
Kami berjalan keluar menuju bagian imigrasi di bandara setelah berjam jam perjalanan dari Paris ke Jakarta. Christian membawa kedua koper kami. Satu orang wanita yang memberikan stampel di paspor menandakan bahwa kami diizinkan untuk kembali ke tanah air.
"dimana kamu parkir?" tanya Christian
"disebelah sana.." tunjuk Clara
"okay, aku akan menyimpan barangku terlebih dahulu di mobil, setelah itu aku akan mengantarmu ke mobilmu." ucap Christian
"kamu ga perlu mengantarkanku" ucap Clara
"tidak apa, aku mau mengantarkanmu." kata Christian
Christian dan Clara berjalan melalui pintu utama. Christian berjalan kearah kirinya dan berhenti pada satu buah mobil limo yang sudah menunggunya. Supir mobil limo itu keluar..
"selamat datang, pak Chris." ucap Tony supir mobil tersebut.
Clara behenti dan terdiam ditempat, kaget melihat Christian memiliki mobil limo ini.
"makasih pak, oh iya ini Clara." Christian mengenalkanku kepada supirnya.. "Clara ini pak Tony."
"halo.." ucap Tony
Clara memberikan lambaian tangannya ke Tony
Tony kemudian membawa koper Christian dan menyimpannya di mobil.
Christian mengaitkan tangannya ke tanganku, kemudian mengantarkanku ke tempat mobilku terparkir.
"aku bisa membawa koperku sendiri, Chris.." ucap Clara
"tolong izinkan aku bersikap seperti gentleman." ucap Christian sambil berjalan
"kamu punya mobil limo?" tanya Clara
Christian mengangkat kedua bahunya "perusahaanku punya banyak mobil salah satunya mobil limo, jadi itu bukan mobil pribadi aku." jawab Christian
Aku dan Christian berjalan sebentar, dan aku mulai merasa cemas. Aku tidak menginginkan Christian pergi, tapi aku harus membiarkannya pergi.
Christian Miles adalah seorang pria yang tampan, cerdas. Dia bisa membuatku tertawa, hal itu bukan sesuatu yang mudah. Dia membuatku merasa seperti aku adalah wanita yang paling cantik di dunia ini. Tidak pernah aku merasakan insecure tentang tubuhku. Dia terus menerus merangkulku, mengaitkan tangannya ke tanganku, mengecupku. Dia mendengarkan ceritaku, selalu memberikanku percakapan yang menyenangkan. Aku rasa kami banyak berbicara weekend ini. Tidak pernah aku merasa seperti aku terpaksa atau tidak nyaman. Aku merasakan kenyamanan ini bersama Christian.
Dia pergi
Aku menghembuskan napas saat kenyataan mulai meresap ke dalam tulang-tulangku. Pria yang pergi bersamaku sebenarnya tidak ada. Dia hanyalah sebagian kecil dari Christian Miles. Sayangnya, naluriku berkata aku harus melepaskannya, meskipun kami menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama.
Ini berakhir disini.
__ADS_1
Aku bahkan tidak bisa membayangkan bisa bersama orang seperti Christian dalam jangka waktu yang panjang.
"ini mobilku." aku tersenyum ketika kami sampai di mobilku.
Aku membuka bagasi mobil, dan Christian memasukkan koperku ke dalamnya.
Sekarang rasanya canggung . . . Seperti terpaksa
"terimakasih banyak ya Christian untuk weekend yang menyenangkan itu." aku tersenyum
Christian membawa tubuhku kepelukannya. "apa kamu yakin ga mau ikut bersamaku? Ini sudah larut malam."
Aku memberikan rasa sedih pada senyumanku. "aku harus pulang untuk anak-anakku.."
Christian menganggukan kepalanya dan menghela nafas.
kami menatap satu sama lain, seperti ada hal yang ingin disampaikan tapi kami tidak bisa mengatakannya.
"selamat tinggal."
Christian mengecup bibirku, kedua tangan Christian memegang kedua pipiku. "kabari aku ketika kamu sampai rumah ya supaya aku tau kamu sampai dengan selamat."
