
Akhirnya tiba juga hari kebebasan itu.
Hari ini adalah hari Wisuda dimana melepas kelulusan siswa yang didampingi oleh orangtua meraka. Namun lagi-lagi papa sibuk dan tidak bisa hadir hari ini, seperti biasanya ia juga melakukan hal yang sama ditahun-tahun sebelumnya. Bagiku ada atau tidaknya ia hari ini tidak masalah, lagipula ini adalah hari kebebasanku.
"Liat deh dia, itu si Ara yang juara 1 disekolah itu kan?". Bisik Dena ke kuping Mona.
"Ia, ternyata dibalik keburukannya itu dia bisa berprestasi juga toh". Mona tersenyum sinis padaku saat aku melewatinya untuk maju kepanggung mengambil piagam penghargaan.
"Selamat Ara, atas keberhasilannya. Semoga kepintaranmu itu tidak kamu gunakan untuk merebut suami orang ya, seperti yang dilakukan ibumu itu. Haha". Mona sambil tertawa diikuti teman-teman se-gengnya. Ingin rasanya ku tampar pipinya yang halus dan cantik itu, tapi kumaafkan dia hari ini lalu kubalas dengan senyuman saja kurasa tidak perlu meladeninya, bersyukurlah kamu Mona hari ini kamu selamat.
"Tumben kamu diam saja menerima perlakuan mereka ra?". Tanya Sonya yang penasaran dengan sabarnya diriku hari ini.
"Gak papa, biarkan saja mereka. Hari ini aku lagi baik hati hehe".
"Setelah ini kamu mau lanjut kemana ra?"
"Aku mau kuliah di Universitas U di kota B, kamu?
__ADS_1
"Wah aku juga, kalau kamu si sudah pasti diterima disana. Tidak denganku yang nilai hanya pas-pas'an begini". Sonya mulai murung
"Tenang saja, aku akan berdoa supaya kamu bisa diterima disana. Supaya kita bisa sama-sama lagi". Sambil merangkul Sonya. Aku dan Sonya sudah bersahabat sejak SMP, karena rumah kami sekomplek jadi kami lebih sering bertemu baik dirumah maupun disekolah. Semoga saja Sonya bisa diterima disana jadi kami bisa bersama-sama lagi. Dan aku akan memulai hidup baru aku akan membuat identitas diriku sendiri tanpa ada embel-embel Gunawan lagi.
Wisuda berjalan dengan normal, tidak ada masalah dan tidak ada kesan sedikitpun. Ya walaupun sedikit iri melihat mereka yang merayakan wisudanya didampingi oleh orangtua masing-masing. Apalah dayaku, aku hanya anak yang tidak diharapkan. Jadi aku tidak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan seperti mereka, aku harus tau diri dan aku harus mencari kebahagiaanku sendiri.
Selepas wisuda, aku menuju rumah bibi. Menyampaikan kabar gembira ini padanya.
"Bagaimana wisudanya non? Ramai?" sapa bibi sambil memelukku. Rasanya nyaman sekali ketika disambut seperti ini, tidak seperti dirumah ketika masuk saja rasanya seperti masuk kedalam rumah hantu "horor".
"Seperti wisuda yang pada umumnya bi, hehe. Kangen sekali rasanya". Aku langsung berbaring dipangkuan bibi. Rasanya ia sudah seperti ibuku sendiri, ia pengasuh yang terlama bekerja dirumah. Sekitar 6 tahun lamanya, berkatnya aku tidak salah arah. Beliau yang mengajarkanku tata krama, sopan santun dan mengenai hidup. Setidaknya aku bisa memiliki patokan saat nanti mulai hidup sendiri.
"Tidak apa-apa non, itu pasti sudah non pikirkan dengan baik. Yang penting non harus bisa jaga diri dan sesekali kabari bibi ya". Bibi sambil mengelus rambutku.
"Pasti dong bi. Haaahhh, andai saja bibi adalah ibuku. Senang sekali rasanya ada yang mendukung seperti ini". Bibi hanya tersenyum saja, sambil memeluk bibi aku memejamkan mata, rasanya nyaman sekali. Seperti semua beban, semua hinaan yang selalu aku terima itu hilang dalam sekejab. Mungkin begini rasanya jika ibu kandungku ada disini.
Aku menghabiskan waktu dirumah bibi sampai sore hari, karena bibi hanya tinggal sendiri. Beliau adalah seorang janda, suaminya sudah meninggal dan beliau tidak memiliki anak. Karena sudah kesorean aku memutuskan untuk pulang. Sesampainya dirumah, kebetulan ada Papa disana yang baru pulang dinas dari luar kota.
__ADS_1
"Pa, aku akan mendaftar di Univ U". Tanpa basa basi aku memulai pembicaraan dengannya.
"Yang dikota B itu? Apa tidak terlalu jauh?". Jawabnya sambil mengutak atik handphonenya tanpa melihat kearahku.
"Iya, aku akan mendaftar melalui jalur beasiswa. Dan untuk tempat tinggal aku sudah menemukannya".
"Baiklah,nanti akan papa transfer ketabunganmu untuk biaya hidupmu disana".
"Tidak perlu pa, sisa tabunganku masih ada aku akan menggunakan itu. Selebihnya aku akan mencari pekerjaan untuk biaya hidup disana".
"Baguslah, dia sudah mulai mandiri dan tidak menyusahkan kami lagi. Kapan kamu akan pergi? Sebaiknya secepatnya ya, tidak sabar rasanya merasakan rumah kami terlepas dari duri yang menempel selama 17 tahun". Tiba-tiba saja tante Sandra ada dibelakang papa.
Bersambung ~~
Hay readers, perkenalkan nama saya ERA.
Ini adalah Novel pertama saya. Sebagai penulis baru, pasti saya memiliki banyak kekurangan. Mohon kritik dan sarannya agar bisa menyempurnakan cerita ini. Saya juga butuh dukungannya dengan memberikan Like, Komen dan Votenya. Kelanjutan Novel ini sangat bergantung pada dukungan kalian.
__ADS_1
Terimakasih, salam sayang 😊❤