Bunga Yang Kesepian

Bunga Yang Kesepian
chapter 10


__ADS_3

||Aku akan tetap menjadi bunga kesepian tanpa sebuah teman yang berada di


bawah deras nya guyuran hujan||


                 Adinda~


Disini lah Adinda di sebuah taman yang sepi. Adinda sedang menunggu Salsa datang. Dia merasa seperti ada orang yang sedang mengawasi diri nya. Tiba-tiba ada teriakan seseorang yang mengarah ke Adinda. Bersamaan dengan suara pistol yang ditembakkan. Adinda sangat terkejut.


"Adinda awasss!" kata Salsa sambil menghalangi peluru itu.


Dan peluru itu tepat kena di dada Salsa. Kini Salsa sudah berada di pelukan Adinda dengan berlumuran darah. Ia benar-benar sangat terkejut dengan apa yang telah terjadi. Dengan susah payah Salsa mengatakan sesuatu dengan Adinda yang masih memeluknya dengan ke adaan mematung.


"Adinda gu-e min-ta maaf ka-rena telah meng-hiana-ti mu. Ter-ima kasih a-tas sem-ua nya. Gue sang-at berun-tung bi-sa me-nge-nal lo"  kata Salsa yang diakhiri dengan senyuman yang sangat manis.


Salsa mulai memejamkan matanya. Adinda pun menangis sambil mengguncang-guncang tubuh Salsa yang sudah tidak berdaya.


"Sa bangun! Gue mohon bangun. Gue minta maaf telah membuat lo seperti ini hiks..." kata Adinda sambil terus menangis.


Adinda segera menelepon ambulan. Tangisan pilu itu pun mampu menyayat hati siapa saja yang mendengar nya. Adinda tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Lagi-lagi orang yang dia sayang direnggut oleh pistol itu. Kini dia sudah berhenti menangis hanya saja tatapan kosong itu lagi yang menghiasi mata coklat itu.


Sekarang Adinda sudah berada di rumah Salsa. Mama Salsa menangisi putri semata wayang nya yang sudah meninggal dunia. Membuat Adinda semakin merasa bersalah. Adinda berfikir andai saja dia tidak mengajak Salsa bertemu mungkin dia yang akan mati. Tatapan kosong itu lagi yang menghiasinya seperti pertama kali oma nya meninggal. Semua teman mereka telah datang untuk memberikan bela sungkawa.


Al benar-benar sedih melihat Adinda seperti ini. Adinda dengan tatapan kosong, rambut acak-acakan dan baju yang penuh dengan darah. Tampilan yang begitu mengerikan. Sore ini mereka akan mengantarkan Salsa ke tempat peristirahatan terakhirnya.


                          🍁🍁🍁


Mereka telah mengantarkan Salsa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Kini di pemakaman tinggal ada Adinda dan Aurel. Aurel menatap sedih Adinda. Dia berusaha membujuk Adinda untuk pulang. Karena hari juga sudah semakin gelap mungkin sebentar lagi hujan akan turun.


"Din ayo pulang. Udah mau hujan" pujuk Salsa.


"Lo aja gue mau di sini" kata Adinda sambil menangis.


"Jangan gitu entar lo sakit. Salsa akan marah liat lo kayak gini" kata Aurel.


Akhirnya Adinda mau pulang bersama Aurel. Sesampai nya di rumah hujan turun dengan lebat. Adinda ingin masuk ke dalam tapi dia mendengar suara gaduh. Dia langsung buru-buru membuka pintu. Adinda melihat kesya yang ke takutan di tangga. Kali ini papa dan mama nya bertengkar hebat. Membuat hati Adinda semakin terluaka.


"Aku mau kita cerai!" kata Deri.


Bagaikan di sambar petir Adinda benar-benar sudah hancur. Dia langsung saja lari keluar. Tidak perduli di luar sedang hujan lebat. Adinda menangis sejadi-jadi nya sambil terus berjalan. Dia tidak tau akan kemana. Semua nya sudah hancur. Kebahagiaan Adinda telah lenyap.


Saat ingin menyebrang tiba-tiba ada mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Adinda. Seperti nya orang di dalam mobil sedang mabuk parah.


Dan prak....


