
Hendra menarik tubuh Ningsih dan menghempaskannya ke sofa.
BBBRRRUUUUUKKKKK..
Ningsih terjatuh dengan keras, sebelum ia menyadari apa yang terjadi tiba-tiba Hendra sudah berada diatasnya. Mengunci tubuh mungilnya sehingga tidak bisa bergerak, lalu dia memegang kedua tangan Ningsih dengan satu tangan. Sedangkan tangan yang satunya dia gunakan untuk mencengkram wajah Ningsih.
"Sekarang, kamu jadi milikku". Hendra mulai meracau dan tatapannya tidak fokus. Belum sempat Ningsih bergerak Hendra langsung menutup bibir Ningsih dengan bibirnya. Ia ******* habis bibir mungil itu. Ningsih berusaha menghindari ciuman itu namun tindakannya sia-sia karena cengkraman Hendra di wajahnya semakin keras.
Ningsih berusaha berteriak namun suara tidak bisa keluar dari mulutnya. Ia berusaha melepaskan diri, namun tubuh Hendra terlalu kuat. Dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti ini.
Ningsih mencoba mencari cara agar bisa terlepas dari cengkraman Hendra. Dia menendang, meronta-ronta namun semua sia-sia, tubuhnya sudah terkunci tidak ada kesempatan baginya untuk melarikan diri.
Ningsih mulai menangis, bulir demi bulir airmata mulai mengalir dari sudut matanya. Sementara Hendra tidak memperdulikan, dia terus menciumi Ningsih dan hendak melakukan aktivitas bejatnya itu.
Dia mulai menarik dan melepas paksa baju Ningsih.
"Tolong Hendra, jangan lakukan. Tolong lepaskan aku". Ningsih memohon.
"Diam kamu!". Bentak Hendra.
Tanpa memperdulikan Ningsih, Hendra terus saja melakukan aktivitasnya itu. Ningsih sedari tadi menangis, sambil memikirkan bagaimana agar dia bisa lepas dari kemalangan ini. Saat ia melihat kesempatan yang ada, ketika Hendra sedang melepaskan pakaiannya sendiri.
Ningsih berlari menuju pintu hendak melarikan diri. Namun sebelum mencapai daun pintu, tubuhnya sudah disergab oleh hendra dan dibopong kembali ke sofa.
“Tolong sadarlah Hendra, tolong lepaskan saya!”. Ucap Ningsih dengan suara lirih, ia hampir kehabisan tenaga karena terlalu banyak melawan.
Ningsih terus saja berteriak, dan mengiba kepada Hendra. Wajahnya kini penuh airmata, matanya sayu namun semua itu tidak sedikitpun menyadarkan Hendra yang kini nampak sedang kesetanan. Pikiran Hendra seperti sedang diambil alih, ia tidak bisa berfikir dengan jernih. Ia tidak sadar bahwa yang kini dihadapannya bukan istrinya melainkan Ningsih sahabatnya.
Malam itu malam yang sangat mengerikan bagi Ningsih. Sedikitpun Hendra tidak bergeming melakukan perbuatan keji itu. Kesucian Ningsih sudah ternoda. Ia tidak bisa melakukan perlawanan yang cukup karena sudah kehabisan tenaga, ia tidak cukup kuat melawan Hendra. Kini hanya airmata yang mengalir deras dari sudut matanya. Tatapan matanya menjadi sayu dan kosong. Ia sudah ternoda, dia sudah kotor.
Setelah beberapa menit kemudian, Hendra bangkit dari sofa dan mulai tersadar. Dia melihat sekeliling ruangannya yang berantakan. Baju Ningsih dan bajunya berserakan. Ia melihat dirinya sendiri dan yang kini ada dihadapannya, wanita yang tidak berdaya dengan tatapan kosong. Dia Ningsih, apa yang sedang dilakukannya. Apa yang akan terjadi kepada Ningsih setelah perbuatannya ini. Hendra mulai kehilangan akal. Dia tidak bisa berfikir, bagaimana bisa dia menodai sahabatnya sendiri. Apa yang harus dia lakukan.
Dia berdiri dan mulai membersihkan dirinya, memakai pakaiannya. Tidak lama kemudian telfonnya bordering, dia mendapat kabar bahwa Leona putrinya masuk ICU karena sakit. Belum lagi masalah yang sekarang selesai, ada masalah satu lagi yang datang. Hendra kebingungan harus apa. Kemudian dia menghampiri Ningsih dan menutupi tubuh Ningsih dengan pakaiannya. Saat itu Ningsih masih kaku dengan tatapan kosongnya.
__ADS_1
“Maafkan aku Ningsih, aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku padamu. Tapi maaf saat ini aku harus pergi. Putriku Leona masuk rumah sakit”. Ucapnya langsung meninggalkan Ningsih yang masih terbaring lemas disana.
Tiga puluh menit setelah ditinggalkan Hendra. Kemudian Ningsih mulai mencoba bangkit, ia merasakan sakit di daerah sekitar pahanya. Kemudian Ningsih menangis lagi, kali ini menangis dengam sangat keras sampai-sampai suaranya tak lagi terdengar. Hanya airmata yang mengalir deras. Ia masih tidak menyangka apa yang sedang dia alami saat ini bukanlah mimpi. Bagaimana dia akan menjelaskan kepada neneknya, terlebih lagi Sandra. Akan ada kesalah fahaman yang lebih besar dari konflik siang tadi di kantor.
