CEO DAN JANDA 2 ANAK

CEO DAN JANDA 2 ANAK
19


__ADS_3

"jika disini yang tidak layak sebagai pasangan itu, kamu Clara." ucap Christian dengan amarah.


Clara menyilangkan kedua tangan di dadanya dan melihat Christian yang mulai mondar mandir, kesal dan marah karena penolakan Clara.


"kamu, Clara Anderson. . . Terlalu tua untukku."


"aku tahu itu."


"dan kamu" — Christian menunjukku —"terlalu punya banyak anak."


"kamu benar."


"dan aku ga begitu suka dengan anak-anak. Apalagi kalau mereka bukan anak kandungku."


aku mengulurkan tangaku lebar-lebar. "seperti yang sudah kukatakan."


"dan aku tidak ingin bersama seseorang yang tidak bisa spontan melakukan sesuatu."


"bagus, kamu seharusnya tidak bersama dengan orang itu." Clara tersenyum


"jangan merendahkan, Anderson."


Clara memutarkan kedua bola matanya. "apa kamu sudah selesai bicara?"


"tidak, aku belum selesai." Christian kesal. "kamu membuatku kesal."


"iya, aku tau itu."


"stop it."


Clara membawa tubuh Christian kepelukkannya dan gerakkan jariku ke rambut hitamnya. netra Christian yang besar dan berwarna coklat itu mencari netra Clara dan Christian meletakkan kedua tangannya di pinggang Clara. "kamu benar-benar pria tampan, Chris." Clara berbisik.


Christian menarikku lebih dekat.


"kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik." Clara mengecup bibit Christian sambil memainkan jemarinya di janggut halusnya Christian. "aku bukan dia. Maafkan aku. Aku harap akulah orangnya. Sungguh. Kita berada di fase yang berbeda. Kamu, seseorang yang baru mau memulai dengan menikahi seseorang dan memiliki anak, sedangkan aku sudah selesai dengan itu."


"berhenti bicara."


"kita berdua tau, hubungan ini tidak bisa melangkah lebih jauh. Aku bukan tipe orang yang suka dengan hubungan casual, tapi kamu suka. sekarang, kamu harus pergi." kata Clara.


Christian menatapku sejenak. "kamu benar serius dengan semua ini?"


"iya."


"kamu tidak ingin bertemu lagi dengan aku?" Christian mengeryitkan dahinya.


"tidak."


Mulut Christian terbuka lebar. Christian sangat kaget dengan jawaban Clara. "tapi kita memiliki akhir pekan terbaik."


"aku tahu. Ini sangat menyebalkan bahwa kamu seorang player." Clara mendorong Christian ke arah pintu. "sekarang, aku akan bekerja."


"ini hal terbodoh yang pernah kamu lakukan." Christian menyeringai.


Clara tertawa dan tetap mendorong Christian keluar dari ruangan Clara.


Clara dan Christian berada diambang pintu ruangan, dan Christian kembali menghadapku. Kami bertatapan sejenak. Christian memojokkanku ke pintu dan membisikkan ke telingaku. "coba tebak, Anderson?" bisik Christian


"apa?" jawab Clara.


"kita belum selesai. . . Sampai. . . Aku bilang selesai."


****************


Perjalanan menuju rumah dari kantor biasanya terasa lama.. Tapi untuk kali ini, tidak.


Setiap hari di minggu ini aku selalu membayangkan Christian selama perjalanan pulang dari kantor.

__ADS_1


Memikirkan hal-hal lucu yang Christian ucapkan. Tempat-tempat yang kami kunjungi ketika di Paris. Christian berbicara bahasa Prancis. Caranya menyentuhku begitupun sebaliknya ....


Ketika aku melihatnya di hari senin lalu. Aku menjadi kurang fokus. Aku bersyukur karna telah menghabiskan waktu bersama kala itu.


sesampainya di depan rumah. Clara melihat rumahnya dan menghela nafas. Rumahnya kini sangat berantakan. Sepeda, skateboard dan sepatu berserakan dimana-mana.


