
Malam itu Irsyad sedang merencanakan sesuatu untuk perusahaannya. Agar saat dia memutuskan hubungan palsunya dengan Leona, dia sudah cukup siap jika terjadi hal yang tidak-tidak dengan hubungan kerjasama perusahaan mereka.
Sementara itu dikost Ara.
“Ra, urusan kuliah sudah selesai. Selanjutnya apa yang akan kamu lakukan sampai nanti mulai pertama masuk kuliah?. Tanya Sonya berbaring dikasur sambil memainkan laptopnya.
“Aku mau mencari pekerjaan partime, untuk biaya hidupku selama disini”. Jawab Ara.
“Kamu serius kamu kerja? Apa nggak terganggu nanti kuliahnya?”.
“Akan ku usahakan nggak”. Singkat Ara.
“Bukannya papamu selalu mengirimkan bulanan untukmu Ra?".
“Iya, sampai sekarang pun masih. Tapi aku nggak mau bergantung padanya lagi. Aku akan berusaha berjuang untuk hidupku sendiri. Uang yang dia kirimkan tetap akan kuterima, tapi belum kupakai. Anggap saja tabunganku, kalau suatu saat aku sangat membutuhkan dana, baru aku akan memakainya”. Jelas Ara.
“Keputusanmu udah bulat banget ya Ra, untuk mencari identitasmu sendiri”.
“Hey, sahabatku yang cantik. Sejak kapan jika seorang Ara bilang A besoknya akan berubah jadi B? Jika aku sudah memutuskan maka akan kulakukan, sudah cukup lama aku menunggu saat seperti ini. Jika aku tidak diterima dalam kehidupan ini, maka aku akan memperbaiki hidupku agar aku layak diterima”. Jelas Ara lagi.
“Sudah Ra, jangan ingatkan itu lagi. Aku jadi sedih juga, kamu punya aku, aku selalu menerimamu dengan tulus. Tanpa memandang bagaimana latar belakangmu”. Sonya beranjak dari kasur dan memeluk Ara.
“Terimakasih ya, sudah mau bersahabat dengan anak kotor sepertiku ini”. Ara sambil mengusap airmatanya.
“Jangan bicara seperti itu lagi atau aku akan marah! ”. Teriak Sonya. Lalu mereka pun menangis bersama.
"Oh iya, besok aku balik ke rumah. Kamu mau ikut nggak?". Tanya Sonya.
"Ikut, aku kangen sama bi Jami. Bisa kan kamu antar aku ke rumah bi Jami dulu setelah itu balik kerumah mu". Ara mulai Antusias.
"Aman, apasih yang nggak untuk , sahabatku ini". Mereka pun berpelukan lagi.
***
Keesokan harinya saat Sonya dan Ara dalam perjalanan menuju kota J, sementara itu dirumah bi Jami.
“Permisi, ada orang?”. Teriak seorang wanita sambil mengetuk pintu yang tidak lain adalah Tante Sandra.
__ADS_1
“Iya,”. Sahut dari dalam rumah, bi Jami sambil membuka pintu. “Eh Nyonya, silahkan masuk”. Bi Jami mempersilahkan Sandra masuk.
“Nggak bi, disini saja”. Sambil duduk di kursi teras rumah.
“Ada perlu apa ini nyonya, sampai jauh-jauh kemari?”. Tanya bi Jami kebingungan dengan kedatangan Sandra yang tiba-tiba.
“Nggak ada bi, hanya mau menengok bibi saja”. Sambil melihat-lihat sekitar rumah bibi.
Sepertinya nggak mungkin jika hanya ingin menengok kabar. Batin bi Jami.
“Ngomong-ngomong, anak itu nggak pernah kesini bi?”. Sandra mulai membuka pembicaraan.
“Anak yang nyonya maksud neng Zara?”. Tanya bibi memastikan.
“Ya siapa lagi”. Jawab Sandra sedikit ketus.
"Oh, neng Zara belum ada kemari lagi sejak ke kota B mengurus untuk kuliahnya. Apa ada pesan untuk neng Zara nyonya?". Tanya bibi.
"Oh, ng-nggak ada. Saya sudah nggak ada urusan lagi sama anak haram itu. Syukurlah jika dia nggak ke tempat bibi lagi, jangan terlalu menerima anak itu bi. Dia hanya pembawa sial". Sandra mulai menjelekkan Ara.
"Kamu! Untuk apa kamu kemari?". Bentak Sandra lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Seharusnya aku yang tanya tante, untuk apa tante kemari? Bukannya sudah nggak ada urusan lagi dengan bi Jami, bi Jami kan sudah nggak bekerja dirumah tante lagi". Balas Ara.
"Bagus ya, sekarang kamu sudah pintar bertanya balik!". Sandra mulai kesal.
"Bukan begitu, Ara hanya bertanya apa ada yang salah". Jawab Ara santai.
"Anak ini!". Sandra berdiri dan hendak menampar Ara, namun dengan sigap bi Jami berdiri di depan Ara menghalangi Sandra.
