Bunga Untuk Zara

Bunga Untuk Zara
Chpt. 16 - Tentang Rafy


__ADS_3

Beginikah bahagianya jika memiliki pasangan, sepertinya mereka saling mencintai. Batin Ara.


Beberapa menit kemudian Rafy kembali. Dia pun melajukan kendaraannya menuju jalan pulang.


Sesampainya di kediaman Rafy. Terlihat sepi, tidak ada yang menyambutnya seperti bos pada umumnya yang memiliki banyak pembantu rumah tangga.


Ara nampak sedikit penasaran dengan bosnya ini. Namun dia menahan diri untuk tidak bertanya karena ini menyangkut privasi sang bos.


Rafy mengajaknya langsung ke ruang makan. Ara di buat semakin tidak nyaman karena Rafy sendiri yang menyiapkan makanan yang di belinya di Restaurant tadi.


"Biar saya bantu pak". Ara mencoba menawarkan bantuan.


"Nggak usah, kamu kan tamu. Sebaiknya kamu duduk saja di sana".


Kenapa bos ini baiknya kebangetan. Aku kan jadi nggak enak daritadi di bantu, dan sekarang hanya duduk manis menunggu makanan. Pegawai macam apa aku ini membiarkan bosnya menyiapkan makanan seperti itu. Batin Ara.


Rafy kemudian memberikan Ara makanan yang sudah di siapkannya.


"Kamu makanlah dulu, saya akan kembali". Ucapnya sambil membawa sepiring nasi dan lauk ke sebuah kamar yang tidak jauh dari dapur. Hal itu membuat rasa penasaran Ara muncul, Ara pun menoleh dan pandangannya mengikuti kemana Rafy pergi.


Beberapa menit kemudian Rafy keluar dari kamar itu, lalu Ara cepat-cepat mengalihkan pandangannya dan memulai makannya. Ara sedikit melirik ke arah Rafy. Pak Bos nggak bawa apa-apa saat keluar dari kamar itu. Apa ada orang yang di berinya makanan. Batin Ara bertanya-tanya.


Malam itu di lalui Ara dengan makan malam bersama bosnya, di hari pertamanya bekerja sebagai pegawai partime. Setelah selesai makan malam, Rafy pun mengantarkan Ara ke kamar yang di maksud. Sebuah bangunan kecil yang terpisah dari rumah utama, tepatnya berada di taman belakang rumah. Bangunan yang berisi ruang tamu dengan kursi goyang, beberapa rangkaian bunga yang belum selesai dan rajutan sweeter yang terbuat dari benang wol. Ruangan dengan nuansa merah muda, wallpaper bunga dan dipenuhi dengan Bunga Tulip Putih di setiap sudutnya.


"Sudah lama sekali aku nggak kesini. Ternyata mang Saswi merawat semuanya dengan baik". Rafy tidak sadar sedang berbicara dengan dirinya sendiri, dia pun menoleh ke Ara.


Bunga Tulip, bunga yang melambangkan Cinta yang Sempurna. Cinta yang Sempurna ya, mana ada yang seperti itu. Kalaupun maknanya sangat nggal logic tapi entah kenapa suka sekali setiap melihat bunga ini. Batin Ara, sambil memegang salah satu Bunga yang ada di sudut ruangan itu.


"Kamu suka bunga tulip?". Tanya Rafy memecah lamunan Ara.


"M-maaf pak?".


Rafy tersenyum melihat Ara yang ternyata tidak mendengarkan pertanyaannya tadi.


"Nggak papa, mari saya tunjukkan kamar kamu". Kemudian dia pun menuju ruangan yang tidak jauh dari ruang tamu.


"Nah Ara, ini kamar kamu. Maaf ya kalau sedikit berantakan, karena bangunan ini sudah lama sekali tidak di tinggali. Sejaakk". Rafy terdiam sejenak.

__ADS_1


"Sejaakk? Apa pak?". Ara melanjutkan ucapan Rafy yang terhenti, lalu dia pun menyadari saat Rafy menatapnya. Ara pun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Maaf pak, saya lancang bertanya". Ucapnya takut Rafy marah.


"Kenapa minta maaf? Kamu kan hanya bertanya. Ruangan ini sudah lama tidak di gunakan, sejak mendiang ibuku meninggal dua tahun yang lalu". Ucap Rafy sambil duduk di ranjang dan memegangi ranjang tersebut, seperti sedang mengingat kenangan bersama ibundanya.


"Maafkan saya pak, saya nggak tau. Saya membuat bapak mengingat kesedihan itu. Maaf pak". Ara semakin takut dan terus tertunduk.


"Nggak papa Ara. Itu sudah berlalu, tidak ada baiknya jika terus menerus bersedih kan. Oh ya, untuk kamar kecil ada di sebelah ruangan ini. Kalau kamu ada keperluan bisa panggil mang Saswi, kamarnya ada di dapur di sebelah kamar yang tadi saya masuki". Ucap Rafy lalu berjalan keluar kamar tersebut menuju teras lalu di susul Ara.


