Bunga Untuk Zara

Bunga Untuk Zara
Chpt. 8 - Masa Lalu


__ADS_3

Leona mengerti bagaimana perasaan mamanya, yang membuatnya membenci Ara seperti itu. Tapi hati dan akal sehat Leona mengatakan bahwa Ara tidak bersalah. Ia berharap suatu saat mamanya bisa memaafkan ibu Ara begitu pun Ara, agar ia bisa menerima Ara.


***


Flashback, 17 tahun yang lalu.


Mahendra Gunawan, Casandra dan Winingsih adahalh sahabat sejak SMA. Ningsih terlahir dari keluarga yang kurang mampu, ia tinggal bersama Ayah dan Neneknya, sedangkan ibunya sudah meninggal sejak ia dilahirkan. Ia bisa bersekolah berkat bantuan beasiswa, karena Ningsih termasuk murid yang cerdas kala itu. Untuk hidupnya sehari-hari ia berjualan kue keliling kampung setelah pulang sekolah. Tidak seperti Hendra dan Sandra yang serba berkecukupan. Namun perbedaan status sosial mereka tidak menghalangi mereka untuk bersahabat.


Sebenarnya sejak SMA Hendra sudah lebih dulu menyukai Ningsih sahabatnya, namun karena tidak ingin merusak persahabatan mereka akhirnya dia pun hanya memendam perasaan nya itu. Ia berencana setelah lulus SMA nanti, ia akan mencari pekerjaan yang bagus dan akan langsung melamar Ningsih. Namun takdir berkata lain, ternyata kedua orang tua Hendra dan orangtua Sandra telah menjodohkan mereka. Dan pernikahan mereka telah ditetapkan beberapa bulan setelah kelulusan mereka.


Ningsih yang tidak tahu menahu perihal perasaan Hendra terhadapnya sangat bahagia mendengar kedua sahabatnya itu akan menikah. Namun tidak dengan Hendra, walaupun ia sangat ingin lari dan membatalkan pernikahan tersebut tapi ia tak kuasa melawan permintaan kedua orang tuanya. Akhirnya mereka pun menikah, setelah menikah mereka pindah ke kota J, dan meninggalkan Ningsih sahabatnya di desa.


3 tahun pun berlalu setelah kepergian kedua sahabatnya itu. Banyak yang terjadi pada kehidupan Ningsih, setahun yang lalu ayahnya meninggal dunia. Membuatnya harus bekerja lebih keras untuk membiayai hidupnya dan Neneknya yang sudah tua dan sakit-sakitan. Karena sangat sulit mencari pekerjaan di Desa, akhirnya ia pun pergi ke Kota J untuk merantau dan mencari pekerjaan. Entah nasib baik sedang ada di pihak Ningsih atau tidak, setibanya disana ia pun tidak sengaja bertemu dengan Hendra sahabatnya.


“Ningsih!”. Teriak Hendra dari dalam mobilnya, saat itu Ningsih sedang jalan kaki di pinggir jalan, tanpa tujuan karena ia baru saja tiba di kota J.


“Kamu Winingsih kan!” Tanya Hendra lagi. Ningsih menoleh dengan wajah terheran-heran, bagaimana bisa ia baru saja tiba di kota ini tapi ada yang mengenalinya. Sambil mengingat-ngingat ia memperhatikan wajah dan penampilan Hendra yang saat ini sudah berdiri di hadapannya. Pria itu berpenampilan sangat rapi layaknya pejabat dan tampan. Khas orang kaya. tidak mungkin orang seperti itu mengenaliku, jangan-jangan dia orang jahat, batin Ningsih. Ia pun memegang erat tasnya dan mundur perlahan hendak meninggalkan pria itu.


Belum sempat ia beranjak dari tempatnya berdiri, Hendra langsung menggenggam erat tangan Ningsih.


“Jangan takut, aku bukan orang jahat. Aku Mahendra, apa kamu lupa?”. Terang Hendra seraya memperhatikan Ningsih yang masih nampak kebingungan.


“Mahendra? Mahendra Gunawan maksudmu?” Tanya ningsih dengan ragu-ragu.


“Iya, sahabatmu dulu di Desa xxx. Yang kini menikah dengan Casandra. Sekarang apa kamu sudah ingat?”. Ucap Hendra lagi berusaha meyakinkan Ningsih.


“Iya sekarang aku ingat”. Sambil memperhatikan penampilan Hendra lagi. “wah sekarang kamu sudah jadi seperti pejabat saja, aku sampai tidak mengenalimu tadi”. Ucap Ningsih dengan polosnya, Hendra terkekeh.


“Kamu bisa saja, ini berkat kerja kerasku selama tiga tahun ini. Ngomong-ngomong kamu sedang apa dikota ini? Apa ada yang kamu datangi?”.


“hhmm..”. Ningsih nampak sedang berfikir mencari alasan yang baik, ia bingung bagaimana harus menjelaskan kepada sahabatnya itu.

__ADS_1


“kamu sudah makan?”. Ningsih menggelengkan kepalanya “Baiklah, kalau begitu kita mempir makan dulu, sambil nanti kamu ceritakan padaku ya, ayo masuk”. Ajak Hendra sambil membukakan pintu mobilnya. Ningsih maju perlahan, rasanya ia segan memasuki mobil mewah itu.


Dalam perjalanan ia hanya terdiam sambil terus berbicara dalam hati.