"Maaf nyonya, jangan buat keributan disini. Benar kata non Ara, saya sudah nggak bekerja di rumah nyonya lagi. Dan tidak ada larangan bagi non Ara untuk kerumah saya". Terang bi Jami dengan suara pelan karena sedikit segan bicara seperti itu dengan mantan majikannya.
"Hhmm.. Sekarang bi Jami juga membela dia ya". Sandra mulai geram.
"Bukan begitu nyonya, sekarang saya menganggap non Ara seperti anak saya sendiri. Jika ada yang menyakiti Ara itu artinya sama seperti menyakiti saya". Terang bibi lagi, yang semakin mambuat Sandra hilang akal. Lalu tanpa basa basi dia pergi meninggalkan rumah itu dengan amarah yang mendalam.
"Bibi beneran? Yang tadi bibi bilang itu beneran?". Tanya Ara yang nampak bahagia.
__ADS_1
Sambil tersenyum bi Jami menjawab "Iya, itu pun kalau non Ara mau".
"Tentu saja!". Ara langsung memeluk erat bi Jami. "Jadi sekarang Ara boleh panggil dengan sebutan ibu?". Kini mata Ara mulai berkaca-kaca.
"Iya sayang". Sambil tersenyum membelai lembut rambut Ara.
"Terimakasih , terimakasih bi. Bukan , ibu. Berkat ibu sekarang aku memiliki orang tua". Tangis Ara pun pecah. Tak sanggup lagi ia menahan rasa bahagianya hari itu, Ara memeluk bu Jami dengan erat seakan ada yang akan memisahkan mereka.
Bu Jami pun mengajak Ara masuk ke dalam rumah, karena sebelumnya Ara sudah mengabari bahwa ia akan segera datang. Bu Jami pun sudah menyiapkan makanan kesukaan Ara, sudah seperti ibu kandung sungguhan bu Jami tau betul apa kesukaan Ara. Mereka pun makan bersama dengan rasa bahagia yang tidak terkira.
Kini Ara memiliki seorang ibu, Kini ada tempat untuk dia pulang, tempat yang nyaman. Dimana akan ada seseorang yang akan menyambutnya. Ia bisa menumpahkan segala keluh kesah yang ia rasakan kepada bu Jami. Yang sebelumnya ia masih menjaga batasannya karena belum yakin bahwa bu Jami menerimanya seutuhnya. Namun kini, batasan itu sudah tidak ada. Mereka bisa bersama sebagai ibu dan anak. Begitu pula dengan bu Jami, yang setelah sekian lama ditinggal oleh suaminya, dan beliau tidak memiliki anak bahkan sanak saudara di kota J. Namun saat ini memiliki Ara yang akan menjadi keluarganya. Yang setelah bertahun-tahun ia rawat dengan penuh kasih sayang, walaupun bukan darah dagingnya sendiri. Namun, ia merawatnya dengan tulus.
Hari itu berjalan dengan rasa bahagia, seharusnya Ara kembali ke kota B. Namun karena sudah terlalu sore, bu Jami memintanya untuk menginap semalam.
Sementara itu Sandra yang kesal karena merasa diperlakukan tidak baik oleh Ara.
"Anak itu harus di beri pelajaran!". Umpat Sandra dengan kesal.
"Ada apa ma?". Tanya Leona.
"Itu si anak haram, tadi mama kerumah bi Jami. Ternyata dia kesana juga. Dan kamu tau perlakuan dia ke mama. Sangat tidak sopan!". Sahut Sandra dengan sangat kesal.
"Memangnya mama ada keperluan apa ke rumah bi Jami?".
"Ya nggak ada apa-apa sih, mama cuman mau tau aja si anak haram itu bagaimana. Mama nggak ikhlas meskipun dia sudah keluar dari rumah ini dia tetap nggak boleh bahagia". Ucap Sandra dengan jahatnya.
"Ma, apa sebaiknya sudahi saja dendam mama terhadap Ara. Bukannya dia sama sekali nggak bersalah dalam hal ini". Ucap Leona mencoba melembutkan hati mamanya.
"Gimana ? Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu Leona! Kamu tau, ibunya si Anak haram itu sudah menghancurkan rumah tangga mama. Hamil diluar nikah, dan menghianati mama. Lahirnya anak itu membuat papamu tidak memperdulikan kamu lagi, dan mama juga. Apa kamu masih belum mengerti apa yang sudah dilakukan anak itu terhadap kita!". Bentak Sandra. Leona hanya terdiam, dalam hati Leona ia bisa menerima Ara sebagai adiknya. Namun selama ini Sandra selalu mengatur apapun untuk Leona. Termasuk perihal bergaul dengan Ara, meskipun ia tau itu salah. Namun, Leona tidak bisa menolak permintaan mamanya karena tidak mau membuat hati mamanya sedih dan sakit.
Bersambung ~~
Hay readers,
terimakasih sudah membaca, jangan lupa dukungan Like, komen dan Votenya ya.
Salam sayang 😊❤
__ADS_1