
"Percayalah padaku Clara, hal terakhir yang aku rasakan ketika melihatmu adalah .... Rasa kasihan" ucap Christian
Lidahnya memainkan lidahku, cengkramannya nyaris membuat wajahku kesakitan.
Aku dipaksa untuk lebih dekat dengan Christian, dan saat itu juga aku merasakan sesuatu yang mulai mengeras.
Seluruh bagian yang ada di dalam tubuhku juga mulai merasakannya. Sesuatu muncul dalam diriku, dan aku mulai menciumnya kembali.
Aku menciumnya dengan seluruh kekuatan dan rasa yang aku punya. Oh Tuhan, rasanya enak sekali . . . Erotis dan begitu lama ditunggu.
Christian menarik wajahnya dan menatapku sambil memegang wajahku, nafasnya terengah engah. "Ciuman apa itu, Anderson?"
Aku menatapnya saat dadaku naik turun.
"itu bukan ciuman orang-orang tua." Christian masih memegang wajahku dan mulai mencium bibirku lagi. "itu ciuman dengan penuh gairah" bisik Christian. Christian masih menciumi dan menjilati bibirku.
"apa mulai bergairah, Clara?" tanya Christian
Bukan bergairah lagi, lebih dari itu, ucapku dalam hati
Aku meletakkan tanganku di belakang kepala Christian dan menariknya lebih dekat denganku. Aku menciumnya lagi. Lebih keras, lebih mendesak.
Semua taruhan dibatalkan.
Aku ga mau jadi janda yamg menyedihkan lagi. . . Untuk malam ini saja, aku ingin menjadi seorang wanita.
Tangan Christian mulai meraba buah dadaku, dan aku pun kembali berkonsentrasi.
Apa yang telah aku lakukan?
Aku mundur dari Christian dengan tergesa-gesa.
"ada apa? Ada yang salah?" tanya Christian sambil terengah-engah.
aku memegang pelipisku saat aku coba menahan rasa gairahku. "bisakah kamu menghentikannya?"
"hentikan apa?"
"Aku ga tertarik sama kamu, Christian. Aku ga akan pernah tertarik sama kamu. Mundur" berbisik dengan marah.
Christian mengerutkan wajahnya karna tidak percaya. "apa?"
"kamu dengar aku."
"aku bisa merasakan kalau kamu juga tertarik denganku, berhenti berbohong, Anderson."
"kamu mengalami delusi" bentakku
"kamu mau aku, akui itu" kata Christian.
Christian mendekatiku lagi, tapi aku menjauhinya, jauh dari jangkauannya. "tinggalkan aku sendiri, Christian!"
"kembali padaku" perintah Christian.
"pergi aja sana!"
Kembali padaku . . . Aku berharap begitu.
Aku berjalan menyusuri lobi dengan penuh misi.
Misi menjauh dari Christian Miles.
Christian seperti iblis yang suka menggoda.
__ADS_1
Keesokan harinya ~
Aku duduk di auditorium yang ramai. Orang-orang sedang mendengarkan materi tentang mind-set dan membuat jurnal aktif.
Tapi bukan aku, karna aku ga bisa berkonsentrasi sama sekali.
Christian sedang mengitari ruangan ini. Membantu orang-orang ketika mereka meminta saran dan menyemangati mereka.
Christian mengenakan setelan jas warna navy dan kemeja cream dengan dasi warna kuning- abu-abu. Dia baru saja melepaskan jasnya dan menyimpannya di kursi. Dan setiap otot yang ada dalam tubuhku mendesah.
kemeja creamnya di gulung dibagian lengan, memperlihatkan lengan bawah yang berotot dan dadanya yang bidang.
Aku juga bisa melihatnya dari belakang sekarang. Padat dan berisi. . . Rambutnya yang hitam dan sedikit bergelombang. Kulitnya yang agak kecoklatan dan matching sama warna matanya yang coklat. ga seharusnya aku melihatnya seperti ini.
Tapi aku ga bisa menahannya. Aku ga bisa menahan diriku untuk melihatnya. setiap sel yang ada di dalam tubuhku menginginkan Christian.
Christian adalah spesimen laki-laki yanh sempurna.
Aku ga suka sama Christian, tapi . . . Hal yang slalu aku pikirkan adalah momen berdua sama dia. Ini bukan aku Clara. Aku bukan tipe wanita yang berpikir dengam v*ginanya
Dengan gerakan perlahan, Christian berjongkok disampingku. "apa kamu butuh bantuan, Clara?" bisik Christian.