Baik sekali nasib sahabatku ini, sehabis dia menikah ia bisa sesukses ini. Sedangkan aku, belum memiliki pekerjaan apa-apa sampai saat ini. Semoga di kota ini aku juga bisa sukses seperti Hendra. Batin Ningsih.


Tidak jauh dari tempatnya bertemu tadi, sampailah di rumah makan yang cukup besar dan mewah bagi Ningsih.


“Pesanlah, kamu boleh makan apa saja yang kamu mau”. Ucap Hendra dengan ramah. Ningsih sedang kebingungan melihat daftar menu yang harganya relatif mahal.


“Aku air putih saja”. Jawabnya singkat.


“Kenapa hanya air putih ? sudah ku pesankan saja ya”. Sahut Hendra seraya melambaikan tangannya memanggil pelayan.


“Nggak usah Ndra”.


“Nggak papa, jangan sungkan. Perjalanan kamu cukup jauh, pasti kamu lapar kan. Nah sambil menunggu pesanan datang, coba kamu ceritakan kedatanganmu di kota ini untuk apa?”. Tanya Hendra yang penasaran.


“Cerita saja, aku punya banyak waktu untukmu”.


“Singkatnya aku kekota ini untuk mencari pekerjaan, karena ayah sudah meninggal setahun yang lalu. Dan nenek sakit-sakitan, aku butuh biaya besar untuk biayanya berobat. Jadi mau tidak mau aku harus ke kota untuk mencari pekerjaan yang penghasilannya cukup untuk biaya hidupku dan berobat nenek”. Ucap Ningsih.


“Maaf ya, aku nggak tau kalau paman sudah nggak ada. Aku turut berduka. Lalu bagaimana dengan nenek? Kamu meninggalkannya di desa?”.


“Untuk sementara ini nenek tinggal bersama tante, kakanya ibu. Setelah aku mendapat pekerjaan dan tempat tinggal disini, aku akan membawa nenek ke sini”. Terang Ningsih.


“Hhhmm.” Hendra Nampak sedang berfikir.


“Bagaimana kalau kamu bekerja dikantorku saja”. Ucap Hendra antusias.


“Apa ? tapi aku nggak punya keterampilan apa-apa”. Sahut Ningsih sedikit lesu.

__ADS_1


“Nggak papa, kalau kamu mau bekerja dari bawah. Sambil nanti aku bantu kamu belajar, supaya bisa jadi staff kantor. Gimana ?”.


Mata Ningsih Nampak berkaca-kaca, ia tidak menyangka menemukan penolong di kota ini. Yang tidak lain penolong itu adalah sahabatnya sendiri.


“Nggak papa, bekerja apapun aku mau. Terimakasih, terimakasih banyak karena kamu sudah mau membantuku”. Ucap ningsih dengan bahagia.


Bagaimana aku tidak bisa membantumu Ningsih, aku nggak akan tega melihat wanita yang pernah aku cintai hidupnya menjadi menderita seperti ini. Andai saja waktu itu aku bisa lebih berani untuk menolak perjodohan itu, saat ini pasti kita bisa bersama, dan kamu nggak perlu mengalami penderitaan yang seperti ini. Batin Hendra.


“Kalau begitu, makanlah dulu. Nanti kamu akan ku bawa ke rumah ku dulu, disana ada Sandra, kamu bisa menginap beberapa hari sampai nanti kamu mendapat tempat tinggal”.


“Tapi, aku ngerasa nggak enak. Kita baru saja bertemu, dan kamu sudah begitu baik Hendra. Aku nggak mau kalau nanti dikatakan memamfaatkan kebaikanmu”. Ucap Ningsih.


“Jangan seperti itu, kita ini sahabat. Lagipula istriku juga sahabatmu kan, nggak akan nada yang berfikiran buruk padamu. Tenang saja”. Ucap Hendra mencoba meyakinkan Ningsih.


Ningsih pun setuju. Setelah makan, Hendra melajukan mobilnya menuju rumah. Mereka memasuki komplek perumahan elit kelas atas. Nampak ada Security di pintu gerbang yang menjaga.


Wah, dia tinggal di komplek mahal seperti ini. Sepertinya dia sudah sangat sukses setelah menikah. Aku turut bahagia untukmu Hendra, sahabatku. Kini kamu sudah sukses. Batin Ningsih sambil tersenyum.


Sesampainya dirumah, disana ada Sandra dan seorang anak kecil perempuan , yang usianya sekitar 3 tahun menyambut kedatangan Hendra.


“Papaaaaa”. Teriak anak itu sambil melebarkan kedua tangannya. Lalu disambut Hendra yang segera memeluk dan menggendong anak tersebut.


“Halo anak papa yang cantik”. Sapanya kepada malaikat kecil itu.


“papa siapa tante itu?” Tanya nya sambil menunjuk Ningsih.


Bersambung ~~


Hay readers, perkenalkan saya ERA.


Ini adalah Novel pertama saya. Sebagai penulis baru, pasti saya memiliki banyak kekurangan. Mohon kritik dan sarannya agar bisa menyempurnakan cerita ini. Saya juga butuh dukungannya dengan memberikan Like, Komen dan Votenya. Kelanjutan Novel ini sangat bergantung pada dukungan kalian.

__ADS_1


Terimakasih, salam sayang 😊❤


__ADS_2