Kemudian Ningsih memakai pakaiannya, lalu mencoba berjalan dan kembali pulang. Dia berusaha manata hatinya agar tidak membuat neneknya cemas.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu Ningsih tidak masuk kerja, ia pun berencana akan berhenti dari kantor Hendra. Sementara Hendra berusaha menghubungi Ningsih, dan mendatangi kontrakannya. Namun, dengan dalih sakit, Ningsih berhasil menghindari Hendra.
Hingga sebulan kemudian Ningsih mendapati dirinya mengandung, bagai sedang diterpa badai, badai yang sangat kencang. Cobaan demi cobaan mendatangi Ningsih tanpa henti. Selama sebulan ia terus mendapat terror dari Sandra yang telah mengetahui bahwa dirinya telah diperkosa suaminya. Namun fakta yang ada diputar balikkan oleh Sandra, membuat Ningsih yang saat ini adalah korban menjadi tersangka perebut suami orang. Ningsih harus menerima sanksi social dengan dikucilkan dan bahkan hampir diusir dari kontrakan tempat ia tinggal.
Kini ia harus menghadapi masalah baru, yaitu anak Hendra yang sedang dia kandung.
***
Masa sekarang.
Siang itu Ara sedang tidak ada kegiatan apa-apa. Lalu ia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan lewat media social *acebook. Biasanya ada grup tertentu yang sharing mengenai lowongan pekerjaan. Disana ada satu postingan yang menunjukkan bahwa dibutuhkan pekerja partime. Langsung saja dia menghubungi nomor yang tertera disana.
Ttuuttt tutttt,.
“Ya halo”. Telfon sudah diangkat, terdengar dari seberang sana suara pria yang lumayan dewasa namun tetap cool.
“H-halo pak, saya mau melamar pekerjaan”. Ucap Ara dengan semangatnya tanpa basa-basi.
“Maaf ini dengan siapa? Pekerjaan apa?”. Tanya pria itu.
“Saya Ara pak, saya baru lulus SMA. Saat ini saya butuh pekerjaan partime. Kebetulan saya melihat postingan yang bapak pasang di grup media social bahwa membutuhkan pekerja partime. Jadinya saya menghubungi bapak”. Terang Ara dengan polosnya.
Terdengar suara tawa kecil dari telfon seberang “Baiklah, kalau kamu serius mau bekerja partime. Datanglah ke Butik Rezafa di jalan *** besok pagi pukul 08.00 tepat!” ucap pria itu.
“Baik pak, terimakasih banyak pak”. Ucap Ara dengan senangnya, lalu terdengar suara telfon yang telah terputus.
__ADS_1
Yess, semoga aku bisa bekerja disana. Besok aku harus bangun pagi. Aku harus pasang alarm. Batin Ara dengan semangatnya.
Keesokan harinya, Ara bersiap-siap. Dia memakai kemeja berwarna merah muda dengan lengan tiga perempat dan rok hitam dibawah lutut. Rambutnya yang panjang hanya dia ikat rapi dan dia hanya berias tipis.
Setibanya di butik Rezafa, Ara segera menghampiri satpam yang ada disana.
"Pagi pak, saya mau interview kerja". Sapa Ara.
"Pagi neng, oh silahkan masuk saja nanti bertemu dengan mba Lidya". Ucap Satpam tersebut.
"Terimakasih pak". Ara pun segera masuk kedalam butik mencari mba Lidya yang dimaksud oleh pak satpam tadi.
"Maaf, bisa bertemu dengan mba Lidya". Tanya Ara kepada salah satu karyawan dibutik tersebut.
"Saya Lidya, ada perlu apa ya". Jawab wanita itu.
"Oh kebetulan sekali, perkenalkan saya Ara mba. Mau melamar sebagai pegawai partime". Jelas Ara.
"Maaf, tapi kami sedang tidak memerlukan pegawai partime". Ucap Lidya sedikit heran.
"Tapi, saya melihat iklan yang dipost tempo hari di *cebook dan saya juga sudah menghubungi nomor yang tertera disana. Maka dari itu saya datang hari ini untuk interview". Ucap Ara menjelaskan.
"Tapi, sepertinya ada kesalah fahaman di sini. Kami sedang tidak menerima lowongan kerja". Ucap Lidya lagi.
Tiba-tiba ada seorang pria dengan tampilan tinggi semampai, putih, tampan, alis mata yang tebal dan sorot matanya yang sangat menawan datang menghampiri Lidya.
Bersambung ~~
Hay readers, perkenalkan saya ERA.
Ini adalah Novel pertama saya. Sebagai penulis baru, pasti saya memiliki banyak kekurangan. Mohon kritik dan sarannya agar bisa menyempurnakan cerita ini. Saya juga butuh dukungannya dengan memberikan Like, Komen dan Votenya. Kelanjutan Novel ini sangat bergantung pada dukungan kalian.
Terimakasih, salam sayang 😊❤
__ADS_1