Bunga Yang Kesepian

Bunga Yang Kesepian
chapter 5-5


__ADS_3

Dan yang menang Adinda, mereka main duluan. Permainan pun dimulai. Adinda mengoper bola ke Leon dan Leon mengoper bola ke Doni. Doni memasukkan bolanya ke ring. Kelompok Adinda mencetak skor. Kini skor nya sudah 9-2. Saat permainan akan dilanjutkan hujan pun turun.


Mereka segera pergi mencari tempat untuk berteduh. Hujan pun semakin deras. Adinda sangat suka dengan hujan. Dia pun menampung air hujan dengan tangannya. Al yang melihat itu mendekati Adinda.


"Mau main hujan?" tanya Al.


Adinda pun melihat Al dan mengangguk. Al langsung menarik Adinda untuk bermain hujan. Teman Adinda dan Al pun ikut bermain hujan. Rasanya Adinda begitu bahagia. Tanpa sadar Adinda tersenyum dengan sangat manis. Al yang melihat senyum yang terukir di wajah Adinda pun terkejut dan setelah itu ikut tersenyum bahagia. menurut Al Senyum Adinda begitu manis. Baru kali ini ia melihat senyum itu di wajah Adinda.


Al ingin melihat senyum itu tetap berada di wajah Adinda. Tapi apakah bisa? Setelah puas dengan hujan-hujanan mereka pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah Adinda langsung mengganti bajunya. Ia masih terbayang Al dan dirinya yang bermain hujan. Rasanya Adinda sangat nyaman saat berada dekat.


Adinda memutuskan untuk tidur karena merasa kedinginan. Dia masuk ke alam mimpinya. Adinda terbangun dari tidurnya saat mendengar suara gaduh dari bawah. Dengan kesadaran yang belum penuh Adinda turun ke bawah melihat apa yang telah terjadi. Ternyata mama dan papanya. Dan ada seorang wanita yang tidak dikenal.


"Siapa wanita ini!" tanya Diana dengan emosi.


"Dia pacar ku" kata Deri dengan santai.


Adinda terkejut dengan perkataan Papanya. Diana mama Adinda tersenyum sinis melihat wanita di hadapannya. Tiba-tiba Diana menampar wanita itu.


"Kamu apa-apaan ha!" kata Diana dengan emosi.

__ADS_1


Setelah itu Deri pergi bersama wanita selingkuhan nya. Diana sangat marah dan membanting pintu dengan sangat keras. Adinda menatap sendu kedua orang tuanya tapi dia tidak menangis mungkin air matanya sudah kering. Kepala nya saat ini sedang pusing dia langsung menuju kamarnya untuk istirahat. Karena diri nya sedang demam habis hujan-hujanan tadi. Tiba-tiba ada pesan masuk dari orang yang meneror nya.


?: Keluarga lo hampir hancur.


Gue akan membuat mereka celaka.


Jangan pernah sentuh keluarga gue.


Sorry dendam gue lebih besar


dari maaf gue.


Kepala Adinda pun semakin sakit. Adinda sudah terduduk dilantai yang dingin menahan kan sakit. Ia ingin minta bantuan tapi sayangnya diri nya tidak sanggup lagi untuk berdiri. Dan rasanya lehernya tercekik untuk mengeluarkan suara yang kuat. Adinda sudah tergeletak dengan pandangannya yang mulai mengabur. Dan semuanya menjadi gelap.


Tidak ada yang tau kalau Adinda sedang pingsan di dalam kamarnya. Sudah malam Adinda belum juga sadarkan diri. Bahkan tidak ada yang tau diri nya pingsan. Adinda mulai tersadar dari pingsan nya. Dia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menetralkan cahaya yang masuk. Adinda langsung bangkit dari lantai yang dingin dan berusaha untuk ke tempat tidur nya. Tisu yang berdarah tadi masih dibiarkan oleh Adinda.


Adinda mencari HP nya untuk menelepon dokter yang selalu mengobati keluarga Alexs kalau ada yang sakit. Setelah menelepon, Adinda kembali berbaring di kasurnya. Dokter Yuda akan segera ke rumah nya. Dokter Yuda pun datang dengan diantar oleh bik Yati ke kamar Adinda. Bik yati keluar karena Adinda akan di periksa.


"Apa keluhan kamu Adinda?" tanya Dokter Yuda dengan lembut.

__ADS_1


"Tadi saya mengalami sakit kepala yang sangat dasyat dan saya mengalami mimisan hebat" kata Adinda dengan wajah nya yang sangat pucat.


"Kamu kelelahan. Kamu juga sudah biasa saat demam mengalami mimisan. Jadi saya kasih resep obat yang harus kamu tebus di apotek" kata Dokter Yuda memberi selembar kertas.


Setelah itu dokter Yuda keluar dari kamar Adinda yang diantar keluar oleh bik Yati. Sesudah mengantar dokter Yuda bik yati kembali ke kamar Adinda. tisu yang berserakan tadi dibersihkan oleh bik yati. Setelah itu bik yati pergi ke apotek untuk menebus obat milik Adinda.


?: siap-siap lah kehilangan papa tersayang mu.


Adinda pun langsung mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Dia akan pergi untuk menyelamatkan papanya. Dia tidak menghiraukan kepalanya yang terus berdenyut hebat. Dengan cepat Adinda mengendarai mobilnya. Adinda tidak ingin kehilangan lagi untuk kedua kalinya. Adinda pun melacak keberadaan papanya dengan GPS tapi tidak ditemukan.


Adinda tidak menghiraukan hujan yang begitu lebat. Dia terus mengendarai mobilnya sangat cepat sambil terus melacak keberadaan papanya. Dari jauh ada mobil yang sengaja ingin menabrak Adinda. Diri nya tidak menyadari itu dan mobil Adinda terpental begitu jauh.


Mobil itu pun pergi dari tempat kejadian. Adinda berusaha membuka pintu mobilnya yang sudah terbalik. Darah terus mengalir dari kepala Adinda. Kepala nya semakin berdenyut sangat hebat. Adinda tidak ingin mati di sini. Dengan kesadaran yang mulai menurun Adinda berhasil membuka pintu mobil dan keluar.


Tapi kesadaran Adinda menghilang dan semuanya menjadi gelap. Orang yang menabrak Adinda pun tersenyum kemenangan di dalam mobilnya dan pergi dari tempat kejadian.


TBC~


ikuti terus cerita Bunga yang kesepian:)

__ADS_1


__ADS_2