Nafasku tercekat saat menatap mata coklatnya yang besar.
sial, ya aku membutuhkannya.
"aku ga memerlukan bantuan." jawabku dengan berbisik. "makasih"
Christian dan aku bertatapan cukup lama. Apa Christian bisa merasakan apa yang aku rasakan?
"apa kamu datang ke wine tour siang ini?" tanya Christian.
Akupun menganggukkan kepalaku. Tidak bisa berkata apapun.
Christian tersenyum manis. "sampai ketemu nanti siang." Christianpun pergi menghampiri peserta lainnya.
Aku menggelengkan kepala karna muak telah memikirkan hal itu.
tidak!
Christian Miles adalah hal yang terlarang.
Hentikan! apapun yang kamu pikirkan, hentikan sekarang.
Beberapa waktu kemudian ~
pipiku terasa sakit karna terlalu banyak tertawa.
Ini adalah tempat wine yang ke enam.
siapa sangka konferensi ini sangat menyenangkan. Aku sama sekali tidak membayangkan ini sebelumnya.
Mataku tertuju pada satu orang yang sedang duduk di bar. . . Christian.
Grup kami akan pergi ke tempat pembuatan wine.
tapi tidak denganku. Aku pergi menghampirinya di bar. "apa kursi ini kosong?" tanyaku
Matanya menatapku dan terlihat sedikit senyuman di bibirnya. "kosong, silahkan duduk"
Aku duduk disamping Christian di bar, dan pelayan berjalan ke arahku. "mau minum apa?" tanyanya.
"aku mau segelas champagne lagi." jawab clara
__ADS_1
"baik." lalu pelayan itu bertanya ke Christian "segelas scotch lagi?"
"ya boleh" jawab Christian. "kamu menggunakan waktumu, Anderson."
"maksudnya?"
Christian melirik ke jam tangan mewahnya itu "sekarang jam 10 malam. Kamu gunakan waktu yang banyak untuk duduk disampingku saat ini."
"kalo ini sudah malam dan telat, aku pergi aja kalah begitu." aku menggodanya, akupun berdiri.
"duduk." Christian menyeringai. "kamu beruntung karna malam ini malam yang tenang."
Bartender meletakkan champagne di depanku. Kamipun bersulang untuk Épernay.
Aku dan Christian saling bertatapan.
Christian menatapku, dia sambil meminum scotchnya. "kamu mungkin harus berhenti menatapku seperti itu."
"seperti apa?" tanya Clara
"seperti kamu ingin memakanku."
hatikupun berdebar. "itu sangat lancang, Pak Christian."
"panggil aku Chris atau Tian."
Aku menggigit pipi bagian dalam untuk menahan diri agar aku ga tersenyum. Aku suka permainan ini. "aku akan memanggilmu apapun yang aku mau." jawabku.
"apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan memakanmu?" tanyaku.
tatapan Christian mengarah ke bibirku. "karna aku juga mau memakanmu. Sikapku untuk membalasnya."
Aku tertawa akan keberaniannya. "sayangnya, aku ga memiliki sopan santun."
Secara perlahan, Christian mengangkat gelasnya dan tersenyum sambil meletakkan gelas itu di bibirnya. "Jadi... Martir ini selalu berhasil untukmu?"
"bagaimana aku seorang martir?" tanyaku
"well. . ." Christian mengangkat kedua bahunya. "kamu selalu bilang kalau kamu ga tertarik sama aku. Tapi . . ."
"Tapi apa?" aku berbisik
"tapi aku bisa merasakannya." gumam Christian. "aku bisa merasakan kalau tubuhmu memanggil tubuhku."
Kami bertatapan ketika udara meninggalkan paru-paruku.
"setiap kita berdekatan, aku bisa merasakan kalau tubuh kita berbicara satu sama lain. jangan bilang kalau kamu ga merasakannya. Karna aku tau, kamu juga merasakannya." bisik Christian.
Kami saling menatap dalam waktu yang lama.
"apakah kamu akan memberikan apa yang dia mau?" Christian mengambil gelasnya lagi
aku menundukkan kepala, terguncang karna indra keenamnya itu.
"sayangnya, aku ga bisa."
"kenapa ga bisa?" Tanya Christian.
"karna, kamu bukan seseorang yang aku ..."
"suka?" Christian bertanya,
Aku menahan untuk tidak menjawab.
__ADS_1
"Tenang, Anderson. Kamu juga bukan seseorang yang aku suka. Jangan terlalu ge-er."
aku tersenyum dengan perasaan tenang karna jawaban Christian.