Adinda terpental jauh. Darah mengalir dari kepalanya. Sebelum kesadaran nya menghilang Adinda tersenyum.


                          🍁🍁🍁


Di sini lah Aurel berada. Dia sedang dirumah sakit. Menunggu Adinda yang berada di ruang ICU. Sudah 3 jam dokter belum keluar juga. Tadi saat di jalan menuju rumah perasaan Aurel tidak enak. Dia langsung saja memutar balikkan mobil nya menuju rumah Adinda tidak perduli hujan begitu deras. Saat di perjalanan Aurel melihat seseorang yang tergeletak tidak berdaya. Aurel langsung saja menghampiri nya. Saat membalik tubuh orang itu Aurel sangat terkejut karena itu Adinda. Segera dia membawa Adinda ke rumah sakit.


Aurel telah mengabari orang tua Adinda. Aurel benar-benar cemas dengan ke adaan Adinda. Mama dan papa Adinda pun datang dengan tergesa-gesa. Mereka menatap cemas ruangan yang di tempati Adinda sekarang. Akhirnya dokter pun keluar setelah 3 jam berlalu.

__ADS_1


"Dok bagaimana dengan ke adaan anak saya?" tanya Mama Adinda.


"Maaf buk Adinda sedang dalam masa keritis. Kita hanya bisa berdoa agar dia selamat dari koma nya. Kemungkinan sangat kecil untuk bisa selamat. Kalau begitu saya permisi dulu" kata dokter Yuda.


Mama Adinda langsung menangis penyesalan. Dia tidak menyangka akan seperti ini jadi nya. Aurel juga menangis dalam diam. Tidak terasa sudah sebulan Adinda tidak sadar kan diri. Mereka terus bergantian menjaga nya. Hari ini adalah jadwal Aurel menjaga nya. Tapi karena dia sekolah dia menyuruh suster mengawasi Adinda.


Tangan Adinda mulai bergerak. Dia mulai tersadar dari koma nya. Adinda perlahan-lahan membuka matanya tapi pasti. Saat tersadar tidak ada siapa pun. Suster masuk ingin mengecek Adinda betapa terkejut nya dia saat Adinda sudah sadar kan diri. Suster langsung memanggil dokter yuda.


"Syukur lah kau sadar kan diri" kata dokter yuda bernafas lega.


Adinda hanya tersenyum melihat dokter yuda. Wajah pucat nya sangat menghiasi.


"Saya teleponkan orang tua kamu yah" kata dokter yuda.


"Jangan aku mohon" kata Adinda.


"Baiklah" kata dokter yuda merasa aneh.


"Boleh aku meminta kertas dan pulpen?" tanya Adinda.


Dokter yuda memberikan kertas dan pulpen ke pada Adinda. Adinda menulis sesuatu di sana. Ada tiga surat yang dia buat. Dokter yuda merasa aneh dengan kelakuan Adinda.


"Kasih ini saat aku tidur nanti yah" kata Adinda tersenyum.


Tiba-tiba ada yang masuk ke kamar Adinda. Dan ternyata Felix. Dokter yuda keluar dari ruangan Adinda. Felix membawa buah untuk Adinda.


"Udah sadar" kata Felix.


Felix pun merasa terkejut. Karena dia heran Adinda bisa tau dari mana. Dia menatap Adinda penuh tanya.


"Gak usah kaget gitu. Gue akan suruh papa ngakuin semua kesalahan nya di kantor polisi. Jadi lo tenang aja yah. Gue tau lo tuh orang yang baik. Karena papa gue lo jadi kayak gini" kata Adinda sambil tersenyum.


"Makasih yah lo gak benci kan sama gue?" tanya Felix menyesal.


"Enggak kok. Gue tau papa gue itu salah. Tapi cara nyadarin papa gue gak kayak gini. Ohh yah gue titip salam sama mama lo yang lagi sakit yah. Bisa panggilin dokter yuda?" tanya Adinda.


Felix pun mengangguk. Dia langsung pergi memanggil dokter yuda. Saat dokter yuda sampai di ruangan Adinda keadaan nya drop. Orang tua dan sahabat Adinda sampai. Dokter yuda menelpon Mereka karena takut terjadi sesuatu. Mereka tidak bisa masuk karena dokter yuda sedang menangani nya.


