CEO DAN JANDA 2 ANAK

CEO DAN JANDA 2 ANAK
23


__ADS_3

CLARA POV


Patrick berbaring di tempat tidurku ketika aku melipat cucian dan menumpuknya di sekelilingnya. "baca kalimat itu lagi, Paddy."


"The house was in the ha . . . ha . . . " Paddy mengeryitkan dahi saat berkonsentrasi.


"sebutkanlah," aku mengingatkannya


"Ha-wai-i"


"yes, pintar sekali kamu sayang."


Patrick tersenyum bangga dan terus membaca. Patrick di diagnosis disleksia tahun ini. Dan jujur saja, ketika Patrick di diagnosis disleksia, itu sangat melegakan hatiku. Gurunya tidak mengetahui alasan Patrick tidak bisa membaca dan beberapa tugas dari sekolahnya sangat berat untuk dikerjakan. Akhirnya, saya membawa Patrick ke terapis dan terapis tersebut yang menemukannya.


"All al . . ." Paddy mengeryit. "Long," dia melanjutkan.


Jeandra masuk ke kamar, dia berusaha tersenyum.


"apa?" aku bertanya sambil melipat.


"aku memutuskan untuk menunda masuk kuliah."


Aku melempar handuk yang baru dilipat ke atas tumpukan. "itu tidak akan terjadi."


"ya itu bisa terjadi. umurku delapan belas bulan depan, Mom. Aku bisa melakukan apapun yang aku suka."


"Jeandra Anderson, kamu terlalu pintar untuk tidak melakukan apapun selama setahun. Mommy bahkan tidak ingin membicarakan hal ini denganmu."


"aku keterima magang."

__ADS_1


aku terkejut. "apa maksudnya?"


"aku melamar kerjaan itu enam bulan yang lalu dan berhasil sampai tiga kandidat terakhir."


"apa?" aku menatapnya. "kenapa kamu ga cerita sama mommy?"


"aku tidak ingin mommy terlalu berharap."


Aku tersenyum dan menyentuk wajahnya dengan kedua tanganku. "Jean, kapan kamu akan berhenti mengkhawatirkan mommy?" aku melanjutkan melipat cucian. "jadi, kapan wawancaranya?"


"aku sudah melakukannya."


"apa? Kapan?" Clara terkejut lagi


"hari Rabu, di Jakarya"


Aku menatap anakku. "bagaimana kamu melakukannya tanpa ketauan mommy?"


Aku merasa bingung mendengarkan penjelasan Jean. "apa maksud kamu?"


"aku magang di perusahaan media Miles."


"kamu dapat magang di perusahaan media miles?" Clara terkesiap.


"yep." Jean tersenyum bangga. "Christian Miles adalah bos aku."


Clara membulatkan matanya. "apaa?! Tidak," Clara membentak. "kamu tidak bisa kerja dengannya." aku melempar handuk ke tumpukkan dengan paksa. "lupakan itu!"


"mom, mereka adalah perusahaan media terbaik disini. Ini sesuatu yang besar bagiku untuk mendapatkan kesempatan ini. banyak orang yang melamar ke perusahaan itu."

__ADS_1


"kamu mencoba memasukkan underware ke mulutnya, Jeandra," aku meringis. "bagaimana kamu bisa masuk ke kantor itu dan merasa tidak malu pada diri sendiri?"


"it's okay, aku sudah minta maaf, kan?"


"No, tidak okay, dan tidak akan pernah okay. Itu hal yang paling memalukan yang pernah mommy lihat. Kamu enggak boleh kerja disana. Mommy melarang kamu kerja disana."


"aku akan bekerja disana!" bentak Jean. "Mommy enggak bisa menghentikanku."


"Mommy bisa dan akan melarangmu."


"Aku bisa belajar dari orang yang terbaik. Aku ingib mengelola perusahaan Papi suatu hari nanti; mereka akan mengajarkanku caranya."


"semua yang akan mereka ajarkan ke kamu adalah cara-cara yang kejam, Jeandra."


"dan itulah yang ingin aku pelajari."


Aku melototi Jeandra. "kamu telpon Christian Miles sekarang dan memintanya untuk tetap melakukan pekerjaannya dan enggak usah mengganggu kita." aku sangat marah pada Chris karna melakukan hal ini tanpa sepengetahuanku.


Harusnya dia menelponku memberitahu wawancara itu.


Semenjak dia bertemu dengan anak-anakku, aku tidak mendapatkan kabar apapun dari dia. Bukannya aku menginginkannya, tapi bagaimanapun itulah prinsipnya. Dan sekarang, Chris tidak menghubungiku tapi dia menawarkan pekerjaan ke anakku sebagai alasan buruk karna dia seorang pengecut yang benci anak-anak? Dia begitu seksi dihadapanku dan datang ke rumah, dan setelah bertemu dengam anak-anakku. . . Boom. Dingin seperti es.


Pria tampan yang kutemui di Prancis bukanlah pria dingin yang tinggal di Jakarya. Dia berbeda. Pria yang di Prancis aku kagumi, Pria yang di Jakarya aku benci.


Aku tidak ingin Chris dekat dengan Jeandra, dan aku tidak menginginkan Jeandra belajar etika berbisnis dari dia.


Aku melipat handuk dengan paksa. Lagipula, Aku tidak peduli dengan Christian. Bukannya aku menginginkan sesuatu, tapi dia jelas-jelas melemahkan egoku. Aku tau dia sangat cerdas, dan aku tau Papinya Jean akan mendukung ini. Tapi Christian orang yang dingin dan penuh perhitungan dalam duina bisnis. Aku tidak ingin posisi pertama Jeandra bersama Christian. Jeandra sangat mudah dipengaruhi, dan saya tidak ingin Jean berpikir bahwa Perusahaan Christian yang kejam itu normal. Aku melihat bencana akan datang.


"aku mulai kerja hari senin." bentak Jeandra.

__ADS_1


"over my de4d body."


__ADS_2