bu Ning ya. Saya baru saja tiba di kota J, setelah urusan saya selesai di sini saya akan segera kembali ke sana. Saya sangat berharap sama kamu Ara". Ucap Rafy.
"Baik pak, bapak jangan khawatir". Sahut Ara.
"Baiklah, hati-hati dalam perjalanan". Lalu telfon pun terputus.
Sebenarnya Ara pun bingung dengan situasi yang di hadapinya saat ini. Namun dia berusaha agar bisa di andalkan karena merasa terlalu banyak hutang budi kepada Rafy. Dia pun berusaha melakukan yang terbaik saat ini.
Sesampainya di rumah sakit yang di maksud Rafy, petugas UGD di rumah sakit tersebut dengan sigap melayani kami. Terutama bu Ning, mereka seperti sudah sangat mengenal beliau. Begitu pula dengan mang Saswi yang langsung di ajaknya berbicara mengenai kesehatan bu Ning.
Ara hanya memperhatikan saja, karena setibanya di sana. Mang Saswi yang menangani semuanya. Setelah menunggu cukup lama di ruang UGD, akhirnya bu Ning bisa di pindahkan ke Ruang Rawat Inap. Namun beliau pun masih belum sadar juga. Ara masih bertanya-tanya sebenarnya bu Ning sakit apa. Ara ingin sekali menanyakan hal itu kepada mang Saswi namun wajahnya nampak sangat khawatir, Ara pun mengurungkan niatnya.
"Iya, terimakasih neng. Oh iya maaf, saya belum sempat tanya nama neng tadi karena kaget dan buru-buru. Saya mang Saswi". Jawabnya sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Ara mang, nggak papa. Saya mengerti, pasti sangat khawatir".
"Iya neng, bu Ning ini sudah seperti ibu bagi den Rafy. Saya sangat di wanti-wanti sama beliau untuk melarang bu Ning melakukan pekerjaan berat. Saya takut kalau nanti den Rafy marah sama saya". Ucap mang Saswi sambil memijat keningnya.
Mang Saswi memang nampak lebih tua dari pak Rafy, walaupun begitu dia sebagi pekerja di rumah pak Rafy tetap segan padanya. "Nggak papa mang, jangan khawatir. Nanti saya bantu jelaskan. Yang penting sekarang kita berdoa supaya bu Ning bisa cepat siuman. Ya". Ucap Ara mencoba meyakinkan, mang Saswi pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Setelah satu jam kemudian, dokter masuk ke dalam kamar dan meminta waktu untuk berbicara dengan kami.
"Selamat siang pak Saswi".
"Siang dok, bagaimana hasil tes bu Ning. Mengapa beliau belum sadarkan diri juga sampai saat ini". Ucap mang Saswi cemas.
"Hasil tes sudah keluar, dan hasil dari kemoterapi yang sebelumnya nampak tidak membuahkan hasil. Bukankah saya sudah peringatkan kepada pak Rafy tentunya untuk rutin menjalani Kemoterapi sesuai jadwal yang sudah di tentukan. Karena sampai saat ini beliau masih belum mendapatkan pendonor sumsum yang cocok jadi untuk kemoyerapi harus rutin di lakukan. Beliau harus sangat di perhatikan saat ini". Ucap dokter Fadil yang menangani bu Ning sejak berobat di rumah sakit ini.
"Baik dok, akan saya informasikan kepada pak Rafy nanti". Ucap mang Saswi.
"Maaf jika saya menyela, kalau boleh tau bu Ning mengidap penyakit apa dok?". Tanya Ara.
"Bu Ning mengidap Leukimia, lebih tepatnya Leukimia Limfositik Kronis. Jika tidak tepat di tangani maka akan fatal akibatnya".
Leukimia Limfositik Kronis merupakan kanker darah yang terjadi ketika sumsum tulang terlalu banyak memproduksi sel darah putih jenis limfosit yang belum matang atau limfoblas.
Ara sangat terkejut mendengar penjelasan dokter Fadil.
"Lalu bagaimana mengenai perkembangannya dok?".
"Tidak ada perkembangan yang signifikan sejak kemoterapi yang terakhir di lakukan. Ini karena bu Ning sangat sulit untuk di ajak pengobatan kemoterapi. Dan jika bertambah parah, kami harus segera mendapatkan pendonor sumsum yang tepat untuk bu Ning".
"Kalau begitu jika sumsum saya cocok dengan bu Ning apakah bisa di donorkan dok?". Tanya Ara.
__ADS_1
"Nggak bisa". Terdengar suara Rafy sambil membuka pintu ruangan tersebut.
Bersambung ~