CEO DAN JANDA 2 ANAK

CEO DAN JANDA 2 ANAK
22


__ADS_3

CHRISTIAN POV


Saat ini menunjukkan pukul sepuluh pagi di hari kamis, dan seseorang mengetuk pintu ruangan Christian.


"Masuk."


Nadya masuk ke ruang kerja Christian, dan Christian tersenyum. Nadya adalah asisten pribadi kakak aku. Nadya menjaga aku dan kakak ku agar tetap teratur. "Chris, calon anak magang udah ada disini semua, dan siap untuk di wawancara."


Christian tetap fokus pada pc nya. "Okay, ada berapa orang?"


"dengan semua tes yang sudah dilakukan dan dua wawancara sebelumnya yang mereka lakukan, ada tiga kandidat berhasil sampai tahap ini."


"okay, kamu suka kandidat yang mana?" tanya Chris.


"aku suka Tiara," jawab Nadya. "aku pikir, dia memiliki sesuatu yang diperlukan."


"well, untuk mencapai tahap ini, mereka semua memiliki sesuatu yang kita perlukan, tapi mari kita lihat siapa yang terbaik dari wawancara ini." setiap tahun perusahaan kami menerima kandidat magang terbaik dari seluruh wilayah.


"suruh masuk untuk kandidat yang pertama." pinta Christian ke Nadya.


"baiklah."


Christian menyiapkan lembar pertanyaan yang harus ditanyakan ke setiap kandidat. Sudah kusiapkan buku catatan dan pulpen.


Terdengar suara ketukan di luar pintu ruang kerjaku.


"masuk."


Pintu ruang kerja Christian terbuka, dan mendongak. Kemudian aku melirik kearah bawah.


Itu dia.


si pelaku yang menyerangku dengan underware. Mulut kami ternganga karena terkejut saat bersamaan.


"anda . . . Christian Miles?" Jeandra terkejut.


"are you kidding me?" bentak Christian. "saya bahkan tidak bisa berjalan karna kamu, dan sekarang kamu kesini untuk melamar kerja?"

__ADS_1


"percayalah. saya tidak tau kalau itu anda." Jeandra membentak balik.


"atau kamu tidak akan menyerang saya?" Christian terkesiap.


"tidak, saya akan tetap menyerang anda; saya tidak akan datang hari ini."


Christian mendongakkan kepalanya ke belakang dengan jijik. "are you effing kidding me?"


Jeandra bersedekap dan mengeryitkan netranya. "jadi. . . Anda berbohong."


"tentang apa?"


"anda tidak tahu ibuku dari kantor."


"saya tahu ibumu karna pekerjaan ini, dan kenapa kita jadi membicarakan ibumu?"


"kenapa anda datang ke rumah saya untuk menemui ibu saya? Kenapa tidak langsung saja datang ke kantornya?"


"pertama. . ." Christian menunjuk kursi dihadapannya. "duduk!" bentakku saat mengambil kruk dan memindahkannya. Jeandra duduk dihadapanku.


"kedua, terakhir kali saya tau, itu adalah rumah ibumu. ketiga, itu bukan urusanmu alasan saya ingin berbicara dengan ibumu. by the way pergelangan kaki saya bernar-benar rusak. Terimakasih telah bertanya."


"kau pikir ini lucu?"


"tidak, saya rasa anda berbohong. Itu benar-benar underware anda, dan anda tidak usah buang-buang waktu untuk mewawancarai saya tentang pekerjaan ini. Lagipula saya tidak tertarik."


Christian menggelengkan kepalanya. Christian tidak terkejut dengan attitude Jeandra.


Christian dan Jeandra saling menatap.


"jangan beritahu ibuku kalau saya datang kesini hari ini."


Christian mengeryitkan dahinya. "ibumu tidak tau?"


"tidak, dan saya sangat mengapresiasi jika dia tidak mengetahuinya."


"kenapa kamu tidak memberitahunya?"

__ADS_1


"saya akan memberikan kejutan jika saya diterima."


Christian menatap Jeandra saat Christian memproses kata-kata yang diucapkan Jeandra. "kenapa kamu tidak bercerita ke ibumu jika kamu menginginkan pekerjaan ini? lamaran kerja ini sudah berlangsung selama berbulan-bulan.


Netra Jeandra menatap ke karpet dibawahnya. "saya tidak ingin ibu kecewa jika saya tidak mendapatkan pekerjaan ini."


"ibumu tidak akan kecewa jika kamu tidak diterima, saya tau itu adalah fakta."


Rahangnya terkunci keras saat Jeandra menatap karpet.


"kenapa kamu menginginkan pekerjaan ini?" tanya Christian


"saya ingin mempelajari apa yang harus dilakukan dan mengambil alih perusahaan Media Anderson." Jeandra terdiam sejenak. "jadi, ibu saya tidak perlu bekerja terlalu keras."


Christian menatap Jeandra.


"Dia sudah melakukan cukup banyak hal." Jeandra menggesekkan sepatunya ke karpet. "saya tidak ingin dia khawatir lagi."


Hati Christian terenyuh. "kamu pikir kamu harus melindungi ibumu?"


"saya tidak berpikir; saya tau itu." Jeandra berdiri. "tidak apa." Jeandra menghembuskan nafasnya dalam-dalam. "saya tidak akan membuang waktu anda."


dia benar; dia harus melindungi ibunya. Clara layak dilindungi. Aku memperhatikannya sejenak, dan aku harus mengakui, tapi anehnya aku terkesan dengan kesetiaannya pada Clara.


"maaf mengenai pergelangan kaki anda." Kata Jeandra.


"benarkah?"


"tidak." Jean menatap Chris. "jangan bilang anda tidak akan melakukan hal yang sama jika anda menemukan underware seseorany di tas ibu anda."


"tidak, sebenarnya aku tidak akan melakukannya." gumamku datar. "karena. . . Saya tidak psychotic."


Jeandra memutarkan bola matanya. "whatever." Jeandra berjalan ke arah pintu.


"orang yang diwawancarai biasanya berjabat tangan." Christian memanggilnya.


"tidak kali ini." Jeandra berbalik dan pergi. Pintu berbunyi "klik" pelan di belakangnya.

__ADS_1


Christian menatap pintu yang telah dilewati Jeandra sesaat yang lalu. Dan kemudian Christian memanggil Nadya melalui interkom. "Nadya, tolong untuk kirim kandidat yang selanjutnya ya."


"baiklah."


__ADS_2