Ugh...


Clara membawa seluruh barang-barangnya dan masuk ke dalam rumah. Dan Jeandra keluar dari dapur. "apa ini?" kata Jean sambil mengangkat tangannya ke udara.


"huh?" Clara melirik ke arah Harry dan juga Patrick. Mereka berdua terlihat sangat ketakutan.


"apa iniii?" Tanya Jean. Clara bisa melihat ada sesuatu di tangan Jean tapi Clara tidak tau itu apa..


"apa yang kamu katakan, Jean?" Clara mengeryitkan dahinya.


"Celana siapa ini yang aku temukan di koper mommy?" teriak Jean sambil memutarkan celana itu di jarinya.


Mataku membulat


Oh, shut


"iya, mom. Siapa yang meninggalkan underwarenya di koper mommy, dan apa yang sebenarnya mommu lakukan di Paris?" kata Jean


mulut Clara menganga.. "jaga bicaramu ya Jean. Beraninya kamu?! mengapa kamu membuka-buka koper mommy?! Kamu mommy hukum!"


"mommy aku hukum." kata Jean. "apa yang mommy lakukan di Paris?"


Clara mengerutkan dahinya dan mencoba untuk ambil underware yang dipegang Jean tapi Jean menjauhkannya dari Clara.


"apa mommy benar pergi ke Paris, atau itu hanya sebuah kebohongan?"


Clara menganga... "kamu . . . " Clara berhenti sebelum mengumpat Jean. "beraninya kamu!"


"oh, aku berani. Siapa dia?" teriak Jean. "aku akan membvnhnya dengan tanganku sendiri."


"aku benar-benar serius." teriak Jean. "aku mau tau namanya."


Aku mencubit pangkal hidungku. . . Tuhan . . . Aku tidak butuh omong kosong ini.


****************


CHRISTIAN POV


Aku berhentikan mobilku dan mengerutkan dahi saat aku melihat sebuah rumah yang ada dihadapanku. Ini tidak mungkin. Aku mencari alamat yang Gina temukan untukku. Dan aku mengerutkan dahi. Ini benar alamatnya.


Huh?


Terdapat sepeda dan yang lainnya di seluruh halaman depan. aku duduk di dalam mobil sejenak dam menatap tempat yang seperti barang rongsokan ini.


Tidak mungkin Clara tinggal disini.


Aku tidak akan menyerah. Hubungan kami belum selesai sampai aku sendiri yang bilang selesai.


Oh. . Hanya satu cara yang bisa dilakukan untuk mengetahuinya. Akupun keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju pintu rumahnya. Ada lima sepeda yang berserakan di depan rumah, bersama dengan bola basket dan sarung tangan baseball. Aku melihat sekeliling, ada banyak sepatu berserakan. apa ada kelabang yang tinggal disini atau bagaimana?


Clara punya berapa banyak anak?


Aku mengintip melalui jendela rumah. Aku bisa mendengar teriakan dari dapur.


Ini aneh.


Kemudian aku mengetuk pintu rumah Clara.


"halo?" kata Christian


Aku mendengar suara Clara. "sudah cukup Jean," Clara membentak. "mommy tidak akan membicarakan ini lagi dengan kamu."

__ADS_1


Huh?


"halo?" Christian memanggil lagi.


"hello," kata anak laki-laki ketika ia muncul di hadapanku.


Aku melihat ke arah anak laki-laki itu. Dia masih kecil dan mempunyai rambut yang hitam. "apa benar ini rumah Anderson?" tanya Christian.


"iya."


aku mengerutkan dahi. What the f! — Clara tinggal disini?


"ap a a ... Clara Anderson ada?"


"iya.. Itu mommy aku." dia mengayunkan tangannya dari sisi ke sisi saat dia menatapku, sama sekali tidak mengerti.