"okay.." aku tersenyum
Dengan satu pelukan dan kecupan lagi, Christian melepaskanku, dan aku menaiki mobil.
Satu jam kemudian aku tiba di halaman rumah. Akupun memarkirkan mobil di halaman rumah.
Aku duduk terdiam dan melihatnya sejenak. Ada sepeda di teras dan bola basket tertinggal di tanah dekat ring. Sepatu berantakan dimana-mana. Tidak peduli berapa kali aku meminta anak-anakku untuk selalu membereskan semuanya setelah digunakan, tapi tetap saja selalu begini.
Aku tersenyum melihat semuanya.. Aku pulang
Aku ambil ponsel kemudian memberikan pesan singkat ke Christian
...Aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Xoxox...
aku keluar dari mobil dan pintu depan rumahku terbuka. Patrick dan Harry berlari keluar.
"halo" akupun tertawa. Mereka hampir membuatku terjatuh ketika mereka berdua memelukku.
"halo, sayang-sayangnya mommy, mommy kangen banget sama kalian." aku cuddle dengan mereka berdua.
"apa mommy bawa oleh-oleh untukku?" tanya Patrick
"iyaa bawa. halo, mommy.." mintaku ke Patrick
__ADS_1
"halo, mommy" Patrick mengulanginya.
aku mengambil koper yang ada di dalam bagasi. Harry mengambilnya dariku dan mulai membawanya ke dalam.
"biarkan aku yang membawa koper mommy." minta Patrick.
"tidak." jawab Harry. "kamu terlalu kecil."
"aku ga terlalu kecil!!!" Patrick meneriaki Harry sambil mengayunkan tinjuan ke kakaknya
Harrh mendorong Patrick hingga Patrick terjatuh. "Ow, mom. Harry mendorong akuuu!" teriak Patrick
Aku memutarkan kedua bola mataku. Aku tidak merindukan pertengkaran mereka. "sshhh, ini udah malam" bisikku. "pakai suara yang kecil dan biasa saja. Kasian nanti tetangga kita pada bangun."
Kembali ke realita yang sesungguhnya melihat pertengakaran anak-anakku.
Senin pagi dan aku berjalan memasuki kantor. Aku nyaris tidak bisa menghentikan senyumanku dari wajahku.
"well.. Hello youuu..." Angel tersenyjm sambil melihatku dari ujung rambut sampai ujung kaki. "look at you, terlihat lebih glowing?"
Aku membawa tubuh Angel kepelukkanku. "makasih ya sudah memaksa gue untuk pergi. Lu benar banget, gue membutuhkan itu."
"lu suka?" Angel mengerutkan dahinya, kaget
"suka banget, gue bahkan udah booking untuk tahun depan."
"yeeess." Angel mengepalkan tangannya kesenangan. "gue tau lu bakal suka sama hal hal motivasi gituuu."
"siapa yang tauu?" aku tersenyum dan berjalan melewati Angel, memasuki ruanganku dan duduk.
"lu mau kopi?" tanya Angel melalui saluran telepon
"ummm. . . " aku mengerutkan dahiku sambil mencari ponsel di dalam tas
"lu pasti membutuhkannya. Lu punya banyak email yang harus dijawab."
Aku memutarkan bola mataku "yeah, oke deh, makasih ya."
aku menyambungkan kabel charger ke ponsel, dan layar ponselku menyala.
...5 panggilan tak terjawab, Christian...
Oh, tidak. Kapan dia menelponku? Aku scroll layar ponselku, ternyata Christian menelponku semalam.
Hmmm, aku sangat lelah setelah sampai rumah dan aku bahkan tidak mengecek ponselku.
__ADS_1
Aku ubah ponselku menjadi mode senyap, dan menyimpannya. Menyalakan komputerku. Aku tersenyum lebar. Sejujurnya aku merasa seperti aku tidak berada disini selama sebulan. jadi memiliki vibes yang baru setelah pulang dari Paris.