Dokter yuda keluar dari ruangan ICU dengan ke adaan kacau. Melihat dokter yuda seperti itu membuat semua orang yang Adinda kenal menatap cemas.


"Maaf ternyata tuhan lebih menyayangi Adinda. Dia tidak bisa di selamat kan"


Mereka pun menangis. Sekarang hanya ada penyesalan di diri mereka masing-masing. Mereka benar-benar telah menyia-nyiakan keberadaan Adinda di hidup mereka selama ini. Memang penyesalan itu selalu datang terakhir.


"Ini ada surah buat kalian. Untuk orang tua nya. Al. Dan Aurel" kata dokter yuda memberikan titipan Adinda.


Surat di buka mulai dari orang tua nya.


              **Dear mama dan papa


Hai ma, pa mungkin saat kalian membaca surat ini Adinda telah pergi dari sisi kalian. Jangan sedih yah. Adinda senang bisa menjadi anak kalian. Meski kalian gak pernah punya waktu untuk Adinda. Tapi Adinda tetap senang. Kalian tau banyak yang udah Adinda hadapi sendiri. Adinda pesan jaga Kesya seperri anak kalian sendiri yah. Jangan buat dia merasakan sedih apa lagi kesepian seperti yang Adinda rasa kan. Sayangi dia sepenuh hati. Dan buat papa jaga mama dan kesya. Akui lah perbuatan papa kepada yang telah membunuh orang. Anak nya yang bernama Felix ada disini. Minta maaf lah ke pada nya. Adinda sayang kalian.

__ADS_1


"Salam Adinda putri Alexs**"


Setelah membaca surat dari Adinda mereka sadar mereka bukan orang tua yang baik. Mereka menangis sambil memeluk kesya. Mereka berjanji akan merawat kesya dengan baik. Sekarang di lanjut kan Al yang membuka surat nya.


                         **Alvano


Hai Al. Makasih telah hadir di hidup gue. Gue beruntung pernah ngenal lo katena dari lo gue tau apa arti cinta yang sesungguh nya. Lo bakalan jadi orang yang sepesial pertaman dan terkahir di hidup gue. Dan jangan lupa cari orang yang lebih baik dari gue dan Salsa yah. Gue sayang lo.


                         Adinda**~


Lagi-lagi penyesalan itu datang di diri mereka. Mereka menyia-nyiakan orang yang benar-benar tulus.


                            **Aurel


Rel makasih mau hadir di hidup gue. Maksih selalu ada untuk gue saat susah mau pun senang. Cuma lo yang ngertiin gue. Jaga Kesya yah anggap dia kayak adek lo. Cafe AP'A itu milik gue. Lo urus sampai kesya dewasa dan setelah itu berikan cafe nya sama kesya. Gue percaya sama lo. Jangan lupa bahagia yah. Gue sayang sama lo rel**.


Kini sudah selesai perjalanan Adinda. Kisah nya yang begitu rumit telah habis. Sekarang Adinda tidak akan merasakan sedih lagi dan kesepian. Ini laha akhirhanya. Samapai jumpa di kisah ini.


Puisi


                Bunga yang kesepian


*Aku bagaikan bunga yang kesepian


Yang dijauhi banyak orang


Aku selalu mencari teman dan sebuah kebahagiaan


Tapi aku tak pernah menemukannya


hanya kegelapan dan kesunyian yang menemani


Bahkan aku ditinggalkan sendiri di hamparan padang pasir


Yang mencari seseorang tapi tak kunjung kutemukan


Hingga aku tenggelam ditelan begitu banyak pasir


Begitulah banyak orang yang menginginkan ku menghilang dari muka bumi ini


Aku tak sanggup menemui kalian tanpa topeng bodoh ini


Yang selalu kupakai kemana-mana


Hingga di hancur dan tidak bisa lagi digunakan


Semua yang ku tutupi telah terbongkar


Kini kalian pun ikut pergi bersama hancurnya topeng itu


Aku akan selalu menjadi bunga yang kesepian tanpa teman.

__ADS_1


     _(Karangan mutiara andita*)_


__ADS_2