
Di sinilah Adinda sekarang sedang berada di ruang UGD. Sedari tadi dokter yang memeriksa Adinda belum keluar. Belum ada yang tau keadaan Adinda. Saat dokter Yuda akan pulang kerja dia tidak sengaja melihat mobil yang terbalik dengan orang yang sudah dipenuhi oleh darah. Dokter Yuda mendekati orang itu dan ternyata Adinda. Ia tidak menyangka karena baru saja diri nya berada di rumah Adinda.
Dokter Yuda segera membawa Adinda ke rumah sakit dan ditangani oleh nya. Pintu ruang UGD pun terbuka. Dokter Yuda bernafas lega karena Adinda masih bisa diselamatkan. Tapi Adinda mengalami koma. Dokter Yuda berusaha menelpon kedua orang tua Adinda tapi jawaban mereka sangat mengecewakan. Mereka tidak bisa datang untuk menjenguk putri nya karena ada sebuah bisnis.
Dokter Yuda menatap kasihan Adinda karena orang tuanya yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan dengan dirinya. Dokter Yuda tahu bagaimana rasanya menjadi Adinda karena dia dulu pernah berada di posisi Adinda. Dokter Yuda pun mencari kontak yang bisa dihubungi dari HP Adinda. Dokter Yuda menemukan kontak yang bernama 'Al jelek'. Dokter Yuda sedikit terkekeh dengan panggilan yang dibuat Adinda.
Dengan cepat dokter Yuda menelpon Al yang langsung diangkat oleh Al. Dokter Yuda memberi tau keadaan Adinda. Kata Al dia akan segera kemari untuk melihat keadaan Adinda. Adinda sudah dipindahkan ke ruang inap. Al pun datang dengan berlari. Dia tidak peduli ini di rumah sakit yang penting dia cepat bertemu dengan Adinda. Al pun masuk ke ruang inap Adinda.
Ia melihat Adinda yang terbaring lemah dengan selang oksigen dan selang infus yang tertancap. Al menatap sendu Adinda. Rasa nya sangat sakit melihat Adinda terbaring lemah seperti ini. Tidak ada lagi wajah datar yang ditampilkan oleh seorang Adinda. Kini hanya ada wajah pucatnya yang menghiasi. Al pun duduk di samping Adinda memegang tangan Adinda dan mengelus nya.
__ADS_1
"Adinda gue mohon sadar loh tahu gue sangat sedih melihat lo seperti ini. Lo boleh marah sama gue sepuasnya karena sering memaksa lo tapi jangan seperti ini. Bangun din" kata Al yang terus mengelus tangan Adinda yang terbebas dari selang infus.
Teman-teman Adinda sudah dikabari oleh Al. Aurel pun datang dengan Salsa. Mereka melihat Adinda terbaring lemah. Al pun bergeser membiarkan teman Adinda berada di sisinya. Untuk menguatkan nya agar cepat sadar.
"Adinda bangun gue tau lo kuat. Lo itu nggak lemah" kata Aurel berbicara kepada Adinda.
Setelah itu Aurel permisi untuk keluar. Salsa masih saja terus bicara dengan Adinda sedangkan Al masih setia duduk di sofa yang ada di ruang inap Adinda. Aurel Menelepon papa Adinda untuk memberitahukan ke adaan Adinda.
"Halo om. Saya teman nya Adinda ingin memberi tau bahwa Adinda sedang koma akibat kecelakaan" kata Aurel langsung to the poin.
__ADS_1
"Maaf saya tidak bisa jenguk anak itu. Saya lagi sibuk sama kerjaan" kata Deri papa Adinda.
"Bagaimana jika Adinda tau papanya lebih mementingkan kerjaan di bandingkan dia. Mungkin Adinda akan kecewa. Om dan tante itu gak pernah mikirin perasaan Adinda sebagai anak kalian. Bahkan di saat dia sakit begini kalian masih gak perduli. Dia itu sedang koma yang antara hidup dan mati" kata Aurel mulai emosi.
"Saya kerja juga untuk dia. Jangan ceramahin saya kamu itu masih anak-anak jadi gak usah sok tau" kata Deri.
"Adinda juga butuh kasih sayang dari kalian dia gak cuma butuh UANG tapi juga kasih sayang. Maaf yah om meski umur saya masih muda di bandingkan dengan om tapi pemikiran saya dewasa gak seperti om" kata Aurel lalu mematikan sambungan nya.
TBC~
__ADS_1