Aku menunggunya untuk pergi dan memanggil Clara. Ketika dia tidak melakukan itu, Aku bertanya. "um. . Saya minta tolong, bisakah kamu memanggilnya?" what the heck, kid?


"yeah., oke." dia berjalan ke dalam, dan aku berdiri di pintu. . . Kegelisahan mulai memenuhi diriku. Ini ide yang buruk.


anak lainnya tiba di depan pintu. Dia memiliki rambut sedikit keriting dan berwarna terang. dan dia menatapku.. "siapa anda?"


"Christian." aku tersenyum


"apa yang anda inginkan?"


astagaa.. Aku mengeryitkan dahi. . . Anak-anak ini tidak sopan. "saya disini ingin bertemu dengan ibumu."


"pergilah." dia menutup pintu tepat di muka ku.


Aku mengeryitkan dahi dan mundur beberapa langkah. . . Apa?


Aku menunggu dia untuk membuka pintunya. Tapi dia tidak melakukan itu. Okay. . . Apa yang baru saja terjadi?


"Harry." aku mendengar suara Clara. "Jangan begitu, itu tidak sopan." Clara membuka pintu dengan tergesa-gesa, dan membuat Clara membulatkan matanya saat melihat aku.


"Christian," Clara berbisik saat dia keluar dan menutup pintunya. "ini waktu yang tidak tepat, kamu harus pergi." bisik Clara.


Aku bisa merasakan ada sesuatu yang salah dengan Clara.


"apa? Kenapa?" Christian juga ikut berbisik


Pintu depan terbuka. "apa dia orangnya?" teriak seorang remaja yang bertubuh cukup besar.


Clara menundukkan wajahnya, dan aku mengeryitkan dahi kebingungan saat aku menatap Clara dan anak bertubuh besar itu. "Huh?"


"itu artinya iya." dia menggeram. Dia mengalihkan perhatiannya kepadaku. "kau!" teriak anak bertubuh besar itu. Pembuluh darahnya mencuat dari lehernya karena amarahnya. Apa-apaan ini? Dia tampak seperti Hulk.


"kau!" dia berteriak lagi sekencang-kencangnya. "aku akan membvnhmu dengan tanganku sendiri."


Netraku membelalak ngeri, aku mundur dan berdiri di atas sesuatu — sebuah skateboard. Skateboard itu menggelinding dari kakiku. Dan pergelangan kaki ku terkilir, posisi tubuhku mundur saat terjatuh. lalu aku terjatuh dari enam anak tangga. "Aaaahhhh!" teriak ku saat aku menyentuh tanah dengan bunyi "gedebuk".


Clara berlari menuruni anak tangga dan menghampiriku. " ya Tuhan, Christian."


Ouch . . . Rasa sakit yang membakar pergelangan kakiku.


Anak yang seperti hulk itu berlari menuruni anak tangga dan mulai mencambukku dengan sesuatu ke kepalaku. "jangan dekati ibu ku." dia terus mencambukku. "Jangan. Dekati. Ibu ku." dia mencambukku lagi dan lagi


"apa yang kau lakukan?" kataku saat aku mencoba melindungi diri dari cambukkannya.


"Jeandra!" teriak Clara. "Cepat masuk ke dalam, Sekarang."


Dia mengangkat sesuatu ke wajahku. "Apakah ini underware anda?" dia menyeringai.


Christian membulatkan netranya. oh, sialan sekali.


"benarkah?" dia bertanya lagi. Dia mengangkatnya lagi ke wajahku, dan ketika aku tidak menjawabnya, dia menjadi marah dan mulai mencekikku dengan itu dia mencoba untuk memasukkan underware itu ke dalam mulutku.

__ADS_1


Christian meronta-ronta di tanah berjuang untuk bertahan hidup. "Clara!" Christian berteriak. "what the actual fvck?" Christianpun mengumpat.


__ADS_2