"Baik pak, terimakasih banyak pak atas bantuannya seharian ini". Ucap Ara.


"Sama-sama, saya pamit ya. Supaya kamu bisa istirahat". Ucap Rafy lalu pergi meninggalkan Ara.


Ara melihat-lihat sekeliling ruangan tersebut. Walaupun sudah cukup lama tidak di huni, tetapi perabotan dan kebersihannya tetap di perhatikan.


"Kira-kira apa alasan pak Rafy membiarkan aku untuk menginap di sini. Terlebih lagi ini bangunan milik mendiang ibundanya, aku kan hanya orang luar". Gumam Ara, lalu dia pun masuk ke kamar dan segera bersih-bersih karena seharian lelah bekerja.


Setelah itu dia pun merapikan pakaiannya di dalam tas yang sebelumnya di masukkan tidak beraturan karena terburu-buru sore tadi. Sembari merapikan, dia teringat kembali Saat bosnya Rafy membawa makanan ke dalam kamar yang tidak jauh dari dapur.


"Kamar siapa ya, apakah pembantunya atau. Ah kenapa aku jadi suka ikut campur begini". Ucapnya lalu kemudian merebahkan badannya. "Lelah sekali hari ini, setelah banyak drama yang ku lalui hari ini. Akhirnya aku bisa sedikit tenang saat ini, semua berkat pak Rafy. Terimakasih pak". Ara pun akhirnya tertidur karena lelahnya.


"Karena semalam pak Rafy sudah memberiku ijin satu hari untuk mencari kost, aku harus berterimakasih lagi kepadanya". Kata Ara sambil berjalan keluar taman menuju dapur. Karena dapur adalah pintu terdekat untuk masuk menuju rumah utama.


Lalu tiba-tiba dia di kejutkan seseorang yang memegang bahunya dari belakang. Ara pun tersentak dan langsung berbalik melihat kebelakang.


"Maaf Non, Non tamunya Nak Rafy kan?". Ucap Bu Ning, beliau adalah pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah Rafy.


"Iya bu, maaf tadi saya hanya sedang melihat-lihat". Ucap Ara sambil mengelus dadanya karena masih sedikit kaget.


"Maaf ya, tadi ibu mengagetkan ya".


"Tidak kok bu, perkanalkan nama saya Ara". Ucap Ara sambil mengulurkan tangannya, dan di sambut dengan ramah oleh bu Ning.


"Saya ART nak Rafy, Non bisa panggil bu Ning". Ucapnya sambil tersenyum.


"Baik bu Ning".


"Sarapan sudah siap non, mari silahkan makan dulu". Sambil mengajak Ara ke dapur.

__ADS_1


"Terimakasih bu, tapi pak Rafy dimana ya. Saya belum ada melihatnya".


"Oh, Rafy sudah berangkat kerja sejak subuh tadi non. Dia hanya menitipkan pesan, jika non sudah bangun".


"Pesan apa bu?".


"Katanya, non bisa mencari kost di temani mang Saswi dan jangan menolak ini permintaan nak Rafy".


"Tapi bu, saya bisa pergi sendiri menggunakan angkutan umum. Saya nggak enak sejak kemarin sudah merepotkan pak Rafy".


"Nggak papa non, Rafy memang seperti itu. Kepada siapa pun dia selalu baik. Sebaiknya jangan menolak permintaannya, atau dia akan kecewa nanti".


"Baiklah bu". Ucap Ara dengan sedikit keberatan. Karena sebenarnya dia tidak mau merepotkan bosnya lagi.


"Kalau begitu saya permisi ya non, silahkan di habiskan sarapannya. Dan jika sudah mau berangkat non bisa panggil mang Saswi, dia ada di halaman depan". Terang bu Ning.


"Baik bu, terimakasih". Ucap Ara sambil tersenyum.


Ara pun memulai sarapannya sambil melihat bu Ning jalan menuju kamar yang semalam di datangi Rafy.


"Hmm, sebenarnya bu Ning ini. Pembantu atau ibu pak Rafy, sampai-sampai semalam di bawakan makanan sama bos. Hmm, apa beliau habis sakit ya". Gumam Ara bertanya-tanya.


Saat Ara sudah selesai makan, dia pun berjalan keluar dapur untuk menemui mang Saswi. Namun tiba-tiba terdengar suara barang jatuh dari kamar bu Ning.


BRRAAAAKKKKKK...


Bersambung ~~


**Hay Readers, mohon maaf untuk updatenya yang sering molor.


Dikarenakan kondisi author yang kurang fit.


Mohon bantuan dukungan Like dan Votenya ya, untuk kelanjutan Novel ini.


Supaya Author tetap semangat😊


Salam Sayang 😊**

__ADS_1


__ADS_2